Biografi Lengkap Imam Malik Bin Anas, Imam Haramain dan Penulis Kitab Muwatha' -->

Iklan Semua Halaman

Biografi Lengkap Imam Malik Bin Anas, Imam Haramain dan Penulis Kitab Muwatha'

Admin
Senin, 24 Februari 2020

Asianmuslim.com - Termasuk salah satu dari empat Imam Madzhab yang banyak diikuti pendapatnya oleh kaum Muslimin adalah Imam Malik dengan madzhabnya Maliki. Beliau termasuk Imam madzhab yang wajib kita ketahui biografinya. Dengan mengenal secara lengkap biografi Imam Malik akan mendatangkan kecintaan pada sosok 'alim yang telah diakui oleh kaum muslimin.

Dan berikut ini adalah biografi lengkap Imam Malik yang diambil dari beberapa maroji' yang bisa dipertanggungjawabkan keshohihannya.

Nama dan Nasab Imam Malik:

Beliau adalah Al-Imam Abu Abdillah Malik bin Anas bin bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin bin Amr bin Harits Dzu Ashbah bin Auf bin Malik bin Zaid bin Syaddad bin Zur’ah Himyar Al-Ashghar Al-Himyari kemudian Al-Ashbahi Al-Madani.

Ibu beliau adalah Aliyah bintu Syarik Al-Azdiyyah.

Kelahiran Beliau :

Beliau dilahirkan pada tahun 93 H di Madinah.

Sifat-sifat Beliau:

Beliau berwajah tampan, berkulit putih kemerah-merahan, berperawakan tinggi besar, berjenggot lebat, pakaiannya selalu bersih, suka berpakaian berwarna putih, jika memakai imamah sebagian diletakkan di bawah dagunya dan ujungnya diuraikan di antara kedua pundaknya. Beliau selalu memakai wangi-wangian dari misk dan yang lainnya. Beliau masyhur dengan kecerdasan, keshalihan, keluhuran jiwanya, dan kemuliaan akhlaknya.

Pertumbuhan Beliau dan Guru-guru Beliau :

Beliau menuntut ilmu ketika masih berusia belasan tahun, ketika berusia 21 tahun beliau sudah mencapai tingkatan berfatwa dan bermajelis. Banyak para ulama yang mengambil ilmu riwayat dari beliau ketika masih begitu muda.

Banyak para penuntut ilmu dari segala penjuru datang kepada beliau pada akhir daulah Abu Ja’far Al-Manshur dan bertambah banyak pada kekhilafahan Harun Ar-Rasyid hingga beliau wafat.

Beliau mengambil ilmu dari Nafi Maula Ibnu Umar, Sa’id Al-Maqburi, Amir bin Abdullah bin Zubair, Ibnul Munkadir, Az-Zuhri, Abdullah bin Dinar dan banyak lagi dari selain mereka yang jumlahnya melebihi 1400 orang.

Murid-murid Beliau:

Di antara guru-guru beliau yang mengambil riwayat dari beliau adalah paman beliau Abu Suhail bin Abi Amir, Yahya bin Abi Katsir, Az-Zuhri, Yahya bin sa’id, Yazid bin Had, Zaid bin Abi Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan selain mereka.

Di antara murid-murid beliau adalah Ma’mar bin Rasyid, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Amr bin Harits, Al-Auza’i, Syu’bah, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak, Abdul Aziz Ad-Darawardi, Ibnu Abi Zinad, Ibnu Ulayyah, Yahya bin Abi Zaidah, Abu Ishaq Al-Fazari, Muhammad bin Hasan Asy- Syaibani, Abdurrahman bin Qasim, Abdurrahman bin Mahdi, Ma’n bin Isa, Abdullah bin Wahb, Musa bin Thariq, Nu’man bin Abdussalam, Waki’ bin Jarrah, Walid bin Muslim, Yahya Al-Qaththan, dan selain mereka.

Murid beliau yang terakhir meninggal adalah perawi kitab Al-Muwaththa’ Abu Hudzafah Ahmad bin Isma’il As-Sahmi dia hidup 80 tahun sepeninggal Al-Imam Malik.

Hadits Yang Mengisyaratkan Tentang Keutamaan Beliau:

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda :

ليضربن الناس اكباد الإبل في طلب العلم فلا يجدون عالما أعلم من عالم المدينة

“ Sungguh manusia akan menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, maka mereka tidak mendapati seorang alim yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama Madinah “ (Diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubra 2/489 dan Ibnu Abi Hatim dalam Taqdimah Jarh wa Ta’dil hal. 11-12 dan berkata Adz-Dzahabi dalam Siyar 8/56 : Hadits ini sanadnya baik dan matannya gharib).

Abdurrazaq bin Hammam berkata : Kami memandang bahwa dia adalah Malik bin Anas (yaitu dalam sabda Rasulullah : “ mereka tidak mendapati seorang alim yang lebih berilmu dibandingkan dengan ulama Madinah).

Sufyan bin Uyainah berkata : Dulu aku mengatakan dia adalah Sa’id bin Musayyib kemudian sekarang aku mengatakan bahwa dia adalah Malik yang dia tidak ada bandingannya di Madinah.

Abul Mughirah Al-Makhzumi menyebutkan bahwa makna hadits di atas adalah selama kaum muslimin menuntut ilmu mereka tidak mendapati orang yang lebih berilmu daripada seorang ulama di Madinah.

Adz-Dzahabi berkata : Tidak ada di Madinah seorang ulama pun setelah tabi’in yang menyerupai Malik dalam keilmuan, fiqih, keagungan, dan hafalan.

Fiqih dan Keilmuan Beliau :

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata : Seandainya tidak ada Malik dan Sufyan maka sungguh akan hilanglah ilmu Hijaz.

Al-Imam Asy-Syafi’i juga berkata : Muhammad bin Hasan – sahabat Abu Hanifah – berkata kepadaku : Siapakah yang lebih berilmu tentang Al-Qur’an sahabat kami ( yaitu Abu Hanifah ) atau sahabat kalian ( yaitu Malik ) ?, Aku berkata : Secara adil ?, dia berkata : Ya. Aku berkata : Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah siapakah yang lebih berilmu tentang Al-Qur’an sahabat kami atau sahabat kalian ?, dia berkata : Sahabat kalian ( yaitu Malik ). Aku berkata : Siapakah yang lebih berilmu tentang Sunnah sahabat kami atau sahabat kalian ?, dia berkata : Sahabat kalian ( yaitu Malik ). Aku berkata : Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah siapakah yang lebih berilmu tentang perkataan para sahabat Rasulullah dan perkataan para ulama terdahulu ; sahabat kami atau sahabat kalian ?, dia berkata : Sahabat kalian ( yaitu Malik ). Asy-Syafi’i berkata : Maka aku berkata : Tidak tersisa sekarang kecuali qiyas, sedangkan qiyas adalah analogi pada pokok-pokok ini, orang yang tidak tahu pokok-pokok ini pada apa dia mengqiyaskan sesuatu ?.

Abu Hatim Ar-Razi berkata : Malik bin Anas adalah seorang yang tsiqah, imam penduduk Hijaz, dia adalah murid Zuhri yang terdepan, jika penduduk Hijaz menyelisihi Malik maka yang benar adalah Malik. aku mendengar Malik ditanya tentang itu dan dia memerintahkan agar menyela-nyela jari-jari kaki ketika berwudlu.

Di antara perkataan-perkataan beliau :

Al-Imam Malik berkata : Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang dungu yang menampakkan kedunguannya – meskipun dia paling banyak riwayatnya -, (2) Ahli bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, (3) Orang yang biasa berdusta ketika bicara dengan manusia – meskipun aku tidak menuduh dia berdusta dalam hadits, (4) Orang shalih yang banyak beribadah jika dia tidak hafal hadits yang dia riwayatkan.

Beliau berkata : Rasulullah dan para khalifah sesudah beliau telah membuat sunnah-sunnah, mengambil sunnah-sunnah tersebut adalah ittiba’ kepada Kitabullah, penyempurna ketaatan kepada Allah, dan kekuatan di atas agama Allah, tidak boleh bagi seorangpun mengubah dan mengganti sunnah-sunnah tersebut, dan melihat kepada sesuatu yang menyelisihinya, orang yang mengambil sunnah-sunnah tersebut maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk, orang yang meminta pertolongan dengannya maka dia akan tertolong, dan siapa yang meninggalkannya maka dia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Allah memalingkannya sebagaimana dia berpaling dan memasukkannya ke dalam Jahnnam yang merupakan sejelek-jelek tempat kembali.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata : Adalah Al-Imam Malik jika didatangi oleh sebagian ahli bid’ah dia mengatakan : Adapun aku maka berada di atas kejelasan dari agamaku, adapun kamu maka seorang yang masih ragu, pergilah kepada orang yang ragu sepertimu dan debatlah dia!.

Ja’far bin Abdullah berkata : Kami di sisi Malik, tiba-tiba datang seseorang yang berkata : “ Wahai Abu Abdillah Allah bersemayam di atas arsy, bagaimana istiwa’ itu ? “, tidaklah Malik marah dari sesuatu melebihi marahnya pada pertanyaan orang tersebut, dia melihat ke tanah dan menohoknya dengan batang kayu yang ada di tangannya hingga bercucuran keringatnya, kemudian dia mengangkat kepalnya dan membuang batang kayu tersebut seraya mengatakan: “ Kaifiyyat dari istiwa’ tidak diketahui, istiwa’ bukanlah perkara yang majhul, iman kepada istiwa’ adalah wajib, dan bertanya tentang kaifiyatnya adalah bid’ah, dan aku menduga kamu adalah seorang ahli bid’ah “, maka kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis.

Cobaan Beliau :

Ibnu Jarir berkata : “ Malik pernah dipukul dengan cambuk “, kemudian Ibnu Jarir membawakan sanadnya sampai Marwan Ath-Thathari bahwasanya Abu Ja’far Al-Manshur melarang Malik dari menyampaikan hadits : “ Tidak ada thalaq bagi orang yang dipaksa “, kemudian ada orang yang menyelundup di majelisnya menanyakan hadits tersebut hingga Malik menyampaikannya di depan manusia, maka Abu Ja’far kemudian mencambuk Malik.

Muhammad bin Umar berkata : Sesudah kejadian tersebut Malik semakin naik derajatnya di mata manusia.

Adz-Dzahabi berkata : Inilah buah dari ujian yang terpuji, akan mengangkat kedudukan seorang hamba di sisi orang-orang yang beriman.

Tulisan-tulisan Beliau :

Di antara tulisan-tulisan beliau adalah : Al-Muwaththa’ yang dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i : Tidak ada kitab dalam masalah ilmu yang yang lebih banyak benarnya dibandingkan denganMuwaththa’ Malik, Risalah fil Qadar yang dikirimkan kepada Abdullah bin Wahb, An-Nujum wa Manazilul Qomar yang diriwayatkan oleh Sahnun dari Nafi’ dari beliau, Risalah fil Aqdhiyah, Juz dalam Tafsir, Kitabus Sir, Risalah ila Laits fi Ijma’ Ahlil Madinah, dan yang lainnya.

Wafat Beliau :

Al-Imam Malik wafat di pagi hari 14 Rabi’ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 89 tahun. Semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.

Rujukan :

  • Taqdimatul Jarh Wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim hal. 11-32.
  • Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahaby 8/48-135.
Baca Juga