Koruptor, Dipotong Tangan Atau Hukuman Mati, Mana Yang Lebih Tepat Menurut Islam? -->

Iklan Semua Halaman

Koruptor, Dipotong Tangan Atau Hukuman Mati, Mana Yang Lebih Tepat Menurut Islam?

Admin
Sabtu, 25 Januari 2020

Asianmuslim.com - Dahulu, Sekalipun proses pengangkatan dan pengawasan yang diterapkan oleh para pemimpin lslam di masa keemasannya begitu sempurna, Namun tetap saja bagi orang yang berjiwa kotor terdapat kemungkinan untuk melakukan korupsi.

Karena korupsi adalah sebuah kejahatan yang merugikan orang banyak, pencuri harta rakyat, maka apa hukuman yang dijatuhkan oleh lslam kepada seorang koruptor? Apakah hukum potong tangan layaknya pencuri harta pribadi? Atau bolehkah diterapkan hukum pancung (mati), mengingat besarnya dampak tindakan kejahatan korupsi yang terkadang melebihi kejahatan pembunuhan?

Hukum Potong Tangan untuk Koruptor

Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? bolehkah dijatuhi hukuman hukuman potong tangan? Allah berfirman,


وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al Maidah: 38)

Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlaqan ayat diatas ditaqyid (dirinci) oleh hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, para ulama mensyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan orang lain, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada dikamar tidur untuk barang berharga, semisal emas uang dan barang berharga lainnya seperti garasi untuk mobil. Maka bila persyaratan ini tidak terpebuhi si pencuri tersebut tidak boleh dipotong tangannya.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman bagi pencuri buah kurma

ما أخذ في أكمامه فاحتمل فثمنه ومثله معه وما كان من الجرين ففيه القطع إذا بلغ ثمن المجن وإن أكل ولم يأخذ فليس عليه 

"Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisaiyaitu: 1/4 dinar (1,07 gr emas) (HR. Nasa'i dan lbnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).

Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.

Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor. Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan, karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Dan orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

ليس على خائن قطع

"Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya". (HR. Tirmidzi. Dihasankan Al-Albani).

Hikmah

Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri suatu hal yang sangat tidak mungkin, karena dia dapat mengambil harta orang lain yang dijaga dengan perangkat keamanan apapun. Maka tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri telah dipotong. Sedangkan orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Dan adalah merupakan suatu kecerobohan memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya.(Ibnul Qayyim, Ilamul muwaqiiin Jilid II Hal. 80)

Maka kejahatan seorang koruptor, sesungguhnya bukan saja kejahatan dia sendiri akan tetapi juga kejahatan orang yang mengangkat serta mempercayakan jabatan penting kepadanya.

Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga, akan tetapi dia dapat dijatuhi hukuman sebagai berikut:

la wajib mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakannya. Maka hartanya yang tersisa disita oleh negara dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

على اليد ما اخذت حتى تودي


"Setiap tangan yang mengambil barang Orang Iain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi beliau berkata: "Sanad hadis ini hasan').

Hukuman ta'zir. Hukuman ta'zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadappelaku sebuah kejahatan yang tidak ditentukan oleh Allah sanksinya karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al-fiqhiyah)

Sedangkan hudud. hukuman yang telah dijelaskan Allah dan rasul-Nya jenis hukuman serta persyaratannnya. seperti rajam (dilempari dengan batu sampai mati) atau 100 kali cambuk untuk orang yang berzina. 80 kali cambuk untuk orang yang menuduh orang lain berzina, 40 kali cambuk untuk orang minum khamar, potong tangan bagi pencuri. qisash (nyawa dibayar nyawa) bagi orang yang membunuh jiwa, hukuman pancung bagi orang yang murtad dan orang yang memberontak terhadap pemimptn yang bertakwa.

Oleh karena kejahatan korupsi serupa dengan mencuri akan tetapi tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya maka hukumannya berpindah menjadi ta'zir.

Jenis hukuman ta'zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri [pihak yang berwenang) untuk menentukannya, antara hukuman fisik, harta, kurungan, moril dan lain sebagainya yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan.

Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.

Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa nabi menyembur. hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dan 1/4 dinar.

Penjara

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Athan pemah hemenjarakan Dhabi bin Al Harits karena dia melakukan pencunan yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.

Denda

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal hanga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Pencuri buah kurma dipohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus menembayar dua kali lipat. (HR. Nasa'i dan lbnu Majah).

Hukuman ta'zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (simpanan)

Selain sanksi di atas, berbagai jenis hukuman lainnya yang dianggap memiliki dampak jera bagi para pelaku korupsi boleh diterapkan, seperti diberhentikan dari pekerjaan bagi koruptor harta negara dalam jumlah kecil atau diumumkan di media massa

Hukum Mati untuk Koruptor

Adapun hukum mati bagi koruptor, tidak dibolehkan dalam Islam Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث الثيب الزاني والنفس بالنفس والتارك لدينه المفارق للجماعة


"Tidak halal ditumpahkan darah ( dibunuh ) seorang muslim yang telah bersyahadat "Ia ilaha illallah dan dia bersyahadat bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dia melakukan salah satu dari 3 hal melakukan zina dan dia adalah seorang yang pernah menikah, membunuh jiwa orang lain, dan keluar dari agama Islam [ murtad ] yang memberontak terhadap pemimpin yang bertakwa". (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa tidak boleh menerapkan hukuman pancung kepada seorang muslim yang melakukan tindak kejahatan apapun, kecuali ia adalah pelaku salah satu dari tiga kejahatan yang telah disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Dan pelaku tindak korupsi tidak termasuk salah satu yang disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan juga alasan tidak boleh menerapkan hukuman mati terhadap koruptor, andaikan seorang yang mencuri harta negara dari kantor kas negara yang tidak dipercayakan kepadanya untuk mengurusinya tidak boleh dibunuh. Ia hanya boleh dijatuhi hukuman potong tangan apalagi seorang koruptor yang mengambil harta yang dipercayakan kepadanya. Wallahu a'lam.

Sumber Harta Haram Muamalat Kontemporer Ust. Erwandi Tarmidzi
Baca Juga