Inilah Bagian Tubuh Wanita Yang Boleh dilihat Saat Dilamar

Iklan Semua Halaman

Inilah Bagian Tubuh Wanita Yang Boleh dilihat Saat Dilamar

Admin
Kamis, 26 Maret 2020

Asianmuslim.com - Memahami permasalahan ini sangat penting karena erat kaitannya dengan masalah boleh dan tidak boleh. Perlu diketahui bahwa khitbah atau lamaran bukan bagian dari aqad. Konsekuensinya adalah status keduanya bukan mahram alias bukan suamai-istri, yang masih terhalang oleh batasan-batasan syariat antar keduanya. 

Namun demikian saat prosesi lamaran ada kebolehan bagi calon pengantin pria melihat bagian-bagian tertentu dari tubuh calon pengantin wanita. Bagian apa saja yang boleh dilihat oleh calon mempelai pria?

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, yang menyatakan disyariatkannya memandang perempuan yang dilamar, bahwa para ulama sepakat boleh memandang tangan dan wajahnya.

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang kadar yang dibolehkan dipandang lebih dari itu menjadi empat pendapat.

Pertama: Tidak Boleh Memandang Kecuali Bagian Wajah Dan Tangannya Saja.


Inilah yang menjadi pendapat jumhur ulama, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah, dan merupakan salah satu pendapat di kalangan Hanabilah. Mereka beralasan karena wajah merupakan pusat kecantikan dan fokus pandangan. Wajah jugalah yang menunjukkan kecantikan seorang perempuan, sedang telapak tangan menunjukkan kesuburan dirinya. Selain itu, wajah dan telapak tangan adalah bagian tubuh yang biasa terlihat, maka tidak boleh melihat bagian yang biasanya tidak terlihat.

Kedua: Boleh Memandang Bagian Yang Biasa Terlihat Dari Tubuh Perempuan,seperti lutut, tangan dan telapak kaki. 

Ini adalah pendapat yang kuat dalam madzhab Hanabilah. Alasan mereka adalah karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi izin untuk memandang perempuan yang dilamar tanpa sepengetahuan si perempuan. Ini menunjukkan bahwa beliau memberi izin untuk memandang seluruh bagian tubuhnya yang biasa tampak. Selain itu, perempuan yang dilamar adalah perempuan yang syariat telah membolehkan memandangnya, karena itu dibolehkan memandang bagian yang biasa tampak darinya seperti para mahramnya.

Telah diriwayatkan dari Abu Ja‘far al-Baqir bahwa dia berkata, “Umar melamar putri Ali kepada Ali. Ali berkata, ‘Dia masih kecil.’ Maka ada orang yang mengatakan kepada Umar bahwa maksud Ali adalah menolak lamarannya.” Abu Ja‘far berkata, “Maka Umar mengajak Ali berbicara. Ali pun berkata, ‘Aku akan mengirimnya kepadamu. Jika kau suka, maka dia jadi istrimu.” Abu Ja‘far berkata, “Maka Ali mengirim putrinya itu kepada Umar. Umar pun maju lalu membuka penutup betisnya. Putri Ali berkata, ‘Lepaskan. Kalau saja kamu bukan Amirul Mukminin, pastilah aku pukul lehermu.” Di dalam sanadnya ada yang terputus.

Ketiga: Boleh Memandang Bagian Apa Saja Yang Ingin Dia Lihat Kecuali Auratnya. Ini pendapat al-Auza‘i.

Keempat: Boleh Memandang Seluruh Bagian Tubuhnya. 

Ini pendapat Daud bin Hazm dan riwayat yang ketiga dari Ahmad. Ini berdasarkan zahir sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Lihatlah dia.”

Penulis berkata: Pendapat yang rajih yang menenangkan hati adalah bahwa jika seorang laki-laki pergi untuk melamar seorang perempuan, maka perempuan tersebut menampakkan kepada laki-laki itu wajah dan kedua telapak tangannya sebagaimana yang dinyatakan oleh jumhur ulama. Adapun jika laki-laki itu memilih mengintipnya, maka dia boleh memandang apa yang bisa menarik dirinya untuk menikahi perempuan itu. Tidak boleh dia meminta si perempuan menampakkan lebih daripada wajah dan kedua telapak tangan. Namun, dia boleh meminta informasi tentang hal-hal selain itu, dan boleh pula ibu atau adik perempuannya yang melihatkan untuknya. Atau, dia bisa melihatnya secara diam-diam. Inilah pendapat yang menurutku bisa menjadi solusi pengganti bagi pendapat yang membolehkan memandang lebih dari wajah dan telapak tangan. Wallahu a‘lam.

Apakah Dalam Memandang Wanita Yang Dilamar Disyaratkan Harus dengan Seizin Dan Sepengetahuan Yang Bersangkutan?

Jumhur ulama berpendapat bahwa dalam memandang perempuan yang dilamar tidak disyaratkan harus dengan sepengetahuan yang bersangkutan atau seizinnya atau seizin walinya. Sudah cukup dengan adanya izin dari syariat dan kemutlakan dalil-dalil yang memerintahkan memandang perempuan yang dilamar. Misalnya, hadits Jabir yang lalu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَقَدِرَ أَنْ يَرَى مِنْهَا بَعْضَ مَا يَدْعُوهُ إِلَيْهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika salah seorang dari kalian melamar seorang perempuan dan punya kesempatan melihat bagian dari perempuan itu yang bisa membuat dia tertarik kepadanya, maka hendaklah dia melakukannya.”

Jabir kemudian berkata, “Maka saat aku melamar seorang perempuan, aku melihatnya secara sembunyi-sembunyi hingga aku melihat darinya apa yang menarik hatiku untuk menikahinya. Maka aku pun menikahinya.”

Terdapat pula hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَتِهَا، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَمُ

“Jika seseorang dari kalian melamar seorang perempuan, maka tidak mengapa baginya untuk melihat perempuan tersebut apabila dia melihatnya hanya dalam rangka melamarnya, meskipun perempuan tersebut tidak mengetahuinya.”

Hadits ini -jika memang valid- merupakan nash yang jelas dalam masalah ini.

Bahkan sebagian ulama berkata, “Justru jauh lebih baik jika tidak memberitahu perempuan tersebut. Karena kalau perempuan itu tahu, maka dia bisa berhias lebih dahulu dengan hiasan yang mempesona laki-laki yang melamarnya sehingga tidak tercapai tujuan melihatnya, yaitu melihatnya dalam keadaan aslinya.”

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wajib memberitahu pihak perempuan atau walinya jika ingin melihatnya, karena jika tidak wajib, maka orang-orang fasik akan menjadikannya peluang untuk melihat perempuan dengan beralasan bahwa mereka bermaksud melamar.

Penulis berkata: Pendapat jumhur ulamalah yang paling dekat dengan nash-nash yang ada. Kemudian, kalau memungkinkan bagi laki-laki untuk melihat secara sembunyi-sembunyi perempuan yang akan dilamarnya sebelum benar-benar melamarnya, maka itu lebih baik lagi karena bisa jadi lamarannya ditolak atau dia sendiri berpaling sehingga menimbulkan rasa sakit dan patah hati (di hati keduanya).

Bolehkah Memandang Wanita Yang Dilamar Dengan Syahwat Atau Dengan Maksud Merasakan Kenikmatan Seksual?

Agar boleh memandangnya, ulama Hanabilah menetapkan syarat aman dari fitnah. Mereka berkata, “Adapun mengenai memandang perempuan yang dilamar dengan maksud merasakan kenikmatan seksual atau dengan syahwat, maka haram hukumnya.”

Sedangkan jumhur ulama tidak mensyaratkan hal itu. Mereka mengatakan bahwa seorang pelamar boleh melihat perempuan yang dilamar dengan tujuan menikahinya sekalipun dia merasa khawatir dia akan terangsang kepadanya atau khawatir muncul fitnah. Ini berdasarkan dua alasan berikut.

  1. Hadits-hadits yang menyatakan disyariatkannya melihat perempuan yang dilamar tidak membatasinya dengan syarat tersebut.
  2. Maslahat yang didapatkan dari melihat perempuan yang dilamar jauh lebih besar daripada mafsadat yang ditimbulkannya.[2]

Bolehkah Berulang kali Memandang Wanita Yang Dilamar?

Jika memang merasa perlu, pelamar boleh mengulang proses memandang perempuan yang dilamarnya dan mengamati kecantikannya. Jika dia melakukan itu tanpa sepengetahuan si perempuan, maka akan jauh lebih baik. Tujuannya agar rupa dan sifat asli perempuan itu benar-benar menjadi jelas baginya sehingga dia tidak akan menyesal setelah menikah. Sebab, tujuan tersebut seringnya tidak tercapai pada pandangan pertama. Hanya saja, pelamar harus bisa membatasinya sekadar yang dia perlukan saja untuk memantapkan alasannya tertarik kepada perempuan tersebut. Jika dengan sekali atau beberapa kali melihat dia merasa cukup dan merasa mantap menikah dengannya--, maka haram baginya menambah lebih daripada itu karena syariat membolehkan memandang tersebut hanya untuk satu keperluan yang mengikatnya dan perempuan tersebut tetaplah seorang ajnabiyah baginya hingga dia melaksanakan akad nikah dengannya.

Penulis berkata: Berdasarkan hal itu, maka tidak sepatutnya pelamar mempersering pertemuannya dengan perempuan yang dilamarnya sebagaimana yang banyak terjadi pada masa sekarang. Sering kita jumpai seorang pelamar bertamu hampir setiap hari untuk menemui perempuan yang dilamarnya. Duduk berduaan dengannya berjam-jam lamanya sambil terus-menerus memandangnya, padahal sebenarnya sejak awal dia sudah mantap menikahinya. Dia mengulang-ulang melakukan hal itu bukan untuk memantapkan hatinya menikahi perempuan itu, akan tetapi boleh jadi karena ingin menikmati kecantikannya. Tidak ada keraguan bahwa yang seperti itu tidak boleh dia lakukan karena perempuan itu statusnya masih perempuan ajnabiyah baginya.

Bagaimana Jika Wanita Yang Dilamar Tidak Menarik Hati Pelamarnya?

Jika setelah memandang perempuan yang ingin dinikahi, seorang pelamar tidak juga tertarik hatinya, maka hendaknya dia diam dan tidak menyebarkan cerita yang bisa menyakiti hati perempuan tersebut dan keluarganya. Sebab, boleh jadi ada pelamar lain yang justru terpikat dengan apa yang dianggap buruk oleh pelamar pertama dari perempuan tersebut. Tidak boleh pula dia mengatakan, “Aku tidak menginginkan dirinya.” Sebab, ucapan seperti itu menyakitkan hati.

Cukupkah Hanya Dengan Melihat Gambar (foto) Wanita Yang Dilamar?

Pelamar boleh melihat gambar perempuan yang dilamarnya, baik berupa foto maupun video, karena semua itu tercakup dalam keumuman dalil-dalil yang menganjurkan pelamar untuk melihat bagian yang bisa menarik hatinya untuk menikahi perempuan yang dilamar.

Cara ini lebih ditekankan lagi dalam situasi di mana perempuan yang dilamar berada di tempat yang jauh dari tempat tinggal pelamar. Hanya saja perlu diingatkan di sini bahwa cara ini rentan terhadap penipuan. Terkadang foto yang diberikan adalah palsu di mana orang yang ditampilkan tidak dalam keadaannya yang sebenarnya. Terkadang pula juru foto melakukan muslihat dengan membuat perempuan jelek menjadi kelihatan cantik. Atau, pelamar diberikan foto perempuan lain, bukan yang ingin dinikahi oleh pelamar. Terkadang pula foto itu memberi mudarat kepada pihak perempuan dan keluarganya karena tersebar ke banyak orang yang tidak berkepentingan.

Demikian penjelasan lengkap mengenai hukum melihat bagian tubuh wanita yang dilamar beserta dalil-dalilnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk referensi dalam menjawab persoalan lamaran atau khitbah menurut islam. Wallohu a'lam.

Sumber: Kitab Shahih Fiqh Sunnah (Abu Kamal)