Mengenal Profil Induk Kitab Hadits Kutubus Sittah dan Penulisnya

Iklan Semua Halaman

Mengenal Profil Induk Kitab Hadits Kutubus Sittah dan Penulisnya

Admin
Senin, 24 Februari 2020

Asianmuslim.com - As-Sunnah atau hadits, sebagaimana telah kita yakini, merupakan dasar Tasyri' islam yang kedua setelah al-Qur'an. Agaknya, kecuali orang-orang yang telah dikunci mati hatinya, tak ada yang mengingkari kenyataan ini, mengingat kapasitasnya sebagai syarah bagi al-Qur‘an, as-Sunnah memiliki otoritas dan kapabilitas tersendiri dalam menjelaskan patokan-patokan global hukum yang tersurat dalam al-Qur‘an.

Dengan konsisten dengan keyakinan tersebut kita tentu berkesimpulan bahwa mempelajari hadits menjadi bagian penting di samping mempelajari al-Qur'an. Ini sebuah kebutuhan yang tak tertawar, agaknya, sebab sejak pasca kepemimpinan Rasulullah sendiri konsentrasi terhadap studi-studi hadits sudah dimulai oleh para pakar dan penulis dari kalangan sahabat dan tabiin. Pada periode itu maraknya studi intensif hadits ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh penting semisal Abu Hurairah, Abu Syah al-Yamani, Ibnu Abbas. Said Ibn Jubair sampai Ibnu Syihab yang berjasa besar memelopori usaha penulisan riset, pengumpulan serta peneribitan kitab-kitab hadits. Hingga akhirnya, secara umum studi hadits ditetapkan sebagai salah satu studi pokok al-Islam pada periode Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Menangkap urgensitas inilah. Dr. M.M. Abu Syihab, Sekjen Lembaga Riset Islam Universitas al-Azhar Mesir memandang penting penyusunan buku yang secara khusus mengulas sejarah penulisan hadits. Alasannya, bukan saja terletak pada vitalitas studi hadits itu sendiri, melainkan karena jarangnya buku-buku yang membahas sejarah hadits secara ringan dan simpel.

Secara khusus, seperti diulas, Dr. Abu pada awal tulisannya, hadits memiliki karakteristik yang praktis dan fleksibel dalam proses istinbath hukum syar'i. Contoh sederhana terlihat pada surat al-Baqarah ayat: 43, “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Dalam ayat ini terlihat Allah tidak secara detail merinci batasan-batasan shalat dan zakat. Mengapa? jawabnya ada pada hadits. Dalam hadits, semua batasan, kaifiat, waktu, jumlah rakaat, dan hukum-hukum shalat. diatur secara sistematis dalam metodologi yang tepat dan akurat. Tidak mengherankan bila para sahabat sangat bersungguh-sungguh dalam menjaga keasliannya. Mereka juga berupaya mempelajari situasi dan kondisi yang melatarbelakangi setiap pengucapan hadits. Dan secara berangsur-angsur dimulailah aktivitas kepenulisan dan pembukuan hadits, meski dengan metode yang masih sangat sederhana.

Pada periode tabiin, kepedulian terhadap studi hadits direalisasikan secara besar-besaran. Penulisan hadits pada masa ini dirintis pada kurun Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri dan Abu bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Dari sini lalu meluas gelombang pembukuan hadits hingga mencapai zaman keemasannya pada tahun 200-330 Hijriah. Pada masa itu tercatat nama-uama penulis hadits terkemuka seperti Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraji, Muamar bin Rasyid, Said bin Abi Urabah, Rabi bin Subaih, Hammad bin Abi Salamah dan lain-lain.

Keunikan sejarah perjalanan para imam hadits dalam mencari dan mengkaji hadits merupakan cerita tersendiri dari buku ini. Secara garis besar, seperti dipaparkan Dr. Abu pada bab-bab pertengahan, keunikan itu ditunjukkan dalam Kutubus Sittah dengan bobot ilmiahnya yang mengagumkan. Kutubus Sittah terdiri atas:

1. Al-Jami’us Sahih

Kitab ini merupakan salah satu kitab masyhur yang ditulis oleh Abu Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu al-Mugirah ibnu Bardzibah, atau lebih populer dengan sebutan Imam Bukhari. Kitab yang disusun di tiga tempat ini (konsepnya ditulis di Masjidil Haram, intepretasinya dilakukan di Rawdah, dan penyusunannya di Madinah) boleh dikata merupakan cermin dari superioritas intelektual Imam Bukhari. Bukan saja karena disusun dalam waktu enam belas tahun, melainkan karena tingkat kredibilitasnya yang tinggi. Imam Bukhari selain dikenal sebagai Amirul Mu'minin dalam ilmu hadits, juga dikenal sebagai seorang hafidz, faqih, mujtahid dan cendekiawan. Abu bakar Ibnu Khuzaimah menyebut ulama bertubuh kurus, berperawakan sedang, pemalu dan zuhud itu sebagai makhluk langka yang pernah ada di planet bumi ini.

2. Sahih Muslim

Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi, atau lebih dikenal dengan Imam Muslim, adalah imam hadits yang dikenal sangat teliti dalam mempelajari rawi, menyeleksi sanad dan membandingkan antara riwayat satu dengan riwayat lainnya, meneliti susunan lafadznya dan memberi petunjuk bila terdapat perbedaaan lafadz-lafadz itu. Ibnu Abi Hatim mengatakan, “Imam Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits dari dia Sifatnya yang luwes, teliti dan tidak fanatik terhadap diri sendiri, menjadikan shahih Muslim memiliki ciri khas tersendiri, yakni matan-matan hadits yang semakna disusun dalam satu bab, dan tidak dipisah dalam bab yang berbeda. Shahih Muslim merupakan kitab shahih hasil saringan 300.000 hadits.

3. Sunan Abu Dawud

Kalau ada imam hadits yang berpakaian dengan salah satu lengan bajunya lebar dan lainnya sempit, tak pelak dialah Sulaiman bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi as-Sijistani, atau beken disebut Imam Abu Dawud.

Ketika beliau sedang menyusun kitab Sunan. Ibralu'm al-Harbi, seorang ulama hadits, berkata, “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi telah dilunakkan untuk Nabi Dawud.” Kitab Sunan Abu Dawud disusun dengan metode jami' dan musnad, dengan jumlah hadits 4.800 buah hadist.

4. Jami' at-Tirmizi

Kitab ini ditulis oleh Abu Isa Muhammad bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmizi, seorang imam hadits yang terkenal kuat hafalannya, kesalihannya, ketaqwaannya, amanah dan ketelitiannya. Setelah menyusun kitab ini, Imam Tirmizi berkata, "Siapa yang menyimpan kitab ini dirumahnya maka di rumah itu seolah-olah ada Nabi yang selalu berbicara."

5. Sunan an-Nasa'i

Kitab ini ditulis oleh seorang imam yang memiliki wajah tampan kulitnya putih kemerahan dan suka mengenakan pakaian dengan motif bergaris buatan Yaman. Dia adalah Abu Abdur Rahman bin Ali bin Syu'aib bin Ali bin Sinan bin Bahar al-Khurasani al-Qadi, seorang imam yang abid, rajin berhaji dan giat berjihad Imam Daraqutni berkata, “Di Mesir Nasa'i adalah orang yang paling ahli di bidang fiqih dan hadits.”

6. Sunan ibnu Majah

Kitab ini adalah salah satu kitab besar yang masih beredar sampai sekarang. Disusun oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ya'zid bin Maiah ar-Rabi’i al-Qazwini. atau Imam Ibnu Majah.

Ibnu Katsir, seorang ahli hadits, dalam kitabnya Bidayah, berkata, “Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah) adalah pengarang kitab Sunan yang termasyhur. Kitab ini, merupakan bukti amal dan ilmunya yang luas.” Kitab sunan Ibnu Majah di susun dengan jumlah 4.000 hadits.

Bila dicermati, seperti disimpulkan Dr. Abu pada akhir tulisannya, sebenarnya masih banyak kitab hadits yang lain yang nilainya sama dengan Kutubus Sittah seperti al-Muwatta karya Imam malik, Ahmad Imam Ahmad bin Hanbal dan Shahih Ibnu Khuzaimah. Namun begitu, niat mulia para imam hadits menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk mencari dan menulis hadits Nabi hanya satu, yakni membimbing ummat agar hidup bersama sunnah Rasulullah, menegakan hukum-hukumNya dan membelanya dari serangan para pengkhianat, pemalsu dan orang-orang yang membenci dienul Islam.
Baca Juga