Apakah Sujud Sahwi Dilakukan Sebelum Salam Atau Setelahnya? -->

Iklan Semua Halaman

Apakah Sujud Sahwi Dilakukan Sebelum Salam Atau Setelahnya?

Admin
Sabtu, 22 Februari 2020

Asianmuslim.com - Setelah sebelumnya kita kupas sebab-sebab sujud sahwi, berikutnya akan kita bahas mengenai Apakah Sujud Sahwi Sebelum Salam Atau Setelahnya?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, apakah sujud sahwi dilakukan sebelum atau sesudah salam? Hal ini dikarenakan adanya beberapa hadist yang menerangkan tentang sujud sahwi. Meskipun mereka telah sepakat bahwa sujud sahwi dapat dilakukan dengan cara yang manapun. Di sini ada sembilan cara:[1]

1. Semua sujud sahwi dilakukan sebelum salam. 

Ini pendapat Abu Hurairah, Mahkul, Zuhri, Ibnu al-Musayyib, Rabii'ah, al-Auzai', al-Laits, dan ini juga pendapat madzhab Syafi'i dalam Qaul Jadidnya.

2. Semua sujud sahwi dilakukan setelah salam. 

Pendapat ini dipilih oleh Sa'd bin Abi Waqash, Ibnu Masu'd, Anas, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, yang ini diriwayatkan dari Ali dan 'Ammar, Hasan, an-Nakh'i, at-Tsauri. Dan inilah pendapat Abu Hanifah danpara pengikutnya.

3. Jika terdapat kelebihan dalam shalat –seperti terdapat penambahan satu rakaat–, maka sujud sahwi dilakukan sesudah salam. Sedangkan apabila terjadi kekurangan maka dilakukan sebelum salam. Ini adalah pendapat Imam Malik, Muzanni, Abu Tsaur, dan salah satu Pendapat dari Imam Syafi'i.

4. Dilakukan dengan apa yang diterangkan oleh hadits sesuai dengan konteksnya, namun jika tidak ada hadits khusus yang menerangkan kapan sujud sahwi yang dilakukan karena kasus tertentu, maka saat itu sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Ini adalah madzhab Imam Ahmad, Ibnu Abi Khaitsamah, dan juga Ibnu Mundzir.

5. Dilakukan sebagaimana yang diterangkan oleh hadits sesuai dengan konteksnya, namun jika tidak ada hadits khusus yang menerangkan kapan sujud sahwi yang dilakukan karena kasus tertentu, maka saat itu sujud sahwi dilakukan setelah salam jika kelebihan rakaatnya, dan dilakukan sebelum salam jika jumlah rakaatnya kurang. Pendapat ini merupakan madzhab Ishaq bin Rahawiyah

6. Sama dengan sebelumnya, hanya saja ketika tidak ada hadits khusus yang menerangkan kapan sujud sahwi yang dilakukan karena kasus tertentu, saat itu dia boleh memilih untuk melakukan sujud sahwi sebelum atau sesudah salam.

7. Yang cenderung yakin melakukan rakaat lebih sedikit, maka ia sujud sahwi sebelum salam. Dan yang memilih mana yang pantas, maka sujud sahwi setelah salam. Pendapat ini merupakan madzhab Ibnu Hibban.

8. Seseorang bebas untuk memilih melakukan sujud sahwi baik sebelum ataupun sesudah salam. pendapat ini dikisahkan dari Ali, dan juga merupakan pendapat Imam Syafi'i dalam salah satu pendapatnya, serta perkataan Imam Thabary

9. Sujud sahwi dilakukan setelah salam. Kecuali dalam dua keadaan, makaseseorang boleh memilih melakukan sebelum atau sesudah salam. Keadaan tersebut adalah; Pertama: Apabila ia berdiri dan belum duduk untuk tasyahhud awal.

Kedua: Apabila ia tidak tahu apakah ia shalat satu rakaat, tiga rakaat ataukah empat rakaat, maka ia harus berpegang kepada bilangan paling sedikit, kemudian memilih untuk melakukan sujud apakah sebelum atau sesudah salam. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Hazm, dan ulama Dzahiriyyah.

Pendapat Yang Shahih adalah yang berdasarkan kumpulan nash-nash di atas. Yaitu dengan membedakan antara sujud sahwi yang dilakukan karena kelebihan atau kekurangan rakaat, juga antara keragu-raguan tanpa kecondongan dengan keragu-raguan yang diiringi keyakinan. Ini pendapat Syaikul-Islam Ibnu Taimiyyah.[2] Ia mengatakan, Ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, begitu juga madzhab Imam Malik dekat dengan pendapat ini namun tidak seperti itu. Pendapat ini selain mampu menggabungkan antara seluruh nash yang ada, namun di sana terdapat juga alasan yang masuk akal. Yaitu:

1. Jika ada kekurangan di dalam shalat –seperti meninggalkan tasyahud awal– maka shalat diperbaiki (dilengkapi), dan pelengkapnya harus dilakukan sebelum salam agar shalatnya sempurna. Karena salam adalah penutup dari shalat.

2. Jika ada kelebihan shalat –tertambah satu rakaat misalkan– dan di dalam satu shalat tidak terkumpul dua tambahan. Maka sujud sahwi dilakukan setelah salam. Karena itu sebagai penghinaan untuk setan. Maka –satu rakaat tambahan itu– terhitung sebagai shalat tersendiri, dan sujud sahwi berfungsi untuk melengkapi kekurangannya. Karena Rasulullah menjadikan dua kali sujud sebagai satu rakaat.

3. Demikian juga jika seseorang ragu dan memilih mana yang lebih pantas, maka ia menyempurnakan shalatnya. Dan sujud sahwi dilakukan setelah salam sebagai penghinaan terhadap setan.

4. Sama halnya jika seseorang salam, namun masih ada rakaat tersisa yang belum dikerjakan, kemudian ia melengkapinya, maka dia telah menyempurnakan shalatnya. Dan salam setelah itu merupakan tambahan, lalu sujud sahwi dikerjakan setelah salam, sebagai bentuk penghinaan terhadap setan.

5. Namun jika seseorang ragu dan tidak memiliki keyakinan yang lebih kuat, dalam kondisi ini ada dua kemungkinan; baik dia telah mengerjakan empat rakaat atau lima rakaat. Dan jika ia sesungguhnya mengerjakan lima rakaat, maka sujud sahwi tersebut berfungsi untuk menggenapkan rakaatnya, agar menjadi seolah ia telah melakukan enam rakaat dan bukan lima rakaat. Dan ini dilakukan sebelum salam.

Ibnu Taimiyyah berkata, "Pendapat mengenai sujud sahwi yang kita dukung ini, ia sejatinya telah menggabungkan dari segala hadits –sujud sahwi– dan tidak ada satu pun yang ditinggalkan, disertai dengan penggunaan qiyas yang benar untuk permasalahan yang tidak ditemukan hadits berkaitan dengannya, lalu permasalahan yang tidak ada dalil tersebut, disesuaikan dengan masalah serupa yang ada dalilnya."

Jika Lupa Sujud Sahwi Dan Jaraknya Sudah Lama, Atau Wudhunya Batal, Apakah Mencukupkan Shalatnya Lalu Sujud Sahwi Atau Ia Harus Mengulangi Shalatnya?

Masalah ini dibagi dalam dua keadaan:

Jika sujud sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal. Dalam hal ini ada dua pendapat ulama:

Pertama: Shalatnya harus diulang dari awal. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Imam Ahmad.[2] Karena shalat itu merupakan satu kesatuan tidak bisa dipisah-pisah antara yang satu dengan yang lainnya, sebagaimana jika wudhu’nya batal.

Kedua: Selama wudhu’nya masih ada (belum batal), shalatnya tidak perlu diulang dan ia melakukan sujud sahwi ketika ia ingat meskipun waktunya sudah lama. Maka shalatnya yang pertama tadi masih tetap berlaku. Inilah salah satu pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu (qaul qadim) dari Imam Syafi'i, Yahya bin Sa'id al-Anshari, Imam Laits, al-Auza'i, Ibnu Hazm dan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah. Hanya saja ini khusus setelah salam.[3]

Mereka berargumen: Bahwa tenggang waktu yang lama itu tidak memiliki ukuran pasti. Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri pernah lupa, setelah itu beliau berbicara, kemudian keluar dari masjid dan pulang ke rumah, sampai di rumah baru ada yang mengingatkan, beliau lantas keluar rumah menuju masjid dan menyempurnakan kekurangannya tadi, lalu setelah itu melakukan sujud sahwi.

Selain itu, orang yang lupa –selama wudhu’nya masih ada– diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk sujud sahwi. Maka sujud sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka penebusnya (kafarah) adalah dengan menunaikan shalat tersebut ketika ia ingat.”.[4]

Penulis Berkata: pendapat kedua ini lebih kuat. Namun siapa yang ingin lebih berhati-hati dalam hal ini, maka tidak ada salahnya jika ia mengulang shalat dari awal. Wallahu A'lam.

Jika wudhu’nya batal setelah ia salam dari shalatnya yang kurang.

Jika seseorang lupa mengerjakan sujud sahwi setelah ia salam dan wudhu’nya batal, maka untuk keadaan kedua ini shalatnya batal, hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Kecuali jika sujud sahwi yang ditinggalkan adalah sujud sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaat, maka ia boleh melaksanakan sujud sahwi meskipun dalam keadaan masih berhadas (wudhu’nya batal), karena sujud dalam keadaan seperti ini adalah untuk menghinakan setan, seperti inilah yang dikatakan Ibnu Taimiyah.[5]

Penulis Berkata: ia harus wudhu terlebih dahulu setelah itu baru melakukan sujud sahwi, inilah pendapat yang lebih kuat dan selaras.

Jika Lupa Berulangkali Dalam Satu lagi

Jika seseorang lupa berulang-kali dalam satu shalat, apakah ia harus berulang-kali melakukan sujud sahwi? Menurut jumhur ulama, tidak perlu melakukan sujud sahwi berkali-kali, tetapi cukup melakukannya dengan dua kali sujud saja (maksudnya sekali sujud sahwi yang terdiri dari dua kali sujud). Karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ataupun dari para sahabat bahwa mereka mengulang-ulang sujud sahwi karena lupa yang berulang-kali. Meskipun kelupaan yang berulang-kali itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi bagi siapa saja yang shalat. [6]

Begitu juga jika memang tidak cukup dengan dua kali sujud saja, pastinya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam langsung sujud sahwi setelah lupa. Maka ketika sujud sahwi ini diakhirkan hingga akhir shalat, hal ini menunjukkan bahwa beliau sengaja mengakhirkan sujud agar menggabungkan seluruh kelupaan dalam shalat –dan ditebus dengan sekali sujud sahwi saja–.

Penulis berkata: bahwa hadits marfu' riwayat Tsauban yang berbunyi:

لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ

“Pada setiap kali lupa diwajibkan untuk melakukan dua kali sujud setelah salam.”[7] Hadist ini dhai'f, tidak sah dijadikan dalil.

Demikian penjelasan mengenai kapan waktu sujud sahwi dilakukan. Semoga bermanfaat.

Footnote:
[1] Ibnu Abidin (1/495), Al-Mabsuth (1/219), Al-Qawanin (67), Ad-Dasuqi (1/274), Raudhatut-Thalibin (1/315), Al-Majmu' (4/154), Al-Mughni (2/22), Al-Kafi (1/209), Al-Ausath (3/307), Bidayatul-Mujtahid (1/279), dan Nailul-Authar (3/132-135)
[2] Majmu' al-Fatawa (23/24-25)
[3] Al-Mabsuth (1/224), Al-Mudawwanah (1/135), Al-Majmu' (4/165) dan Al-Mughni (2/13)
[4] Al-Mudawwanah (1/135), Al-Muhalla (4/166), dan Majmu' al-Fatawa (23/32-35)
[5] Hadits Riwayat: Muslim (684), An-Nasa`i (614), dan yang serupa terdapat dalam Al-Bukhari (597).
[6] Majmu' al-Fatawa (23/36)
[7] Raddul-Mukhtar (1/497), Mawahibul-Jalil (2/15), Syarhul-Minhaj (1/204), dan Al-Mughni (2/39)
[8] Dhaif, telah ditakhrij sebelumnya
Baca Juga