Burung Hud-hud dan Keislamannya Ratu Bilqis beserta Seluruh Penduduk Saba'

Iklan Semua Halaman

Burung Hud-hud dan Keislamannya Ratu Bilqis beserta Seluruh Penduduk Saba'

Admin
Kamis, 26 Maret 2020

Asianmuslim.com - Satu peristiwa besar yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman, yakni masuk Islamnya Ratu Bilqis beserta seluruh rakyat Saba’, bukan berawal dari superioritasnya, ilmu atau kebijakannya. Meski dengan itu semua ia mampu melaksanakan kehendaknya pada siapa saja. Allah berkehendak memilih makhluk lemah seekor burung hud-hud sebagai pembuka manuver da'wahnya ke negeri Saba'.

Hud-hud Absen

Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh pasukan beserta para pembesar kerajaan. Ada urusan penting atau ada program besar yang hendak disampaikannya kepada semua pihak. Dalam satu riwayat, Nabi Sulaiman dengan pasukannya untuk berdo'a istisqa masal. Namun Nabi Sulaiman membatalkan acara tersebut karena melihat seekor semut yang keluar dari rumahnya mengangkat kakinya ke arah langit dan berdo'a.

“Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu, kami tidak memiliki kekayaan dari rizki-Mu. Engkau turunkan hujan kepada kami atau Engkau binasakan kami."

Nabi Sulaiman berkata kepada pasukannya. “Pulanglah kalian karena hujan telah turun dengan do'a makhluk selain kalian!”

Al-Qur'an menuturkan, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka diatur dengan tertib. Hingga apabila mereka sampai ke lembah semut berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah kalian ke dalam sarang-sarangmu, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut pasukannya untuk bendo'a istisqa masal. Namun Nabi Sulaiman membatalkan acara tersebut karena melihat seekor semut yang keluar dari rumahnya mengangkat kakinya ke arah langit dan berdo'a.

“Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu, kami tidak memiliki kekayaan dari rizki-Mu. Engkau turunkan hujan kepada kami atau Engkau binasakan kami.”

Nabi Sulaiman berkata kepada pasukannya. “Pulanglah kalian karena hujan telah turun dengan do'a makhluk selain kalian!”

Al-Qur'an menuturkan, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka diatur dengan tertib. Hingga apabila mereka sampai ke lembah semut berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah kalian ke dalam sarang-sarangmu, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdo'a, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai, dan masukanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

Ternyata di antara pasukan dari berbagai macam jenis makhluk itu, yang berbaris berderet rapi, setelah diinpeksi, Sulaiman tidak melihat seekor burung Hud-bud.

Sayyid Quthb, lebih cenderung memahami bahwa yang dimaksud di sini adalah seekor burung Hud-bud di antara ribuan bahkan jutaan burung hud-hud yang lain. Wallahu a'lam.

Jangan Berpaling dari Si Lemah

Allahu Akbar! Sungguh menakjubkan sikap dan perhatian Nabi Sulaiman. Apakah arti seekor burung yang lemah di antara sekian ribu bahkan sekian juta burung lainnya.

Kalau keberadaan seekor burung Hud-hud dalam kerajaan Sulaiman sebagai perhiasan, masih banyak di sana Hud-hud yang lain. Apalah artinya keperkasaan Hud-hud di antara sekian jin dan manusia, singa dan angin. Kecerdikan Hud-bud tidaklah seberapa dibanding dengan kehebatan mereka “yang dikaruniai ilmu”, yang dalam sekejap mata mampu memindahkan singgasana ratu Saba' di Yaman ke kerajaan Sulaiman di Palestina. Mengapa Nabi Sulaiman mesti gusar dengan ketidakhadiran Hud-hud? Hud-hud hanyalah seekor burung. Namun, betapapun kecil dan lemah, adalah sebuah batu bata, bahkan sebiji pasir yang turut menegakkan sebuah bangunan. Lebih dari itu, ia adalah jiwa. Di sisi lain, burung itu bisa saja mendatangkan bahaya besar bagi kerajaan, apalagi profesinya sebagai 'intel' kerajaan. Bisa saja ia berkhianat dan berpihak kepada musuh dengan membocorkan semua rahasia kerajaan. Dan bencana besar pun selalu mengintai.

Kondisi inilah yang sering dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam. Mereka mampu memporakporandakan barisan ummat Islam bukan melalui tangan mereka sendiri, melainkan melalui kelemahan sebagian orang Islam. Karena itu, Rasulullah sangat tegas menghadapi gejala-gejala seperti ini. Sebagaimana tindakan cepat beliau dalam peristiwa kesembronoan Abu Balta’ah.

Nabi Sulaiman tidak membiarkan ketidakhadiran Hud-hud ini meski itu tidak mempunyai pengaruh penting terhadap program besarnya. Ia pun mempersiapkan sangsi yang layak sebagai peringatan atas absennya Hud-hud.

“Dan ia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir.“ Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras atau akan menyembelihnya, kecuali ia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

Betapa banyak pemimpin yang kehilangan kepeduliannya terhadap si miskin dan si lemah. Mereka seharusnya dibantu dan disantuni, diberi peluang-peluang untuk menanggung kehidupan ini selayaknya sebagai manusia. Apalagi kepedulian untuk dijadikan sebagai subyek, sebagai pendukung lajunya perkembangan dengan menghormati kapasitas kafaahnya, betapapun kecil dan lemah.

Seorang pemimpin, baik negara, masyarakat, yayasan, perkumpulan atau keluarga, mesti melihat masing-masing anggotanya sebagai bagian utuh organisasinya. Bukannya malah membagi perhatiannya berdasarkan kadar potensi yang dimiliki masing-masing anggotanya.

Karena barangkali menurut anggapan sang pemimpin bahwa seseorang adalah lemah, tidak punya potensi, kurang lincah. Justru Allah berkehendak menurunkan pertolongannya melalui kelemahannya itu. Karena itu, Rasulullah menerima teguran dari Allah SWT karena kurang memperhatikan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, saat beliau tengah asyik berda'wah kepada para pembesar Quraisy.

Kehendak Allah itu terwujud pula pada si kecil Hud-hud ketika ia datang membawa berita besar.

“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-bud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba' suatu berita penting yang nyata. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat petunjuk.”

Demikianlah kehendak Allah melalui si lemah Hud-bud. Tidak belebihan jika Syaikh Utsman Rusydi, doktor di bidang demografi dari Palestina itu mengatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia adalah berkat jasa burung Hud-bud. Karena para duat (dai) Arab yang datang ke negeri ini berasal dari Hadram yang mewarisi fitrah nenek moyang mereka di negeri Saba. Wal'ilmu 'indaallah.