Fakta-fakta Sejarah Kekaisaran Persia

Iklan Semua Halaman

Fakta-fakta Sejarah Kekaisaran Persia

Admin
Sabtu, 18 April 2020

Asianmuslim.com - Persia adalah sebuah nama yang sangat lekat dalam kehidupan sejarah kaum muslimin. Tatkala Rasulullah SAW berada di Makkah, nama Persia telah menghiasi suasana politik kaum muslimin dalam perseteruan mereka dengan orang-orang kafir. Saat itu Persia menang perang atas Romawi hingga kota suci Yerrusalem berhasil dikuasai mereka. Orang-orang kafir Quraisy di Makkah menandai kejadian itu sebagai isyarat kelemahan agama ilahiah melawan kekuatan kekafiran yang diwakili penganut majusi (penyembah api) bangsa Persia. Peristiwa itu diriwayatkan Ibnu Hatim dan Ibnu Jarir dari Ibnu Syihab, Ikrimah, Yahya bin Ya’mar dan Qatadah.

Ketika berada di Madinah pun Nabi pernah didatangi seorang pemuda yang haus akan kebenaran dan kemudian masuk Islam, yaitu Salman yang bergelar al-Farisi. Peranan Salman sangat besar dalam da’wah Islam, terutama dalam perang Ahzab. Dalam perang itu, beliau menyumbangkan gagasannya yang cemerlang, membuat parit perlindungan yang mengelilingi kota Madinah sehingga musuh gagal masuk ke dalam kota. Konon, nama Persia adalah nama asli bercorak Timur dan mulai digunakan secara lebih meluas pada abad Pertengahan. Nama itu menunjuk kepada negara-negara yang menempati wilayah Iran. Nama itu juga kadang disandarkan kepada Persia yang dikenal oleh bangsa Assyria sebagai penduduk yang menempati Media (844 SM).

Faris digunakan oleh kaum muslimin untuk menunjuk wilayah yang sama. Bahkan istilah “al-furs” sudah dikenal sebelum masa lslam dalam literatur-literatur Arab kuno. Orang Arab juga kadangkala mengunakan istilah “ajam” bagi bangsabangsa di wilayah itu.

Kerajaan Tua

Kerajaan Persia merupakan kerajaan tua yang telah memainkan peranan penting dalam peradaban dunia. Bersama kerajaan Rumawi, Persia telah mengontrol bagian-bagian penting dunia saat itu, seperti Asia Tengah dan Timur Tengah. Dari kerajaan ini lahir pula tokoh-tokoh legendaris yang namanya tercatat hingga kini.

Sejak abad ke-9 sebelum masehi, kerajaan Persia telah kokoh keberadaannya. Beberapa dinasti silih berganti mewarnai kekuasaan kerajaan itu. Dinasti-dinasti itu berhasil mencapai peradabannya yang tinggi, misalnya Visyda, Kayaniyah (Achaenenia) dengan rajanya yang terkenal Darius Kilasarus [534 SM(?)] dan putranya Cyrus (550-530 SM). Raja. Cyrus sangat terkenal di kalangan bangsa Arab sehingga mereka menamai setiap raja Persia dengan Kisra.

Selama beberapa abad, Persia pernah menjadi wilayah jajahan Romawi tatkala Alexander the Great menyerang negara itu.Darius III (336-330 SM) raja terakhir dinasti Achaemenides bertempur habis-habisan dengan kaisar dari wilayah Macedonia itu. Dalam pertempuran itu Darius tewas dan lahirlah kekuasaan Greek di tanah Iran sampai Asia Tengah selama beberapa abad lamanya. Kebudayaan Hellenisme dipaksakan diwilayah itu dan sangat mempengaruhi agama dan tradisi Persia.

Setelah kekuasaan Greek hapus masih lahir beberapa dinasti lagi, diantaranya dinasti Hastasapas dan terakhir dinasti Sasanid. Dinasti Sasanid (226-651 M) kembali menaikkan gengsi kerajaan Persia terutama pada abad keempat, setelah kerajaan itu meredup. Kerajaannya meliputi wilayah Timur dan Barat, termasuk di dalamnya Iran, Afghanistan Timur, tanah-tanah steppa di Asia Tengah, Annenia dan Mesopotamia. Kebalikannya dengan masa sebelumnya, pada era dinasti ini Romawi berada di bawah kontrol Persia.

Kejayaan dinasti Sasanid membawa negeri itu kepada kejayaan perdagangan internasionalnya. Persia menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di belahan dunia ini. Penguasaan Persia terhadap perdagangan terutama yang berkaitan dengan perdagangan darat, sebab jalur Samudera Hindia tidak mampu dikuasainya.

Kejayaan dinasti Sasanid ini juga tergambar dari kekokohan bangunan-bangunan yang didirikannya. Ketika kaum muslimin menguasai wilayah ini, beberapa abad kemudian mereka mengalami kesulitan membongkar dan mengubah bangunan-bangunan Persia.

Keunggulan teknologi kerajaan Persia demikian dikagumi sampai beberapa generasi sesudah khalifah-khalifah Abbasiyah berkuasa. Ibnu Khaldun menggambarkan betapa hebatnya Balai Pertemuan Khosraw sebagaimana yang disaksikannya sendiri. Begitu kokohnya hingga sewaktu

Harun ar-Rasyid bertekad menghancurkannya dan merobohkannya, dia sendiri tidak mampu dan mengalami kesukaran. Namun dia memulainya juga. Kisah tentang bagaimana Harun meminta nasehat kepada Yahya Ibn Khalid sangat terkenal. Ini merupakan kisah yang sangat berharga di mana satu dinasti dapat mendirikan bangunan tapi tidak bisa dihancurkan oleh dinasti lainnya. Padahal menghancurkan bangunan lebih mudah daripada membangunnya.

Zoroaster

Agama yang dianut masyarakat Persia adalah agama Zarathustra yang dalam literatur Arab disebut agama Majusi. Literatur Barat menyebutnya sebagai Mazdaisme. Keyakinan di dalam agama itu menyatakan bahwa alam semesta itu dikuasai oleh dua kodrat yang saling bertentangan dan berlawanan terus menerus, yaitu Abura Mazda (Ormudz) dan Angro-Mayu (Abriman). Ahura mazda merupakan kodrat Maha Bijaksana dan Angro-Mayu merupakan kodrat yang Angkara Murka.

Manusia diwajibkan untuk ikut kepada kodrat Maha Bijaksana dengan melakukan pemujaan dan kebaktian kepadanya. Dan pemujaan itu harus membayang pada sikap hidupnya, yaitu bmnata (pikiran baik) dan buk/nata (perkataan baik). Makin banyak manusia yang memihak Ahura Mazda maka Angro Mayu semakin tidak berdaya.

Perlambang bagi Ahura Mazda adalah api. Maka pada setiap kota dan tempat berdiri Kuil Api untuk pemujaan dan kebaktian. Api pada altar tetap menyala terus menerus. Kebaktian dituntun oleh para pendeta dan imam.

Kitab suci agama Zarathustra adalah Avesta (bacaan). Kitab itu saat ini hanya terdiri dari lima buah kitab saja, yaitu, Yasna, Vispered, Vendidad, Yasht, dan Khorda Avesta. Kitab Suci Avesta "pada masa Zarathustra (660-5 83 SM) terdiri dari 21 buah, namun pada masa penaklukan Alexander The Great terjadilah pemusnahan luar biasa terhadap literatur Iran Tua. Sebaliknya, bahasa Greek dan pemujaan terhadap dewa-dewa dipaksakan. Hanya ada dua naskah kitab Avesta yang kemudian salah satunya dikirimkan Alexander kepada Aristoteles (384-322 SM), gurunya di Athena; Satu kitab lagi dimusnahkan.

Abad pertama Masehi, pada masa pemerintahan Vologeses I (51-77 M) dari dinasti Arsacids timbul ikhtiar untuk menyusun kitab Avesta kembali. Kemudian dikumpulkanlah naskah-naskah tua yang masrh tertinggal di. kalangan para bangsawan. Hasilnya adalah lima buah kitab Avesta sebagaimanayang dijumpai belakangan, itupun dengan penambahan-penambahan di sana-sini.

Pada penambahan itulah masuk ajaran-ajaran bangsa Greek yang telah berpengaruh di kalangan bangsa Iran selama beberapa ratus tahun. Ajaran itulah yang disebut dengan Mazdaism. Keaslian ajaran Zarathustra hanya dapat ditelusuri pada sebagian dari kitab Yusna yaitu Gatha.

Konon Zarathustra dilahirkan di wilayah Azerbaiyan dan mulai mendapat ilham untuk menyampaikan ajarannya pada usia 40 tahun. Pada mulanya hanya sedikit orang yang mau mengikuti ajarannya. Namun akhirnya ia bertemu dengan raja Vishtaspa yang terkenal adil dan haus untuk menemukan “kebenaran”. Pertemuannya ini menyebabakabn sang raja masuk ke dalam ajaran yang disebarkannya dan sangat berkembang luas pada masaxpemerintahan cucunya, Cyrus the Great (550-530 SM).

Kebangkitan dinasti Sasanid (226 M) memapankan agama majusi ini dalam kerajaan Persia, karena raja-raja mereka menjadikannya sebagai agama resmi negara.

Kontak Muhammad SAW dengan Kaisar Persia

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Kisra adalah gelar dari raja-raja Persia. Pada masa Nabi SAW hidup yang menjadi raja adalah Abrawiz bin Hurmuz bin Anusyirwan. Dia adalah raja yang besar dan terkenal dari dinasti terakhir Persia, Sasanid. Dia membangun pendapo kerajaan yang cukup megah. Abrawiz berkuasa memangku jabatan selama 48 tahun.

Seorang sahabat bernama Abdullah bin Hudzaifah Assahami diutus Nabi SAW kepada Kisra untuk menyampaikan surat. Abdullah termasuk orang yang sering berkunjung kepada Kisra. Ketika sampai ke hadapan Kisra, ia pun menyerahkan surat Nabi SAW yang isinya, “Bismillahirrahmanirrahiim. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Kisra penguasa rakyat Persia. Salam bagi yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah yang tunggal, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya. Aku mengajak dengan seruan Allah. Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada seluruh ummat manusia supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir. Masuklah islam, kamu akan selamat. Bila kamu menolak sesungguhnya kamu memikul dosa orang-orang Majusi.”

Setelah surat Nabi SAW tersebut dibaca langsung Kaisar Persia merobek-robek dan dicampakkannya seraya menghina Nabi SAW, “Siapakah orang itu yang mengajak aku menganut agamanya serta menuliskan namanya sebelum namaku?” Dia memerintahkan mengantongi seonggok pasir lalu diserahkan kepada Abdullah bin Hudzaifah untuk diteruskan kepada Nabi SAW sebagai hadiah. Diusirnya Abdullah dengan cara yang kasar tanpa menghargai sedikitpun kedudukannya sebagai utusan negara lain.

Abdullah melaporkan hasil perjalanannya kepada Nabi SAW dan menyerahkan tanah hadiah Kaisar Parsi tersebut. Dengan tenang Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya sebagaimana dia merobek-robek suratku. Dia mengirimkan sekantong pasir kepadaku dan kalian nanti akan menguasai seluruh tanah negerinya."

Sementara itu Kisra mempunyai kaki tangannya di Yaman bernama Badzan. Ia adalah orang keturunan Persia yang menjabat gubernur di tanah wilayah selatan jazirah Arabia itu. Kisra menulis surat kepada Badzan yang isinya memerintahkan agar ia mengirimkan beberapa orangnya kepada Muhammad SAW serta membawanya ke Persia untuk dihadapkan kepada Kisra.

Badzan mematuhi perintah tersebut dan mengutus dua orang petugas untuk menyampaikan surat yang isinya memerintahkan agar Rasulullah SAW pergi bersama mereka menghadap Kisra di Parsi atau setidak-tidaknya memberi jawaban.

Qohermanah, salah seorang utusan yang juga menjabat sebagai sekretaris dan akuntan wilayah Yaman, datang kepada Nabi SAW dan berkata, “ Syahinsyah Maharaja Kisra di dalam suratnya mengistruksikan gubernumya di Yaman, Badzan, untuk mengirim utusan yang akan menghadapkan anda kepada Kisra. Bila anda menuruti perintahnya maka bapak gubernur berkenan menyertakan surat kepada maharaja Kisra agar menjamin keselamatan serta tidak menganggu anda. Apabila anda tidak mengindahkannya maka anda akan menanggung sendiri akibatnya, sebagaimana yang akan ketahui dia pasti membinasakan anda bersama kaum anda serta menghancurkan negeri ini.”

Rasulullah SAW tidak merasa terusik dengan ancaman itu. Sebaliknya, beliau mengalihkan perhatian serta pandangannya ke masalah lain. Dilihatnya utusan itu mencukur licin jenggotnya dan membiarkan si kumis tumbuh tebal dan panjang. Tanya Nabi SAW, “Mengapa anda bermode seperti itu?“

Utusan itu menjawab, “Tuhan kami (Kisra) yang memerintahkan kami untuk berbuat demikian...“

Nabi SAW berkata, “Namun Tuhanku telah memerintahkan untuk membiarkan jenggot dan mencukur kumis."

Kemudian Nabi Muhammad SAW menceritakan sebuah kisah unik yang menceritakan peristiwa terbunuhnya Kisra di tangan anaknya sendiri yang bernama Syirawih dan menyuruh utusan tersebut untuk kembali ke negerinya. Mendengar kisah tersebut mereka merasa heran dan berkata, “Kami akan memilih langkah yang paling ringan dan mudah, mencatat ucapan anda dan melaporkannya kepada Badzan.”

Nabi SAW berkata, “Sampaikan hal itu kepada Badzan atau yang lebih dari itu. Sampaikan kepadanya bahwa agamaku akan sampai ke ujung peloksok bumi tempat kaki onta dan telapak kuda berpijak. Sampaikan kepada Badzan, bila dia memeluk Islam akan aku biarkan dia memiliki apa yang sekarang menjadi miliknya dan akan aku angkat dia sebagai pemimpin kaumnya."

Nabi SAW memberikan hadiah sebuah ikat pinggang emas yang merupakan pemberian dari seorang raja kepada beliau. Kemudian kedua utusan itupun kembalilah dan menceritakan segala yang dialaminya kepada Badzan. Badzan berkata, “Orang itu ucapannya bagai seorang raja. Aku berpendapat orang itu betul Nabi sebagaimana yang dikatakannya. Apa yang dikatakannya pasti benar. Kalau memang benar maka dia Nabi yang diutus, kalau berita itu tidak benar maka kita akan pikirkan kemudian."

Tidak lama kemudlan Badzan menerima surat dari Syirawih, putra Abrawiz, Kaisar Persia yang telah menghina Nabi SAW. Syirawih memberitahukan dalam suratnya, “Aku telah membunuh Kisra karena kesetiaanku kepada Persia. Ayahku telah menghalalkan pertumpahan darah dengan membunuh dan menyembelih tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin masyarakat. Apabila sampai kepadamu suratku ini, tetap patuhlah kepada pimpinanku sebagaimana kepatuhanmu sebelumnya dan pergilah kepada orang yang pernah dikirimi surat oleh Kisra dan janganlah mengguncang dia sampai ada perintahku.”

Mendengar kejadian itu tunduklah hati Badzan. Ia percaya bahwa Muhammad adalah seorang Nabi yang harus ia imani. Ia pun segera mengumumkan keislamannya dan hal ini diikuti oleh orang-orang Persia yang berada di Yaman. [Majalah Ishlah]
Baca Juga