Turki Utsmani dalam Catatan Sejarah -->

Iklan Semua Halaman

Turki Utsmani dalam Catatan Sejarah

Admin
Jumat, 14 Februari 2020

Kata Pengantar

Munculnya Turki Utsmani di pentas sejarah telah menambah khazanah peradaban Islam. Di antaranya perluasan dakwah Islam ke Eropa dan kekuatan persatuan Islam di seluruh dunia. Turki Utsmani telah memberikan wacana baru dalam pemolitikan internasional pada masa kejayaannya. Berikut adaah sejumlah prestasi Turki Utsmani:

1. Bidang Keamanan

Di samping bidang Syari'at dan Siyasah (politik), kontribusi Kekhilafahan lslam Turki Utsmaniyah yang lain bagi peradaban ummat Islam, ialah bidang keamanan. Bidang ini meliputi kemiliteran dan pemerintahan. Sebagaimana kita ketahui Imperium Islam Turki Utsmani berdiri kokoh berkat ketangguhan militernya. Pada masa-masa awal pertumbuhannya, Imperium Islam ini dipimpin oleh orang-orang yang kuat, mempunyai ghirah (semangat) yang tinggi untuk berjihad di jalan Allah; mempunyai keberanian, ketrampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan di mana saja. Sehingga dengan potensi sumber daya manusia yang memadai inilah, memungkinkan.

Kekhilafahan Islam Turki Utsmaniyah dapat meluaskan wilayah dakwahnya ke negeri-negeri Eropa dengan cepat dan luas. Sehingga dalam waktu singkat, kekuasaan Turki Utsmani telah membentang dari Budapest di pinggir sungai Thouna sampai ke Aswan dekat hulu Sungai Nil dan dari Sungai Euphrat dan pedalama Iran sampai Bab al-Mandeb di Selatan Jazirah Arab.

Pada masa pemerintahan Sultan Orkhan (1236-1359), terbentuklah pasukan tentara lnkisyariyah atau disebut juga Jenissari (tentara baru), yang merupakan produk pendidikan khusus militer di Adrianopel dan Konstantinopel. Model pendidikan militer ini, seorang calon anggota pasukan Jenissari, sejak kecil dibina di bidang kemiliteran dan diasramakan dalam lingkungan dan suasana yang Islami. Selain itu, juga diarahkan untuk menjadi Mujahid-mujahid Islam yang tangguh.

Militer Jenissari
Berkat ketangguhan militer Jenissari ini, Turki Utsmani senantiasa memperoleh kemenangan di berbagai medan pertempuran di Eropa. Pada awal pertumbuhan imperium Islam ini, pasukan ini sangat berjasa dalam penaklukkan negara-negara non-Muslim. Tetapi pada masa kemunduran Turki Utsmani, pasukan ini menjadi bumerang, bahkan ikut mempercepat kehancuran Imperium Turki Utsmaniyah. Di samping pasukan Jenissari, ada lagi pasukan tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat.

Kelompok militer ini bernama tentara Thaujiyyah. Pada awalnya, pertahanan Khilafah Turki Utsmani lebih mengandalkan kemampuan pertahanannya kepada Angkatan Darat. Akan tetapi setelah dirasakan bahwa peran angkatan lautpun sangat besar, kemudian angkatan lautpun dibenahinya pula. Pada abad ke-16 M Angkatan Laut Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya. Untuk mengamankan kekuatan maritim yang sangat luas ini, armada Utsmaniyah memiliki 3.000 kapal perang dan ribuan personal militer. Kekuatan militer Turki Utsmani yang tangguh itu dengan cepat memperluas wilayah Turki Utsmani ke kawasan Asia, Afrika, dan Eropa.

Diantara faktor utama yang mendorong kemajuan di bidang militer ini, antara lain: tabiat bangsa Turki Utsmani itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin tinggi, dan senantiasa patuh terhadap peraturan. Tabiat yang unik ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah. Pada masa-masa tersebut militer benar-benar berperan melindungi wilayah Dunia Islam, mengayomi ummat Islam dan juga diarahkan untuk meluaskan wilayah dakwah Islam. Di samping ia mampu menggentarkan musuh-musuh Islam dan negara-negara Eropa yang akan merongrong kekuasaan Turki Utsmani ketika itu. Hal ini tidak lepas dari pola pendidikan militer yang diterapkanya, serta doktrin-doktrin ideologi, dan konsep-konsep yang mengacu kepada nilai-nilai ke-lslaman. Inilah barangkali salah satu profil ideal pola pendidikan militer yang Islami, yang pernah muncul di Dunia Islam.

Sebaliknya, pada masa sesudahnya; yaitu pada masa fase kemunduran Turki Utsmani yang ditandai dengan keterbelakangan dalam iptek dan teknologi persenjataan; terjadi penyimpangan militer di Dunia Islam. Penyimpangan dasar dan orientasi pendidikan militer di Dunia Islam ini bermula dari Turki Utsmani juga, yaitu pada masa Sultan Salim III (1789-1807). Untuk mengejar ketertinggalannya di bidang militer dan persenjataan, diundanglah pakar-pakar militer dari Swedia, Prancis, Inggris dan Polandia untuk membangun sekolah/akademi militer di Turki Utsmani. Kemudian pada masa Sultan Mahmud II (1808 1839). tepatnya pada tahun 1826, ia mengadakan perombakan di tubuh militer Turki Utsmani. Ia berpendapat bahwa satu-satunya cara pasukan Jenissari untuk mengungguli tentara musuh hanya dengan cara meniru pola pendidikan militer dan susunan tentara seperti yang diterapkan di Eropa. Kemudian ia menerapkan struktur militer seperti yang diterapkan di Eropa, dan memerintahkan memakai pakaian militer ala Eropa. Kebijakan Sultan ini kemudian menyulut pemberontakan tentara Jenissari yang keempat kalinya pada tahun 1826. Dan peristiwa berdarah ini mengakhiri era Inkisyariyah atau Jenissari di Turki Utsmani.

Sebelumnya, pada tahun 1805, gubernur Mesir (ketika itu Mesir masih di bawah naungan Khilafah Islam), yaitu Muhammad Ali Pasya telah pula menyusun kekuatan militer ala Barat. Ia mempekerjakan bekas opsir-opsir Prancis yang tinggal di mesir untuk melatih pasukannya. Bahkan di antara mereka ada yang dikirim ke Barat untuk meraih berbagai spesialisasi. Demikianpula yang dilakukan Ahmad Basya bay di Tunisia. Ia mendirikan sekolah militer dengan mendatangkan para instruktur militer dari Prancis, Italia, dan Inggris.

Dari sinilah bermula akar penyimpanan ideologi dan orientasi pendidikan militer di Dunia Islam. Sebab, ternyata para pakar dan instruktur militer Eropa tersebut tidak hanya mengajarkan ilmuilmu militer, dalam hal yang bersifat teknis dan ketrampilan perang. Tetapi juga prinsip-prinsip kedisiplinan yang mereka tanamkan erat kaitannya dengan doktrin ideologi yang mereka anut. Akhirnya terbentuklah militer ala Barat, yang secara alami memusuhi Islam sebagai sistem hidup. Dan itulah aksioma militer di Dunia Islam kontemporer ini, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Di samping di bidang kemiliteran, keberhasilan perluasan dakwah Islam pada masa Turki Utsmani juga didukung dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah Turki Utsmani yang luas tersebut. Sultan-sultan Turki Utsmani senantiasa bertindak tegas. Kekuasaan tertinggi dalam tradisi Kekhilafahan Islam Turki Utsmaniyah memakai gelar sultan. Adapun gelar “Khilafah", para sultan Turki Utsmani mulai memakainya sejak masa Murat I (1359-1389); setelah ia berhasil membebaskan kawasan Asia Kecil dan Eropa. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dengan dibantu oleh Shadr al-A‘zham (perdana mentri/prime minister), yang membawahi para Pasya (setingkat gubernur). Gubernur ini mengepalai daerah tingkat I,. Struktur pemerintahan di bawahnya terdapat beberapa orang al-Zanaziq atau al-Alawiyah (bupati). Demikianpula, bupati membawahi struktur pemerintahan di bawahnya.

Untuk mengatur urusan pemerintahan, pada masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab undang-undang (qanun) yang diberi nama Multaqa al Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi Kekhilafahan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Pada tahun 1530, Sultan juga mengeluarkan peraturan baru tentang Qanun Nimah; yang berisi ketetapan bahwa yang berhak memberikan al-lqtha (hak guna tanah/agraria) adalah kantor berdana menteri.

2. Bidang Ilmu dan Budaya

Kebudayaan bangsa Turki Utsmani merupakan perpaduan dari bermacam-macam kebudayaan. Di antaranya adalah kebudayaan Persia, Byzantium, dan kebudayaan Arab (Islam). Dari kebudayaan Persia, mereka menyerap tentang teknik dan strategi perang; sedangkan dari kebudayaan Byzantium mereka menyerap ilmu-ilmu mengenai organisasi pemerintahan dan manajemen kemiliteran. Selain itu kebudayaan Turki Utsmani juga bersumber dari kondisi alam Asia Tengah yang telah membentuk karakter kepribadian yang unik, seperti: mempu nyai semangat juang yang tinggi dan cenderung suka berasimilasi dengan bangsa lain. Di sini kebudayaan Arab (lslam) merupakan “Ustadz" (guru) pertama mereka, seperti bangsa Yunani adalah guru pertama bagi bangsa Romawi. Selain aqidah lslam, yang menjadi keyakinan bangsa Turki Utsmani ini, mereka juga menyerap perbendaharaan kebudayaan Arab (Islam) yang bersumber dari nilai-nilai ke-lslaman.

Dari kelengkapan ajaran lslam ini, selain aspek ibadah dan aqidah, juga memuat ajaran prinsip-prinsip ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum. kemasyarakatan, dll. Bahkan tidak hanya sebatas itu, bangsa Turki Utsmani sampai menjadikan huruf Arab sebagai huruf resmi bagi Kekhilatahan Islam itu sampai tahun 1928. Demikian pula agama Islam menjadi agama resmi negara sampai tahun 1928. Dengan masuknya mereka ke dalam pangkuan lslam dan menjadikan huruf Arab sebagai huruf resmi bangsa Turki Utsmani, maka masuklah dalam bahasa Turki, beribu-ribu istilah lslam, keilmuan, hukum dan kesusastraan Arab. Dan lebih daripada itu, bangsa Turki Utsmani telah menerima ajaran lslam sebagai sistem kehidupan mereka, dan sistem pemerintahan mereka. Sehingga terlepas dan' sejumlah kebudayaan yang diserap, mereka telah menjadi pembela-pembela lslam yang tangguh dan penerus estafeta kekhilafahan lslam, yang telah turuntemurun menjadi tradisi dan tunutan syar‘i di masyarakat kaum Muslimin.

Sebagai bangsa yang berdarah militer, bangsa Turki Utsmani lebih banyak mengarahkan kegiatannya di bidang kemiliteran. Sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah dalam khazanah intelektual, kita tidak dapat menemukan ilmuwan-ilmuwan besar pada masa Imperium Turki Utsmani ini. Berbeda dengan Khalifah Umayyah, Abbasiyah maupun Umayyah di Andalusia. Yang telah melahirkan ilmuwanilmuwan Muslim, seperti: Ibnu Zuhr, Ibnu Atsir. Attabari, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Mas‘udy, dll.

Namun demikian, bangsa Turki Utsmani banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur, berupa bangunan-bangunan masjid yang indah. Seperti Masjid Muhammad al-Fatih (dibangun tahun 1463), Masjid Agung Sulaiman, Masjid Aya Sophia, Masjid Abi Ayub alAnshan', dll. Masjid yang disebutkan terakhir ini merupakan tempat pelantikan para sultan Turki Utsmani. Tidak jauh dari masjid tersebut terdapat tempat makam para sultan dan pembesar Turki Utsmani. Di antara peninggalan seni arsitektur Utsmani yang lain ialah Masjid Bayazid dan Masjid Sulaiman alQanuny, dll. Pada masa Sulaiman !. dibangun 235 bangunan: masjid. madrasah, rumah sakit, dll., di bawah koordinator arsitek Muslim dari Anatolia (Turki) benama, Sinan.

Sumber: Majalah Al-Muslimun 384
Baca Juga