Apa yang Akan Terjadi Jika Tidak Ada Manusia yang Thawaf Di Ka'bah? -->

Iklan Semua Halaman

Apa yang Akan Terjadi Jika Tidak Ada Manusia yang Thawaf Di Ka'bah?

Admin
Selasa, 03 Maret 2020
Suasana ka'bah sedikit yang tawaf

Asianmuslim.com - Pasca diterbitkannya larangan perjalanan umroh oleh kerajaan Saudi, beberapa waktu lalu beredar video yang memperlihatkan kondisi tanah suci yang terlihat sepi dan tidak seperti biasanya. Berdasarkan video dan beberapa gambar hasil dokumentasi oleh netizen memperlihatkan suasana di Masjidil haram dan Nabawi sangat lengang. Meskipun akhirnya berita ini dibantah oleh salah seorang jama'ah asal Indonesia yang masih berada di Masjidil haram pada tanggal 2 Maret 2020. Bahwa kondisi masjidil haram masih ramai dan banyak jama'ahnya. Alhamdulillah.
Jika fenomena masjidil haram sepi dari muthawif (orang-orang yang thawaf) ini benar-benar terjadi, apakah ini menjadi pertanda semakin dekatnya hari qiyamat? Wallohu a'lam, yang jelas patut untuk menjadi bahan renungan salah satu hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang tanda-tanda akhir zaman adalah ketika ka'bah tidak ada lagi yang thawaf di sekelilingnya.

Dalam hadis yang disahihkan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, perbanyaklah tawaf sebelum Ka’bah diangkat dari muka bumi. Bangunan yang disebut Rumah Allah ini pernah dirobohkan dua kali. Jika dirobohkan lagi, maka rumah tersebut akan diangkat.

Hujjatul Islam Imam al-Gazali dalam Ihya Ulumuddin menuliskan pengalaman seorang wali yang mengalami penyingkapan spiritual (kasyf). Wali tersebut menjelaskan, meskipun matahari terbenam, tetap saja ada kerumunan orang bertawaf. Di antara mereka ada orang-orang khusus yang disebut abdal. Hingga tibanya fajar, tetap saja ada orang bertawaf. Pasti ada awtad atau orang dari kelompok khusus yang mencapai kasyf mengelilingi Ka’bah.

Jika tak ada yang bertawaf, itu pertanda Ka’bah akan diangkat dari muka bumi. Kalau itu yang terjadi maka manusia akan bangun pada suatu hari dengan tak lagi melihat bekas apa pun yang ditinggalkan Ka’bah.

Hal itu akan terjadi apabila tak ada lagi yang tawaf selama tujuh tahun. Ketika itu Alquran akan diangkat dari mushafnya. Mereka yang membuka Kitab Suci tersebut hanya akan menemukan lembaran kosong. Tak ada satu huruf pun dalam lembaran Alquran.

Kitab yang dibawa Rasulullah itu akan terhapus dari hati setiap insan. Manusia akan kembali kepada syair, lagu, dan kisah jahiliyah. Dajjal kemudian muncul. Nabi Isa turun ke bumi untuk menghancurkannya. Setelah itu kiamat tiba tidak dalam waktu lama, seperti seorang perempuan hamil menunggu kelahiran anaknya.

Seorang sahabat Rasulullah mengatakan, Allah selalu melihat penghuni bumi. Yang pertama kali dilihat adalah penghuni Tanah Suci atau al-Haram, yaitu yang berada di Makkah, terutama mereka yang berada di Masjidil Haram. Barang siapa yang dilihat Allah sedang bertawaf maka orang tersebut mendapatkan ampunan. Jika Allah melihat manusia sedang shalat maka orang tersebut mendapatkan hal yang sama.

Baca juga: Benarkah Arab Saudi Stop Pelaksanaan Umroh Selama 2020 Karena Corona?

Al-Gazali menceritakan, tak ada kota lain yang istimewa seperti al-Haram. Di kota tersebut, orang yang baru berniat jahat saja sudah diancam dengan siksaan pedih dari Allah. Sebaliknya, mereka yang berniat baik, mendapatkan pahala berlimpah.

Seorang alim, Prof Mutawalli Sya’rawi, mengatakan, Makkah adalah kota dengan berbagai keutamaan. Muslim yang memahami kota tersebut sebagai tempat perjuangan Rasulullah berdakwah akan berdoa dengan tenang. Dalam bukunya Alhajj Almabrur dia mengatakan, mereka merenungkan betapa mulianya Rasulullah dan nabi sebelumnya mempertahankan agama Allah di sana.

Mereka tak hanya merasakan Makkah sebatas karya manusia, tapi juga tanah yang suci dari dosa dan perbuatan jahat, sehingga dianggap sebagai rumah Allah. Mereka berdoa dengan tulus, memohon ampunan Allah. Mereka merendahkan diri, bertaubat, merenungkan dosa yang telah diperbuat, hingga membuat air mata menetes. Kesombongan keluar berbarengan dengan air mata yang membasahi pipi.

Baca juga: Meluruskan Pemberitaan Keliru Seputar Arab Saudi dan Corona

Mutawalli mengatakan, selesai menangis, kemudian kembali ke kampung halaman, muslim yang baru saja mengunjungi Tanah Suci, akan kembali merindukan pengalamannya menangis di al-Haram. Pengalaman itu menjadi pengingat agar tak lagi melakukan dosa.

(Ditulis Oleh Erdy Nasrul)
Baca Juga