Sejarah Penutupan Masjid Karena Wabah Sudah Terjadi Ratusan tahun yang Lalu

Iklan Semua Halaman

Sejarah Penutupan Masjid Karena Wabah Sudah Terjadi Ratusan tahun yang Lalu

Admin
Kamis, 26 Maret 2020

Asianmuslim.com - Musibah wabah pernah ada dari masa ke masa. Mulai dari skala kecil hingga yang besar. Menelan ribuan korban nyawa tak terbilang. Menimbulkan krisis dan paceklik panjang.

Mayat bergelimpangan dan yang sehat dibuat bimbang. Apa yang bisa mereka lakukan? Adalah isolasi diri dari keramaian. Masjid dikosongkan. Kegiatan keagamaan ditiadakan. Inilah yang sesuai tuntunan untuk keselamatan.

Jejak catatan kitab-kitab berikut ini menjadi bukti kebenaran. Apa yang di fatwakan oleh ulama sekarang. Sosial distance. Dahulu, Masjid-masjid ditutup dan para Ulama berdiam di rumah karena wabah penyakit.

Pertama, mengutip perkataan Al Imam Al Hafizh Adz Dzahabi Rahimahillahu dalam kitab Siyar A'lam An Nubala, ia berkata:

وفي سنةِ ثمانٍ وأربعين وأربعمائةٍ كَانَ القَحْطُ عَظِيْماً بِمِصْرَ وَبَالأَنْدَلُس، وَمَا عُهِدَ قَحْطٌ وَلاَ وَبَاءٌ مِثْله بقُرْطُبَة، حَتَّى بَقِيَت المَسَاجِدُ مغلقَة بِلاَ مُصَلٍّ، وَسُمِّيَ عَام الْجُوع الكَبِيْر. ينظر سير أعلام النبلاء (18/311) طبعة الرسالة من الشاملة.

"Pada tahun 448 H, terjadi kekeringan (paceklik) besar di Mesir dan Andalusia. Belum pernah sebelumnya terjadi kekeringan dan tidak pula wabah seperti itu di Cordoba, hingga masjid-masjid terpaksa ditutup dan tidak ada orang yang shalat. Saat itu dinamakan Tahun Kelaparan Hebat".

(Adz Dzahabi, Siyar A'lam An Nubala', 18/311).

Juga penjelasan Al Maqriziy tentang wabah Thaa'un yang terjadi tahun 749 di Mesir:

وتعطل الأذان من عدة مواضع وبقي في الموضع المشهور بأذان واحد... و غلقت أكثر المساجد و الزوايا
(السلوك لمعرفة دول الملوك 88/4)

"Di banyak tempat Azan ditiadakan. Tinggallah azan hanya sekali di satu tempat yang terkenal... (Saat itu) banyak masjid dan surau-surau yang terpaksa ditutup".

(As Suluk li Ma'rifah Dual Al Muluk, 4/88).

Tidak hanya disitu, Masruq bin Al Ajda' Al Wadi'i Rahimahullah, seorang tabi'in yang mulia juga meriwayatkan :

كان يمكث في بيته أيام الطَّاعُونِ ويَقُولُ: أَيَّامُ تَشَاغُلٍ فَأُحِبُّ أَنْ أَخْلُوَ لِلْعِبَادَةِ فَكَانَ يَتَنَحَّى فَيَخْلُو لِلْعِبَادَةِ ,
قَالَت زوجته:
فَرُبَّمَا جَلَسْتُ خَلْفَهُ أَبْكِي مِمَّا أَرَاهُ يَصْنَعُ بِنَفْسِهِ وَكَانَ يُصَلِّي حَتَّى تَوَرَّمَ قَدَمَاهُ".
(الطبقات لابن سعد  ج٦ ص٨١)

"Beliau berdiam diri dalam rumahnya pada hati-hari merebaknya wabah Thaa'un, seraya berkata: "Hari-hari penuh kepayahan, dan aku ingin fokus beribadah". Lalu beliau mengambil sudut rumah dan berkhalwat untuk ibadah.
Istrinya berkata: "Kadang aku duduk di belakangnya sambil menangis menyaksikan apa yang beliau lakukan atas dirinya. Adalah Beliau shalat hingga kedua kakinya bengkak-bengkak".

(Ibnu Sa'ad, Ath-Thabaqaat, 6/81).

Tahun 827 H juga pernah terjadi wabah dahsyat yang terjadi di kota mekah al-mukarromah.

Al-hafizh Ibnu hajar al-asqalani (w. 852 H) berkata,

وفي أوائل هذه السنة وقع بمكة وباء عظيم بحيث مات في كل يوم أربعون نفساً، وحصر من مات في ربيع الأول ألفاً وسبعمائة، ويقال إن إمام المقام لم يصل معه في تلك الأيام إلا إثنين .

"Pada awal tahun ini (827 H) terjadi wabah dahsyat di mekah, dmana tiap hari ada 40 orang meninggal. Dan pada bulan rabi'ul awal ketika korban meninggal dihitung, jumlahnya ada 1700 orang. Disebutkan, bahwa yang ikut shalat bersama imam di maqam ibrahim pada hari-hari itu hanya dua orang."

(Ibnu hajar, inba' al-ghumar bi abna' al-'umr, 3/326)


Hikamah:


  • Wabah penyakit bisa mengenai siapa saja; tak terkecuali muslim maupun kafir. Hanya saja, untuk orang kafir (juga ahli maksiat & orang fasiq) adalah adzab, sementara bagi orang mukmin musibah ini bisa menjadi rahmat.
  • Dalam sejarah islam, wabah sudah sering terjadi, dan banyak memakan korban jiwa. Bukan hanya kali ini.
  • Masjid sepi dan atau ditutup saat ada wabah, sudah terjadi sejak dulu. Bukan baru sekarang saja
  • Semoga Allah senantiasa memberi kita kesehatan & "badai" ini sgera berlalu.. Aamiin..