Abu Bakar Ash Shidiiq Simbol Kesetiaan dan Pengorbanan Dalam Islam

Iklan Semua Halaman

Abu Bakar Ash Shidiiq Simbol Kesetiaan dan Pengorbanan Dalam Islam

Admin
Kamis, 12 Desember 2019

Suatu hari, kurang lebih 38 sahabat Nabi berkumpul. Abu Bakar mendekat kepada Rasulullah. Rasulullah SAW berkata, “Wahai Abu Bakar, kita masih sedikit." Abu Bakar terus mengikuti Rasul, hingga beliau muncul di depan orang banyak, termasuk orang-orang musyrik. Orang-orang Islam berpencar ke sudut-sudut masjid bergabung dengan famili masing-masing.

Ketika Nabi duduk, Abu Bakar berdiri untuk berkhutbah. Isinya mengajak orang masuk Islam. Pada permulaan da'wah Islam, ini khutbah pertama yang dilakukan di hadapan orang-orang musyrik. Khutbah Abu Bakar itu membuat kaum musyrikin mengamuk. Abu Bakar dan orang-orang Islam yang ada di sana dipukuli habis-habisan sampai babak belur. Abu Bakar jadi sasaran utama. Beliau diterjang bertubi-tubi oleh Utbah bin Rabi'ah dengan kedua sepatunya yang terbuat dari kulit.

Abu Bakar berlumuran darah. Wajahnya jadi tak jelas. Kemudian datanglah Banu Taim (kaumnya Abu Bakar) melerai kejadian itu. Mereka membawa Abu Bakar pulang dengan diselimuti kain. Kemudian Banu Taim ini kembali ke masjid dan mengatakan, “Demi Allah, jika Abu Bakar mati, pasti Utbah bin Rabi’ah kami bunuh.”

Mereka kembali menemui Abu Bakar. Mereka baru dapat bicara dengan Abu Bakar tengah hari.

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah?” kata Abu Bakar. Mereka hanya geleng-geleng kepala. Lalu mereka berdiri.

“Rawatlah dia. Beri dia makan atau minum,” katanya kepada ibu Abu Bakar, Ummu al-Khair. Ummu al-Khair mendekat pada Abu Bakar.

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah?” kata Abu Bakar kepada ibunya

“Saya tidak tahu dengan apa yang terjadi pada sahabatmu itu.”

“Pergilah ibu ke rumah Ummu Jamil dan tanyakan padanya tentang Muhammad,” kata Abu Bakar lagi.

Ummu al-Khair pergi menemui ummu Jamil, dan berkata padanya, “Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdullah.

“Saya tidak kenal Abu Bakar dan Muhammad. Jika engaku mau bawalah saya menemui anakmu,” jawab ummu Jamil.

Mereka berdua menemui Abu Bakar. Mereka mendapati Abu Bakar tengah merintih kesakitan. Melihat hal itu Ummu Jamil berkata, “Ini pasti perbuatan kaum fasiq dan kufur. Saya harap Allah akan menindak mereka untuk engkau.”

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah?” kata Abu Bakar.

“Ini ibumu mendengar,” ini ibumu mendengar.

“Itu bukan urusanmu,” kata Abu Bakar.

“Muhammad selamat dan sehat,” Ummu Jamil menjelaskan.

“Dimana beliau sekarang?”

“Dia ada di rumah Arqam bin Abi Arqam.

“Kalau begitu,” kata Abu Bakar, “demi Allah. Saya tidak akan makan dan minum seteguk air pun sampai mati, atau saya dibawa menemui Rasulullah.”

Tak ada jalan lain, kecuali kedua orang wanita itu memapah Abu Bakar menemui Rasulullah. Sesampainya di depan Rasulullah, Abu Bakar di peluk dan diciumnya. Hal serupa dilakukan pula oleh sahabat yang hadir. Rasulullah amat prihatin melihat keadaan Abu Bakar. Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah, demi ibu dan ayahku, bagi saya tidak ada masalah tentang wajah saya yang telah dicederai orang-orang itu. Inilah ibu saya yang telah berbuat baik terhadap anaknya. Engkau pemberi berkat ya Rasulullah, karena itu doakanlah dan ajaklah ia pada Allah.”

Rasulullah mendoakan ibu Abu' Bakar selamat dari sentuhan neraka dan mengaj arkannya masuk Islam. Alhamdulillah, Ummu al-Khair masuk Islam. (al-Hafz'zh Abu Hasan al-Trabusy meriwayat hadits dari Aisyah ra).

Teladan

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pribadi Abu Bakar, antara lain mahabbahnya kepada Rasulullah, kesabarannya yang luar biasa dan keihlasannya menerima cobaan.

Namun yang lebih menonjol adalah kesetiaannya kepada Rasulullah. Dalam keadaan kritis, beliau tidak memikirkan keselamatan dirinya. Tapi, masih saja ingin memastikan keadaan sahabatnya itu.

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah” adalah kata-kata yang selalu diulanginya di hadapan orang-orang yang menjenguknya. Untuk memastikan itu saja, beliau bersumpah tidak makan dan minum, sebelum melihat Rasulullah dengan mata kepala sendiri. Padahal,. beliau sudah diberi tahu bahwa Rasulullah selamat dan sehat dalam peristiwa itu.

Kesetiaan Abu Bakar menunjukkan jiwanya yang juga suci, serasi bersahabat dengan Muhammad sebelum jadi nabi. Beliau menyatakan Islam, menyatakan cinta pada Rasulullah, bersumpah menebus diri Rasulullah dengan ibunya jika itu diperlukan, melaksanakan semua perintah Nabi, semuanya terwujud dalam kesetiaan yang tiada bandingnya.

Setia dalam Da'wah

Abu Bakar adalah orang pertama dari kalangan laki-laki dewasa yang masuk Islam. Sejakkeislamannya, beliau langsung terlibat dalam gerakan da'wah sirriyah fardiyah. Beliau menghasilkan beberapa tokoh terkemuka, seperti Abdur Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqas, Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Sejak itu, beliau menjadi sahabat Rasulullah dalam aktivitas da’wah dan jihad, yang juga dibuktikan dengan pengerahan segenap hartanya untuk da’wah fi sabilillah. Beliau menggunakan segala kapasitasnya, sebagai pedagang, sebagai tokoh masyarakat, sebagai orang dewasa, untuk kepentingan da’wah.

Ketika Uqbah bin Mu’th mencekik Rasulullah sampai lemas, Abu Bakarlah yang menolong beliau. Uqbah bin Mu’th dipukulnya sampai terjengkang lalu beliau menghardiknya, “Apakah kamu akan membunuh orang yang mengatakan “Rabbku adalah Allah”. Kejadian ini sekaligus menunjukkan keberanian Abu Bakar. Abu Bakarlah yang membebaskan sejumlah sahabat yang tadinya budak ketika mereka mendapat siksaan dari tuannya yang musyrik, seperti Bilal bin Rabbah.

Abu Bakar hijrah ke Habasyah sementara kedudukannya, kebaikannya pada orang Quraisy, amat tinggi. Cuma beliau tidak jadi hijrah karena ada diantara orang musyrik yang membelanya yaitu Ibnu Dughna. Ibnu Dughna mengatakan di depan para pemuka Quraisy, “Abu Bakar tidak boleh pergi atau diusir dari negeri ini. Apakah kalian akan mengusir orang yang selama ini mengadakan yang' tidak ada, menghubungkan silaturahmi, menanggung beban banyak orang, memuliakan tamu dan sebagainya?”

Setia dalam Menyertai Nabi SAW

Abu Bakar agaknya telah ditakdirkan untuk selalu menyertai Rasulullah SAW. Beliau merupakan pendamping Rasulullah dalam suka dan duka, dalam bentuk kawan atau kekerabatan sekaligus dalam perjuangan. Abu Bakar amat bahagia dengan kebersamaan beliau itu dengan Rasulullah.

Suatu hari Abu Bakar duduk bersama anak-anaknya, Aisyah dan Asma. Hari amat panas-panas. Aisyah dan Asma mengambil setumpuk dedaunan untuk melindungi ayah mereka. Saat itu terjadilah dialog berikut.

“Kenapa Ayah terlambat menyusul kawan-kawan Ayah hijrah ke Yastrib,” kata Asma

Kemudian Abu Bakar menjawab “Saya terlambat karena ucapan Rasulullah pada Ayah, “Bertahanlah dulu, saya harap Allah memberi saya izin. Karena itu, Ayah menahan diri untuk menemani Rasulullah. Ini dua kendaraan telah saya siapkan sejak empat bulan yang lalu.

“Apakah Anda ingin berhijrah bersama Rasulullah?”

“Setiap kali saya minta izin kepada beliau, Rasulullah selalu berkata, ‘Jangan terburu-buru. Semoga Allah akan memberimu seorang sahabat. Karena itu wahai anakku, kenapa aku tidak menginginkan hal itu.”

Wajah Asma jadi berseri sambil berkata, “Semoga Allah menyampaikan cita-citamu itu. Dan engkau berbahagia karenanya.”

Asma kemudian meninggalkan ayahnya dan Aisyah. Namun ia kembali dengan tiba-tiba sambil berseru,

“Ayah, Ayah! ini Rasulullah telah datang mencarimu pada saat yang belum pernah ia lakukan.”

Abu Bakar bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Rasulullah. Dan berkata “Tebusan untukmu adalah ayah ibuku, ya Rasulullah. Demi Allah, tentu engkau tidak datang ke sini saat ini, kalau tidak karena sesuatu yang penting.”

Rasulullah masuk ke rumah sahabatnya itu setelah dipersilahkan Abu Bakar dengan penuh takzim. Rasulullah duduk di atas ranjang Abu Bakar. Kemudian bersabda,

“Suruh keluar orang-orang yang ada di rumah ini!”

“Hanya ada istrimu, ya Rasulullah. Demi engkau ya Rasulullah, aku jadikan bapak dan ibuku jadi tebusan!” jawab Abu Bakar

“Saya sudah mendapat izin keluar untuk hijrah.”

“Apakah saya akan menyertaimu?”

“Ya, engkau yang akan menemaniku.”

Serta merta ketika itu air mata Abu Bakar mengalir di pipinya karena kegembiraan yang alang kepalang.

Aisyah (yang saat itu masih kecil) melirik kepada kakaknya Asma dan membisikkan sesuatu, “Apa yang membuat Ayah menangis?”

“Beliau menangis karena amat gembira. Beliau akan hijrah menemani Rasulullah.” kata Asma

“Apa ada manusia menangis karena gembira?” (ini menunjukkan bahwa Aisyah masih kecil dan lugu).

Begitulah gambaran kebahagiaan Abu Bakar, sahabat yang setia, yang sangat gembira dapat menemani Rasulullah. Kesetiaan beliau bukan sebatas menyertai, tapi kebersamaan itu merupakan kebahagiaan yang besar baginya. Faktor inilah yang mendorong beliau melaksanakan tugas berat rahasia yang berbahaya itu dengan segala senang hati.

Setia dalam Melaksanakan Perintah Rasulullah SAW

Ketika Rasulullah wafat, Umar mengamuk akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah meninggal. Abu Bakar tampil menyadarkan Umar dengan membacakan sepotong ayat.

Baca juga : Nama - nama Sahabat dan Gelarnya (julukan)

Inilah awal peran Abu Bakar menjaga stabilitas kebenaran ajaran Islam. Namun yang lebih besar dari itu ialah ketika Rasulullah telah wafat dan pimpinan umat ini telah beralih kepada Abu Bakar. Beliau meneruskan pengiriman Usamah dengan pasukannya untuk menyerang Romawi sebagaimana telah disiapkan Rasulullah sebelum berpulang ke rahmatullah.

Kebijakan ini ditentang oleh banyak sahabat, karena banyak masalah intern, seperti kasus orang-orang murtad, penolakan terhadap zakat dan munculnya nabi-nabi palsu. Tapi, kata Abu Bakar, “Apakah saya akan menghentikan apa yang direncanakan oleh Rasulullah?” Abu Bakar konsisten dengan prinsip ini.

Pasukan Usamah terus berangkat. Selain menang, mereka juga berhasil menciptakan opini bagi dunia bahwa kepergian Rasulullah tidak membawa kemunduran Islam dan Ummatnya. (AM)
Baca Juga