Fakta-fakta Menakjubkan Sahabat Thulaihah Bin Khuwailid, Kekuatannya Setara 1000 Tentara

Iklan Semua Halaman

Fakta-fakta Menakjubkan Sahabat Thulaihah Bin Khuwailid, Kekuatannya Setara 1000 Tentara

Admin
Jumat, 20 Maret 2020

Asianmuslim.com - Apakah anda pernah mendengar nama sahabat yang satu ini? Beliau adalah sahabat Thulaihah bin Khuwailid al Asadi. ra (Si Nabi Palsu yang Bertobat). Meskipun namanya tidak sepopuler sahabat lainnya, namun ternyata beliau merupakan sahabat yang luar biasa.

Apa saja yang membuat sosok sahabat Thulaihah penting untuk kita ketahui? Berikut ini fakta-faktanya yang ditulis oleh ustadz Kirito di fans pagenya.

Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi ra adalah sahabat nabi yang disebut sebagai orang yang kekuatannya setara 1000 tentara. Woow. Skill bertarungnya tingkat tinggi, keberaniannya jauh di atas manusa normal.

Dia adalah kepala Suku Asad (yang artinya singa). Suku ini terkenal dengan orang-orangnya yang pemberani.

Sebelum masuk Islam, Thulaihah memusuhi kaum muslimin. Bahkan dia dan sukunya bergabung dalam aliansi yang terdiri dari orang-orang Quraisy, Yahudi, Gathafan, dan suku-suku lain yang menyerang Madinah dalam Perang Ahzab.

Setelah terjadi penaklukan Kota Mekah, Quraisy yang merupakan suku terpandang masuk Islam, sehingga banyak suku lain termasuk Asad ikut masuk Islam. Maka Thulaihah dan beberapa utusan suku Asad datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah saw.

Banyak suku yang masuk Islam hanya karena ikut-ikutan, begitu juga Suku Asad. Keyakinan mereka masih lemah dan mudah goyah. Secara politik Suku Asad tunduk kepada Rasulullah saw, tapi tidak mau mengamalkan ajaran Islam.

Suatu hari Thulaihah mengaku mendapat wahyu dari jibril lalu menyatakan diri sebagai nabi dan orang-orang Suku Asad mengakuinya. Hal ini terjadi ketika Rasulullah saw masih hidup.

Berikut adalah contoh ayat palsu karangan Thulaihah.

“Demi Hamam (merpati), Yamam (burug dara), Surad (burung tengkek), dan Shawwam (orang yang rajin puasa).
Telah ditetapkan beberapa tahun sebelum kalian, sungguh kerajaan kita akan mencapai Irak dan Syam.”

Setelah nabi wafat, pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Abu Bakar ra. Saat itu banyak suku kembali murtad dan melakuan pemberontakan. Bahkan muncul banyak nabi palsu selain Thulaihah diantaranya adalah Musailamah al Kadzab, Aswad al Unsi, Dzut Taj Luqaith, dll

Thulaihah berani membuat ajaran sendiri. Dia menghapus kewajiban zakat dan mengubah gerakan shalat. Shalat versi Thulaihah tanpa ruku’ dan sujud. Hanya berdiri.

Jangankan mengubah, membenci aturan Islam saja sudah cukup untuk membatalkan keimanan seorang muslim. Maka Thulaihah sudah jelas keluar dari Islam.

Thulaihah punya sahabat bernama Uyainah bin Hizn. Dia adalah kepala Suku Gathafan. Suku besar ini terkenal dengan kekuatan militernya yang hebat dan sering menjual jasa sebagai tentara bayaran. Mereka juga pernah beberapa kali berperang melawan kaum muslimin. Pada Perang Ahzab, Uyainah dan sekutunya menerjunkan 6000 prajurit untuk menggempur kaum muslimin Madinah padahal Quraisy hanya mampu mengirim 4000 personel.

Uyainah sebenarnya adalah orang yang bodoh. Dia sering membuat keputusan aneh dan konyol. Walaupun begitu, dia dipatuhi karena statusnya sebagai kepala suku. Maka dia dijuluki si bodoh yang ditaati.
Thulaihah menjadikan Uyainah sebagai ‘sahabat nabi’ terdekatnya. Gara-gara Uyainah, orang-orang Suku Gathafan ikut murtad dan menjadi pengikut Thulaihah.
Selain itu ada Suku Thayyi yang juga bergabung bersama aliansi mereka.

Murtadnya suku-suku ini tidak hanya karena lemahnya iman tapi juga karena fanatisme suku. Mereka punya sejarah permusuhan terhadap Quraisy, suku asal Rasulullah saw.

Bersatunya Asad, Gathafan dan Thayyi membuat posisi kaum muslimin terancam. Maka Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin seorang komandan terbaik yang tidak pernah kalah perang yaitu Khalid bin Walid ra.

Sesuai prosedur, kaum muslmin tidak boleh main serang begitu saja. Maka Khalid mengirim 2 orang utusan untuk berdiplomasi, ngomong baik-baik mengajak Thulaihah dan pengikutnya bertobat. Bukan cuma ditolak, Thulaihah bahkan membunuh mereka, padahal dari dulu sampai sekarang yang namanya utusan tidak boleh dibunuh. Membunuh utusan berarti penghinaan besar terhadap yang mengutus.

Setelah upaya diplomasi gagal, Khalid segera mengerahkan pasukannya. Maka terjadilah pertempuran besar antara kaum muslimin dan pasukan pendukung Thulaihah.

Semangat juang yang tinggi dari pasukan muslimin dipimpin komandan yang dijuluki “Si Pedang Allah yang terhunus.” Membuat pasukan Thulaihah kerepotan. Walaupun Thulaihah ahli strategi, tapi dia tidak ada apa-apanya dibanding Khalid. Uyainah beberapa kali mendatangi Thulaihah yang bersembunyi di tenda untuk menanyakan adakah wahyu dari jibril yang bisa dilaksanakan agar memenangkan pertempuran itu, namun Thulaihah hanya menyuruh Uyainah bertempur sebisanya.

Ketika pasukannya semakin terdesak dan tidak punya harapan untuk menang, Thulaihah dan istrinya menunggang kuda kabur berdua sampai ke negeri Syam (Suriah).

Di Syam dia menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk bertobat.

Setelah bertobat, keislaman Thulaihah menjadi semakin baik. Dia sempat beribadah umrah ke Mekah.

Thulaihah bahkan bergabung dalam pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid, orang yang dulu mengejar-ngejar dia dan sangat ingin penggal lehernya. Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk melibatkan Thulaihah dalam menyusun strategi perang tapi tidak menjadikannya pemimpin. Hal ini menunjukkan bahwa sang khalifah mengakui kemampuan Thulaihah di medan perang tapi juga mewaspadainya karena khawatir ada kemungkinan Thulaihah berkhianat lagi.

Karena malu, Thulaihah tidak berani bertemu Khalifah Abu Bakar hingga sang khalifah wafat.

Di jaman Khalifah Umar bin Khattab, Thulaihah datang ke Madinah dan menemui sang khalifah. Umar berkata, “Menjauhlah dariku karena kau telah membunuh 2 orang soleh!” Maksudnya adalah utusan yang dulu dikirim Khalid bin Walid.

Thulaihah menjawab dengan kalimat yang membuat Umar kagum sehingga memaafkannya, “Wahai Amirul Mukminin, mereka telah dimuliakan Allah swt (dengan mati syahid) melalui tanganku, sedangkan aku bukan orang yang dihinakan Allah swt melalui tangan mereka.”

Thulaihah mengikuti beberapa pertempuran melawan Romawi dan Persia. Aksi tergregetnya dia lakukan ketika melawan Persia di Perang Qadisiyah. Perang ini adalah salah satu perang terbesar dan paling banyak memakan korban dalam sejarah kaum muslimin melawan negara adidaya saat itu yaitu Persia yang menganut agama Majusi alias penyembah api. (selengkapnya silakan baca chapter sebelumnya tentang Sa’ad bin Abi Waqqash)

Panglima perang Qadisiyah yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mementuk regu kecil yang di dalamnya ada Thulaihah. Tugas mereka adalah melakukan infiltrasi alias penyusupan ke wilayah musuh dan memata-matai kekuatan pasukan mereka.

Baru beberapa kilometer berjalan dari pangkalan militer kaum muslimin, mereka menemukan pasukan kavaleri Persia bersenjata lengkap dengan jumlah yang sangat banyak hingga memenuhi lereng bukit. Regu kecil itu langsung berniat untuk kembali dan melaporkan keadaan pasukan musuh di depan mereka, namun Thulaihah menolak. Dia berpendapat bahwa yang mereka lihat itu hanya sebagian pasukan musuh. Thulaihah yakin bahwa jauh di belakang sana masih ada banyak lagi pasukan musuh yang harus dimata-matai. Setelah agak bersikeras dengan pendapat masing-masing, kelompok ini memutuskan untuk kembali kecuali Thulaihah. Dia nekat untuk maju, masuk lebih dalam ke wilayah musuh sendirian.

Setelah agak jauh memasuki wilayah musuh, ternyata prediksi Thulaihah benar. Pasukan yang dia dan regunya lihat tadi ternyata hanya salah satu bagian dari pasukan Persia. Saat itu dia melihat pasukan dengan jumlah yang luwar biyasa.
Thulaihah tidak berhenti sampai situ. Dia masih meneruskan misi solonya dan masuk lebih dalam. Setelah mengarungi medan yang sulit, melawan arus sungai, sampailah dia di markas militer Persia yang terdapat panglima tertinggi musuh di dalamnya.

Sudah jalan jauh-jauh kalo cuma memata-matai ngga ada gregetnya. Mungkin begitu pikir Thulaihah. Maka di malam hari dia menyerbu mabes tentara Persia berisi 80.000 prajurit sendirian.

Thulaihah mencabut pedang, berlari kesana kemari sambil meneriakkan takbir berulang ulang, memutuskan tali-tali tenda musuh, lalu melemparinya dengan obor-obor yang dia temukan.

Takbir yang dia teriakkan berulang-ulang, tenda-tenda yang terbakar di mana-mana membuat tentara Persia heboh karena mengira pasukan muslimin menyerang.

Selain sukses membuat kacau, Thulaihah juga berhasil mengambil kuda terbaik milik prajurit Persia.

Begitu ketahuan, pasukan Persia buru-buru mengejar dengan mengikuti jejak kaki kuda Thulaihah.

Menjelang pagi, seorang prajurit berhasil mengejarnya. Hanya dengan satu gerakan, Thulaihah berhasil membuat si prajurit jatuh dan segera dia selesaikan dengan tombaknya.

Ada lagi prajurit datang, Thulaihah selesaikan dengan cara yang sama. Melihat 2 mayat tergeletak, prajurit ke tiga marah dan semakin tidak sabar ingin menghabisi Thulaihah. Begitu berhasil menyusul, lagi-lagi Thulaihah berhasil menjatuhkan musuhnya. Kali ini dia tidak menghabisi si prajurit tapi mengancam agar mau menjadi tawanannya.

Si Persia sadar jika tidak menyerah pasti akan segera menyusul 2 temannya dan dia pun menyerah. Thulaihah menjadikannya sebagai tawanan dan menyuruhnya berjalan di depan.

Sementara itu di belakang mereka berdua, tentara Persia masih mengejar tapi kemudian memutuskan untuk kembali karena Thulaihah dan tawanannya sudah dekat markas pasukan muslimin.

Begitu sampai di markas, sang panglima yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash kaget.
“Celakalah engkau! Apa yang kau lakukan ini?” tanya sang panglima.

“Semalam aku memasuki markas musuh untuk mengintai. Aku membawa orang dengan ciri-ciri terbaik, tapi aku tidak tahu apa aku menangkap orang yang benar atau tidak. Ini orangnya. Silakan kau interogasi.” Jawab Thulaihah.

Sebelum memberi jawaban pertanyaan yang diajukan penginterogasi, si prajurit Persia malah bercerita tentang aksi greget Thulaihah, bagaimana dia melewati 2 markas Persia yang dijaga ribuan tentara, bagaimana dia mengalahkan 2 prajurit terkuat mereka, dll.

Mungkin karena perlakuan yang baik atau kagum dengan akhlak kaum muslimin, si Persia ini masuk Islam. Ternyata dia bukan prajurit kelas teri yang tidak tahu apa-apa. Dia memang paham seluk beluk kekuatan militer negaranya dan menceritakannya. Berkat aksi greget Thulaihah, kaum muslim mendapat sumber informasi berharga untuk menyusun strategi menghadapi musuhnya.

Tibalah hari meletusnya pertempuran. Di hari pertama, 30.000 tentara muslimin berhadapan dengan 52.000 (itu baru sebagian) serdadu Persia. Pihak pasukan musyrikin menerjunkan 9 pasukan gajah, memasang duri-duri besi sepanjang jalan, dan menghujani para mujahidin dengan anak panah. Mereka juga punya manjaniq (semacam ketapel raksasa).

Menyadari kesulitan yang dihadapi, Sa’ad sang panglima kaum muslimin memerintahkan suku terkuat di bagian sayap kanan pasukan yaitu Suku Asad untuk menyerang. Thulaihah selaku kepala suku langsung angkat bicara, berorasi di depan sukunya, mengapresiasi kepercayaan sang panglima kepada sukunya, mengingatkan para pengikutnya akan kehebatan yang ada dalam diri mereka, dan mengajak mereka bertarung layaknya asad (singa) yang terus menyerang dengan ganas.

Setelah mengucap basmalah, bertempurlah Suku Asad dengan sekuat tenaga melawan tentara negara adidaya yang lebih unggul dari segi jumlah, senjata, dan pengalaman. Kavaleri (pasukan berkuda) Asad harus berhadapan dengan kavaleri gajah Persia yang mengangkut para pemanah.

Di tengah meriahnya pertarungan para penunggang kuda VS penunggang gajah, muncullah seorang prajurit Persia yang paling besar, langsung disambut oleh tentara terhebat Asad siapa lagi kalau bukan Thulaihah. Ga pake lama, si Persia sudah terkapar tak bernyawa.

Sang panglima Persia yang bernama Jalinus juga muncul. Thulaihah menebaskan pedang hingga memecahkan helm Jalinus yang tebal, tapi tidak tembus ke kepalanya.

Aksi Thulaihah dan sukunya membuat kaum muslimin kagum. Seorang dari Suku Kindah berpidato di depan kaumnya berkata,

”Wahai Bani Kindah, mengagumkan sekali apa yang dilakukan Bani Asad. Tidak ada tempat yang mereka jadikan tujuan melarikan diri. Tidak ada tempat yang mereka jadikan posisi bertahan.

Maka Suku Asad yang dulu murtad berjamaah bersama pimpinan mereka yang menjadi nabi palsu dan memerangi kaum muslimin, hari itu menjadi pahlawan bagi kaum muslimin hingga 500 personel mereka gugur sebagai syuhada.

Di hari lain masih di perang Qadisiyah, Thulaihah diam-diam menerobos garis pertahanan pasukan Persia dan tiba tiba muncul di belakang mereka, bertakbir tiga kali, sehingga membuat pasukan Persia kebingungan mengira kaum muslimin menyerang dari belakang mereka.
Thulaihah lalu berteriak, “Jangan remehkan sesuatu yang bisa menjadkan kalian terhina!”

Setelah meraih kemenangan di Perang Qadisiyah, Thulaihah juga melakukan aksi-aksi greget pada Perang Nahawand yang menjadi puncak pertempuran muslimin VS musyrikin Majusi Persia. Saat itu 30.000 mujahidin harus melawan 150.000 prajurit musyrikin.

Sebagai langkah awal, jendral Nu’man bin Muqarrin mengirim pasukan intelijen dengan Thulaihah di dalamnya. Mereka bertugas sebagai mata-mata.

Ternyata hanya Thulaihah yang berhasil menyusup ke dalam pasukan Persia, bahkan berhasil membunuh beberapa perwira mereka dan menyandera salah satu pimpinan mereka sehingga berhasil mendapatkan data akurat tentang kekuatan musuh. Dari situ Thulaihah juga bisa memastikan bahwa rute yang akan dilalui kaum muslimin aman.

Ketika kedua pasukan bertemu, ternyata 150.000 tentara Persia hanya bertahan di dalam benteng dan parit-parit yang mereka buat. Maka Jendral Nu’man mengumpulkan para ahli strategi termasuk Thulaihah. Mereka menyusun siasat untuk memancing musuh keluar benteng. Thulaihah pun mengusulkan sebuah ide brilian dan langsung disepakati.

Skenario dimulai dengan dikirimnya satu pasukan khusus untuk mendekat benteng Persia dan menyerang dengan panah untuk memancing emosi lawan. Musuh terpancing. Pasukan yang di benteng langsung menyerang balik dan menghujani dengan anak panah, keluar benteng seperti yang Thulaihah rencanakan dan terus menggempur para mujahidin sekuat tenaga. Maka pasukan khusus pihak muslimin pun mundur perlahan dalam posisi bertahan. Banyak yang terluka dan mengeluhkan strategi ini. Pasukan muslimin yang di belakang pun mencopot tenda tenda mereka dan berlari mundur pura-pura kabur.

Pertempuran berlangsung sejak ba’da dhuhur. Menjelang matahari terbenam, Jendran Nu’man bertakbir 3X tanda perintah untuk menyerang balik sekuat tenaga. Maka pasukan musyrikin yang lagi asik nguber-uber pasukan muslimin segera sadar bahwa mereka sudah masuk perangkap.

Pertempuran berlanjut hingga malam. Kaum muslimin tidak membiarkan lawannya lolos. Pasukan Persia terpukul mundur menjauhi rute yang bisa mereka gunakan untuk kabur dan malah terpojok hingga jatuh ke jurang.

Diperkirakan 30.000 prajurit Persia tewas dalam pertempuran sedangkan 80.000 lainnya terdesak hingga jatuh ke jurang.

Perang Nahawand di tahun 19H ini menjadi puncak dari rangkaian pertempuran melawan Persia. Wilayah yang dibebaskan kaum muslimin dari cengkeraman kekuasaan imperium musyrik Majusi itu sampai sekarang menjadi negara-negara muslim. Kemenangan besar ini tidak terlepas dari ide brilian Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi, si mantan nabi palsu yang akhirnya menjadi pahlawan.

Perang ini juga menjadi happy ending untuk perjalanan hidup Thulaihah yang penuh hal greget karena di situlah dia mendapat gelar kehormatan dari Allah swt yang didambakan setiap muslim yaitu gelar syuhada.

Kita sebenarnya punya banyak tokoh hebat yang layak untuk dijadikan idola dan kisah hidupnya layak dijadikan pelajaran. Cuman kitanya aja yang ngga tau dan malah lebih kenal tokoh-tokoh fiksi yang minim manfaat.

Ikuti terus seri Fakta-fakta Greget Sahabat-sahabat Nabi Paling Greget hanya di fanspage Ustadz Kirito!


Sumber:

  • Ensiklopedi Sahabat, karya Syaikh Mahmud Al Misri
  • Tinta Emas Sejarah, karya Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd.
Baca Juga