Seperti Apa Bentuk Tanah Yang Boleh Digunakan Untuk Tayamum?

Iklan Semua Halaman

Seperti Apa Bentuk Tanah Yang Boleh Digunakan Untuk Tayamum?

Admin
Selasa, 25 Februari 2020

Asianmuslim.com - Salah satu kemudahan yang di berikan oleh Alloh dalam beribadah adalah diperbolehkannya tayamum sebagai penggati wudhu atau mandi. Hal ini tidak lain adalah bukti kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya. Lalu tanah seperti apa yang bisa digunakan untuk tayamum? Mengenai tanah yang boleh digunakan tayamum Ada dua pendapat ulama dalam hal ini :

Pertama: Segala tanah yang ada di permukaan bumi, baik tanah subur, pegunungan, pasir atau debu. Ini pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf, Malik dan Ibnu Taimiyah. Ibnu Hazm juga berpendapat demikian, dengan mensyaratkan bahwa tanah tersebut -selain debu- berada di permukaan tanah. Pendapat ini berlandaskan atas dalil-dalil berikut:

Firman Allah Subhanahu wata'ala :

صَعِيدًا زَلَقًا

“Tanah yang licin” (QS. Al-Kahfi: 40)

صَعِيدًا جُرُزًا

“Tanah yang rata lagi tandus”(QS. Al-Kahfi: 8).

Yang dimaksud dengan al-juruz dalam ayat diatas adalah tanah yang tidak bisa ditumbuhi tanaman.[3]

Hadits Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam :

جُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Dijadikan bumi bagiku sebagai masjid dan untuk bersuci.”[4]

Hadits Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ على صَعِيدٍ وَاحِدٍ

“Manusia akan dikumpulkan di hari kiamat pada tanah yang satu”[5]

Maksudnya adalah pada satu tempat.

Hadits Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam:

جُعِلَتْ الْأَرْضُ كُلُّهَا لِي وَلِأُمَّتِي مَسْجِدًا وَطَهُورًا , فَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي الصَّلَاةُ فَعِنْدَهُ مَسْجِدُهُ , وَعِنْدَهُ طَهُورُهُ

“Dijadikan bumi bagiku sebagai masjid dan dalam keadaan suci, maka kapan saja seseorang dari umatku mendapati waktu shalat, maka di sanalah ia melaksanakan shalat, dan alat bersucinya.”[1]
Hadits Abu Juhaim:

أن النبي صلى الله عليه وسلم ضرب يديه على الجدار فتيمم ورد على الرجل السلام

“Bahwa Rasulullah menepukkan kedua tangannya ke dinding, lalu bertayamum dan menjawab salam orang tersebut.”[2]

Hadits Abbas radhiallahu 'anhu :

أَطْيَبُ الصَّعِيدِ الْحَرْثُ وَأَرْضُ الْحَرْثِ

“Tanah yang paling baik adalah tanah pertanian.”[3]

Kedua: Sha’id yaitu tanah dan tayamum hanya bisa dilakukan dengan itu saja. Ini pendapat mazhab Syafii, Hanbali, Abu Tsaur dan Ibnu Mundzir.[4] Mereka berdalil dengan:

Tambahan redaksi pada hadits berikut:

وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا، وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا

"Telah dijadikan bagi kita bumi sebagai masjid, dan debunya sebagai alat bersuci.”[5]

Mereka berpendapat, riwayat ini dikhususkan untuk hadits ‘Telah dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat untuk bersuci’.

Riwayat dari nabi Shallallahu 'alaihi wasallam

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ : نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ ، وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الْأَرْضِ ، وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ ، وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا ، وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الْأُمَمِ

“Aku telah di beri apa yang tidak diberikan kepada para nabi Allah sebelumnya. Aku di beri kemenangan di waktu ketakutan, aku di beri kunci pembuka dunia, aku di namai Ahmad, dan dijadikan bagiku tanah untuk bersuci, dan umatku dijadikan sebagai sebaik-baik umat.”[1]

Penulis berkata: Pendapat yang rajih adalah pendapat yang pertama, yaitu bahwa boleh bertayamum dengan semua hal yang disebut dengan tanah, atau segala hal yang membawanya, seperti debu dan lainnya. Sementara pendapat yang kedua, setidaknya masih harus dicermati dari dua hal:

Tidak ada dalil yang shahih dari kedua dalil yang digunakan sebagai landasan bagi pendapat tersebut.

Mengandung dalam penafsiran mereka atas kata turbah dalam hadits tersebut dengan debu. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu -dalam lafadz Muslim- berkata. Rasulullah pernah menggandeng kedua tanganku seraya berkata:

خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ ، وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ ، وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ

“Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, menciptakan gunung pada hari Ahad dan menciptakan pohon pada hari Senin.”

Ibnu Manzur dalam Lisan al-Arab menyebutkan, bahwa maksud dari kata turbah dalam hadits tersebut adalah tanah.

Penulis berkata: Itulah makna yang jelas dalam hadits tersbut. Walillahilhamd.

Jika Tidak memperoleh dua sarana Untuk Bersuci (air dan tanah)
Pendapat paling benar diantara dua pendapat ulama tentang seseorang yang tidak memiliki air maupun tanah untuk bersuci sedang ia hendak melaksanakan shalat, adalah ia tetap melaksanakan shalat dalam keadaannya pada waktu tersebut tanpa perlu mengulanginya jika kemudian ia mendapatkan air ataupun debu. Ini pendapat mazhab Syafii, Hanbali, Ibn Hazm dan Ibnu Taimiyah, dengan berlandaskan dalil-dalil berikut[2]:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-Taghabun: 16)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membenani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika aku perintahkan kalian dengan suatu perkara, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.”[1]

Ia telah berusaha sekuat kemampuan untuk melaksanakan shalat, meski tidak mampu untuk bersuci. Berarti, ia sudah melakukan apa yang telah diperintahkan kepadanya sehingga tidak perlu menggantinya di lain waktu.

Penulis berkata: Pendapat ini nampaknya juga dikuatkan dengan hadits dari Aisyah radhiallahu 'anha:

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَيْدَ بْنَ حُضَيْرٍ وَأُنَاسًا مَعَهُ فِي طَلَبِ قِلَادَةٍ أَضَلَّتْهَا عَائِشَةُ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَصَلُّوا بِغَيْرِ وُضُوءٍ، فَلَمَّا أَتَوِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا له ذَلِكَ فَنَزَلَتْ آيَةُ التَّيَمُّمِ

“Rasulullah mengutus Usaid bin Khudhair -dan aku mendengarnya- untuk mencari kalung Aisyah yang hilang, lalu pada saat tiba waktu shalat mereka melaksanakannya tanpa berwudhu’. Mereka lalu melaporkan hal itu kepada Rasulullah, lalu turunlah ayat tentang tayamum.”[2]

Dalam hadits ini, Rasulullah menyetujui tindakan mereka untuk melaksanakan shalat tanpa bersuci karena tidak ada air, dan tidak menyuruh mereka untuk mengulangi shalat tersebut. Hukum ini tentu akan sama jika seseorang dalam kondisi tidak memiliki tanah untuk bersuci.Wallahu A’lam.

Sedangkan Abu Hanifah, Malik dan Auza’i memandang bahwa seseorang yang tidak memiliki air dan tanah untuk bersuci, hendaklah tidak melaksanakan shalat kecuali ia bisa berwudhu’ atau bertayamum meski waktu shalat telah habis.[3]

Footnote;
[3] Al-Istidzkar (3/158)
[4] Hadits shahih, telah ditakhrij sebelumnya
[5] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (4712) dan Muslim (472)
[1] Hadits hasan, telah ditakhrij sebelumnya
[2] Hadits shahih, telah ditakhrij sebelumnya
[3] Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (1/161), sanadnya dhaif.
[4] Al-Mughni (1/155), al-Majmu’ (2/246), al-Istidzkar (3/159) dan al-Ausath (2/43)
[5] Hadits Riwayat: Muslim (522), Ibnu Hibban (1697), Daruquthni (1/175), dan Al-Baihaqi (1/213-230) telah membahas tambahan redaksi ini, dan yang benar tambahan tersebut shahih.
[1] Hadits Riwayat: Ahmad (1/98) dan Al-Baihaqi (1/213) Hadits munkar.
[2] Al-Mughni (1/157), al-Majmu’ (2/321), al-Muhalla (2/138) dan al-Fatawa (21/467)
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (7288) dan Muslim (3199)
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (5883) dan Muslim (795)
[3] Al-Ausath (2/45), al-Istidzkar (3/150) dan al-Mulalla (2/139)
Baca Juga