Amalan Istimewa Pengganti I'tikaf di Masa Pandemi

Iklan Semua Halaman

Amalan Istimewa Pengganti I'tikaf di Masa Pandemi

Admin
Kamis, 30 April 2020

Asianmuslim.com - Tak ada lagi i’tikaf seperti dulu. Berdiam di masjid, berzikir memuji Allah ‘Azza wa Jalla seraya memohon ampunan kepada-Nya; membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya. Ramadhan kali ini masjid-masjid tertutup untuk kita masuki, kecuali sebagian kecil saja. Tak ada tempat untuk berdiam diri, i’tikaf menginsyafi kesalahan diri dan memperbanyak ibadah. Padahal inilah ibadah yang RasuluLlah ﷺ senantiasa melakukannya. Bahkan di tahun wafatnya, beliau ﷺ i’tikaf selama dua puluh hari.

Dari Abu Hurairah radhiyaLlahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi ﷺ biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari).

Kita dapat melakukan i’tikaf dimana saja, di berbagai masjid di seluruh penjuru dunia yang di sana ditegakkan shalat berjama’ah. Tetapi ada tiga masjid yang paling utama dan hanya ke 3 masjid inilah kita boleh berpayah-payah, menghimpun harta mengkhususkan waktu untuk mendatanginya semata untuk ibadah, yakni Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Adapun di luar itu, kita dapat beri’tikaf di masjid yang dekat atau yang agak jauh, tetapi tidak mengkhususkan ke masjid tertentu untuk beribadah.

Masjidil Aqsha. Entah sudah berapa lama kita tak lagi dapat menginjakkan kaki secara merdeka di sana dan menghabiskan hari-hari kita untuk beri’tikaf. Dan tahun ini betapa pun hati sangat mengingini, kita tak bisa melakukan i’tikaf di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram. Bahkan masjid yang dekat dengan rumah kita pun, saat ini tak lagi terbuka untuk i’tikaf. Padahal inilah ibadah yang sangat utama, terutama di bulan Ramadhan, yang untuk beri’tikaf itu kita harus rela meninggalkan istri sementara waktu.

Ada ‘amalan lain yang Rasulullah ﷺ lebih cintai daripada i’tikaf selama sebulan penuh di Masjid Nabawi. Dan hari-hari ini, ‘amalan itu semakin terasa maknanya, semakin mendesak di banyak wilayah kaum muslimin sehingga terbentang kesempatan yang kian lebar. Apakah itu? Berjalan bersama saudara seiman untuk suatu keperluan; menghilangkan kesusahan mereka.

Berjalan. Bukan berjalan-jalan. Maka jangan berdusta memelintir hadis dengan mengatakan “berjalan-jalan bersama istri lebih utama dibandingkan i’tikaf selama sebulan penuh di Masjid Nabawi” sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa orang. Sebagian di antara mereka telah aku penuhi haknya, yakni mengingatkan.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabarani).

Banyak pelajaran penting dari hadis ini, maka marilah kita berusaha memahaminya. Janganlah memotong-motong hadis ini, kecuali dalam satu pengertian utuh dan jangan pula memalingkan maknanya sehingga keluar dari petunjuk sejauh-jauhnya. Sesungguhnya kebodohan itu obatnya adalah belajar, maka kita –terutama diri saya - setiap hari perlu meminta tambahan karunia ilmu dan rezeki kefahaman. Tetapi menyengaja membelokkan makna hadis untuk memuaskan hawa nafsu adalah kejahatan.

Yang pertama perlu kita telisik adalah diri kita sendiri, apakah sebagai manusia kita memberi manfaat bagi manusia lainnya, terutama yang terdekat dengan kita. Sebab, sesungguhnya manusia yang paling Allah Ta’ala cintai adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lainnya (أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ). Kapan manusia disebut bermanfaat bagi sesama manusia? Yakni ketika ia senang memperbuat ‘amalan-amalan yang paling Allah Ta’ala cintai, semata karena mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Pokok ‘amalan itu ialah, membuat muslim lain bahagia dan menghilangkan kesusahan mereka.

Ada ‘amalan yang Rasulullah ﷺ lebih cintai, yakni berjalan bersama saudara sesama muslim untuk suatu keperluan, demi meringankan beban mereka, membantu mereka menghadapi kesulitan. Ungkapan “أَمْشِيَ” (aku berjalan) sangat berbeda dengan travelling (سفر). Kita berjalan menempuh medan yang ringan maupun berat sama sekali tidak dapat disamakan dengan jalan-jalan. Apalagi sampai ada yang mengatakan “jalan-jalan bersama istri”.

SATU HAL yang sangat penting untuk kita catat ialah, mereka berjalan bersama saudaranya yang muslim untuk suatu keperluan dan mengangkat kesulitannya bukan karena tidak menyukai i'tikaf, melainkan karena ada kepentingan sangat mendesak dari saudaranya sesama muslim yang membuatnya meninggalkan i'tikaf atau tidak jadi melakukan i'tikaf. Ingatlah, sesungguhnya Rasulullah ﷺ adalah orang yang senantiasa beri'tikaf di bulan Ramadhan.

Semoga musibah yang sedang terjadi saat Ramadhan ini menyadarkan kita untuk semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Kita bersungguh-sungguh berusaha memperoleh ampunan-Nya.
Baca Juga