Agar Dakwahmu Membekas

Iklan Semua Halaman

Agar Dakwahmu Membekas

Admin
Minggu, 05 April 2020

Asianmuslim.com - Sebelum da'wah Islam disuarakan, masyarakat jahilyah sudah mengakui eksistensi akhlaq Muhammad bin Abdullah. Akhlaq yang mulia dan komitmen terhadap prinsip-prinsip da'wah merupakan faktor utama dalam da'wah Rasulullah saw. Sehingga tak ada alasan bagi masyarakat untuk menolak kebaikan yang ditawarkan oleh pribadi mulia tersebut. Kalau pun ada, itu karena kesombongan, keangkuhan, ketakaburan serta keberatan mereka terhadap konsekuensi menerima da'wah

Untuk membangun kembali da'wah ilallah yang muntijah (produktif), penting kiranya diperhatikan oleh segenap aktivis dakwah beberapa komitmen seorang da'i sejati sebagai estafet dakwah Rasulullah.

Da'wah kepada iman

Prinsip ini harus kokoh tertanam dalam hati para dai (juru da'wah). Di antara tugas muslim yang utama adalah mengajak seluruh manusia untuk beriman kepada Allah. Ajakan bukan berarti ancaman. Bukan juga tindakan menghakimi atau menteror pihak lain. Banyak pengaruh yang muncul dari orientasi da'wah yang murni mencari keridhaan Allah. Bagi jiwa da'i, ia akan terbebas dari dominasi dan pengaruh nafsu.

Semua langkah selalu dilakukan setelah penilaian melalui kata pandang bushirah (dalil yang jelas). bukan serampangan tindakan membabi buta. Jauh pula dari unsur sikap dengki, ria, dendam dan sebagainya. Sedangkan bagi pihak obyek da'wah, seruan da'i yang ikhlash, semakin menambah kesan dan kharismanya.

Dalam buku Thariqu Da'wah, Jasim Muhalhil, seorang aktivis da'wah di Kuwait, mengatakan rahasia amal da'wah itu terletak pada kalimat ikhlash. Sebab, disanalah seseorang akan merasakan keyakinan, ketenangan dan ketenteraman hati. Di samping hal itu pula yang menambahkan kesan objek da'wah. Keteguhan Rasulullah pada faktor ikhlash, menjadikan orang-orang kafir tak mampu menjerumuskan Rasul dalam perangkap tipu daya mereka.”

Qudwah sebelum Da'wah

Cerminan pribadi Rasulullah saw. dalam da'wah merupakan sebuah gambaran indah, betapa penting peran akhlaq dalam menancapkan keimanan di tengah masyarakat. Para ulama da'wah meletakan kaidah al-qudwah qabla ad da'wah (Contoh keteladanan sebelum da'wah). Bila poin ini telah dicapai maka langkah-langkah berikutnya akan lebih mudah diraih.

Keimanan dan akhlaq merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sempurnanya iman seseorang di ukur dengan ”nilai ukhuwah'nya. "Tidak sempurna iman seseorang diantaramu sehingga mencintai saudranya (sesama Muslim) sebagaimana ia mencitai dirinya sendiri.” (HR Bukhari Muslim)

Qudwah seorang da'i artinya menyesuaikan kata dan prilaku. Ustadz Husni Adham Jarrar, qudwah disebut da'wah bi Shumt (da'wah tanpa bicara. Masih menurut beliau, umumnya jiwa manusia lebih terkesan dengan contoh prilaku langsung, daripada lewat bicara. Tabi'at ini jelas terlihat pada prilaku manusia sejak anak-anak. Seorang anak, biasanya, cenderung meniru perbuatan orang lain. (al-Qudwah al-Hasanah, Jarrar).

Bila kita perhatikan, Rasulullah saw. dalam berda'wah juga tidak memberi porsi yang banyak terhadap nasihat lewat lisan. Beliau memiliki keistimewaan yang disebut, jawamiul kalim. artinya mengatakan sesuatu yang ringkas, tapi luas maknanya Sehingga dalam ilmu hadits, kita dapatkan, bahwa hadits fi'li (hadits yang berasal dari perbuatan Rasul yang disaksikan para sahabat) lebih banyak jumlahnya daripada hadits qauli (hadits dari perkataan Rasul saw.)

Selalu Bersikap Ihsan

Aktivitas utama seorang da'i di tengah masyarakat adalah menebarkan semerbak harum buah tarbiyah berupa rahmatan lil alamin dalam ucapan, gerak, tingkah laku hingga syu'ur (perasan) dan hatinya. Menurut Hasan al-Banna, buah kemantapan aqidah seorang mu'min hendaknya mampu menggugah rasa ghirah (kecemburuan terhadap agama), hamasah (semangat juang), dan rabithah (ikatan jiwa) yang membantu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Da'i tak dapat bersikap eksklusif atau tidak mesra di tengah masyarakatnya. Frame da'wah Islam pun tak boleh tersekat dalam ruang sempit atau dalam majelismajelis kajianan sirah Rasul saw. memerintahkan setiap mu'min berinteraksi aktif dan luas ditengah masyarakat. ”Seorang mu'min yang bergaul dengan orang banyak dan sabar atas tindakan-tindakan mereka yang menyakitkan, lebih baik dari orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas tindakan-tindakannya yang menyakitkan.” (HR Ahmad).

Sungguh indah masyarakat yang hendak dibangun para da'i dengan seiuta kebaikan yang dihasungnya. Di antara saham kebaikan da'i adalah perhatiannya dalam meringankan beban mu'min saudaranya. Sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang melapangkan suatu kesulitan didunia bagi orang mu'min, maka Allah pasti melapangkan baginya suatu kesulitan dihari kiamat.” (HR Muslim).

Sikap ihsan mutlak diperlukan bagi seorang da'i mengajak ummat menuju jalan Allah. Ia bagai hiasan utama agar setiap langkah da'i dinaungi barakah, rahmat dan ridha Allah swt. Dalam Islam, menahan kejahatan terhadap orang lain, menyingkirkan duri, kotoran dari tengah jalan pun merupakan suatu kebaikan. Sampai dalam bentuk senyum kepada sesama. Rasul saw. bersabda, “janganlah engkau remehkan sedikit pun dari kebaikan walaupun hanya senyum manis kepada saudaramu.” (HR Muslim).

Membalas Kejahatan dengan Kebaikan.

Tepat sekali apa yang dinasihatkan Lukman al-Hakim dalam hikmahnya, 'Wahai anakku, barang siapa mengatakan bahwa kejahatan bisa memadamkan kejahatan, maka jika itu benar maka, suruhlah ia menyalakan dua api, kemudian suruhlah ia melihat apakah api yang satu bisa memadamkan yang lain? Sesungguhnya kebaikan itu memadamkan kejahatan seperti air memadamkan api."

Rasulullah saw. selalu mengajarkan sikap memaafkan kesalahan. Bayangkan bila ujian, cacian, makian, kejahatan yang menimpa Rasul saw, dibalas secara emosi dengan tindakan serupa. Tentu da'wah akan sulit meraih simpatik. Yang terjadi malah, saling musuhan, saling cela, atau saling perang. Pesan memaafkan dan membalas kejahatan dengan kebaikan ini pernah disampaikan Imam syahid Hasan al-Banna, ”jadilah anda seperti pohon. Orang melemparinya dengan batu, tapi dibalas dengan buahnya.” Seorang da'i seharusnya memiliki komitmen untuk sabar dalam kondisi apapun.

Pelopor dalam Amal jama’i.

Potret keteladanan da'i bukanlah terletak pada ”sekedar konsep" namun lebih jauh dari itu. Penggerak, sekaligus penopang da'wah para da'i adalah orang-orang yang merintis dan mempelopori amal jama'i (bersama) bukan amal fardi (individu). Rangkaian aktivitasnya merupakan tongkat estafet dari para pendahulunya dan merupakan tonggak bagi generasi sesudahnya.

Keberhasilan da'wah Rasulullah bukan hanya dilaksanakan oleh beliau sendiri tetapi juga dukungan para sahabat yuang terkoordinasi dengan amaliyah da'wah. Dan semua aktivitas da'wah para sahabat dalam komando Rasul saw. sebagai qiyadah. Bukti kongkrit adalah terpetakannya sahabat ke berbagai negeri, “Inilah Abu Ayyub al Anshari yang dimakamkan di benteng Konstantinopel, Ummu Haraan binti Milhan yang dimakamkan di pulau Cyprus, Uqbah bin 'Amir dimakamkan di salah satu pekuburan Mesir, dan inilah Bilal yang dimakamkan di Damaskus." (Dr. Hamim Said, Qowaa'id lid-Da'wah ilallah, h. 53).

Dalam amal da'wah ada persoalan-persoalan yang hanya dapat terselesaikan secara jama'i, seperti shalat Jum'at, berukhuwah, berkeluarga, bermuamalah dan berbagai dimensi aktifitas manusia. Dengan berjama'ah, para da'i mendapat suasana kondusif untuk meningkatkan tsaqafah fikriyah maupun ruhiyah bahkan sebagai kontrol aktivitas. Sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang menginginkan keluasan surga, maka senantiasalah bersama kelompok (jama'ah) karena setan itu bersama satu orang, sedangkan ia akan lebih menjauhi dua orang.” (HR Tirmidzi, hasan shahih).

Disiplin

Sebagai bukti konkrit kemantapan tarbiyahnya, da'i senantiasa menjaga kedisiplinan berpegang teguh pada akhlaq mulia. Kedisiplinan yang lahir dari aktivitas ini tidak bersikap kaku tetapi justru luwes dan supel dalam batas-batas syar'i.

Ketinggian derajat mu'min diwujudkan melalui kedisiplinan iman antara hati, ucapan, dan perbuatan serta istiqamahnya dalam menjaga amal meskipun kecil. Sebagaimana pesan Rasulullah saw, bahwa amal yang baik adalah amal yang terus menerus meskipun sedikit. Bilal bin Rabah adalah figur utama yang memerankan kedisiplinan 'shalat dua rakaat sesudah wudhu'. Dan hasilnya jelas bahwa sandal Bilal di surga telah terdengar Rasulullah saw.

Kedisiplinan ini pula yang telah melahirkan sikap komitmen pasukan Muslimin di bawah komando pemuda belia Usamah bin Zaid, atau kepatuhan Khalid bin Walid ketika menerima alih tugas digantikan oleh Abu Ubaidah dalam perang melwan Romawi. inilah wujud nyata dari kedalaman taujih Rabbani dan Nabawi yang direflesikan dalam amal da'wah.
Baca Juga