Apa yang Dimaksud Sumber-sumber Hukum Islam?

Iklan Semua Halaman

Apa yang Dimaksud Sumber-sumber Hukum Islam?

Admin
Kamis, 23 April 2020


Asianmuslim.com - Ketika belajar mata kuliah Tarikh Tasyri’ al-Islami di tingkat 1 Fakultas Syariah Wal Qanun Universitas al-Azhar, ada sebuah bab khusus yang berjudul ‘Mashadir al-Fiqh al-Islami’, yang secara harfiah bermakna sumber-sumber Fiqih Islam.

Lalu, apa yang dimaksud dengan sumber-sumber Fiqih Islam ?

Dr. Rasyad Hasan Khalil mendefinisikan di dalam karya beliau yang menjadi Muqorror (Buku Kurikulum) di tingkat 1 kuliah Syariah Wal Qanun sebagai berikut :

يقصد بمصادر الفقه الإسلامي : الأصول التي يعتمد عليها فقهاء الشريعة في اجتهادتهم ويستندون إليها في استنباط الأحكام الشرعية فلا يكون للحكم الفقهي صفته الشرعية ما لم ينبثق عنها وينشأ منها.

“ yang dimaksud dengan sumber-sumber Fiqih Islam ialah : dasar-dasar yang para Ahli Fiqih berpegang kepadanya dalam ijtihad-ijtihad mereka, dan yang mereka sandarkan kepadanya dalam menarik kesimpulan hukum syariat. Maka tidak ada hukum hukum yang disusun tanpa bersumber dan berkembang darinya. “

Oleh karenanya dapat kita ketahui dari penjelasan diatas bahwa para ulama khususnya dalam bidang Fiqih ketika akan berijtihad pasti tidak akan berlepas dari sumber-sumber hukum islam tersebut.

Lalu ada berapa sumber-sumber hukum islam/fiqih yang dijadikan ulama dalam menarik kesimpulan hukum?

Para ulama membagi sumber-sumber hukum islam menjadi 3 klasifikasi, yaitu :

 A. Sumber-sumber hukum islam yang disepakati oleh seluruh ulama tanpa terkecuali, ialah :

 1. al-Quran.
 2. al-Sunnah.

al-Quran dan al-Sunnah merupakan dua sumber yang utama yang disepakati oleh seluruh ulama dan yang harus diyakini kebenarannya oleh orang islam.

Karena keduanya merupakan Wahyu yang Allah SWT turunkan secara langsung kepada utusannya Nabi Muhammad SAW, dan keduanya dijadikan pedoman seorang muslim dalam menjalani kehidupan agar selamat dunia dan akhirat.

B. Sumber-sumber hukum islam yang mayoritas ulama (Ahli Fiqih) sepakat dalam menjadikannya sumber hukum islam, ialah :

 1. Ijma’.
Ijma’ bermakna kesepakatan seluruh para mujtahid dari umat Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya beliau SAW pada suatu zaman tertentu atas hukum syariat.

 2. Qiyas.
Secara bahasa Qiyas berarti ukuran atau kadar, namun dalam secara istilah Ilmu Ushul Fiqih Qiyas bermakna : “ menyamakan suatu perkara yang tiada nash hukumnya dengan perkara yang ada nashnya di dalam hukum yang menjadi ketetapan nash karena persamaan ‘illat’ hukum antara dua kejadian tersebut”.

Dua sumber hukum ini, paling tidak para ulama ahlu sunnah wa al-jam’ah telah menyepakatinya sebagai sumber hukum islam.

Namun, seperti Madzhab Zhahiri yang didirikan oleh Imam Abu Daud al-Ashfahani al-Zhahiri menolak penggunaan qiyas sebagai sumber hukum islam, salah satunya ditandai dengan karyanya Imam Ibnu Hazm al-Andalusi yang berjudul “Ibthalu al-Qiyas”.

C. Sumber-sumber hukum islam yang tidak disepakati oleh para ulama.

Yang dimaksud dengan sumber-sumber hukum islam yang tidak disepakati oleh para ulama contohnya seperti satu Madzhab di dalam dunia islam menjadikan suatu hal sebagai sumber hukum islam, namun belum tentu hal tersebut juga dijadikan sumber hukum islam oleh madzhab yang lainnya.

Kenapa para ulama tidak sepakat ?. Alasannya ialah karena setiap Madzhab mempunyai metode masing-masing ketika menentukan sumber hukum.

Seperti al-Istihsan, al-Istihsan dijadikan sumber hukum islam oleh Madzhab Maliki, namun Madzhab Syafi’i tidak menjadikannya sebagai sumber hukum islam dan bahkan menolaknya dengan perkataan Imam al-Syafi’i yang masyhur yaitu “barang siapa yang berhujjah dengan istihsan maka ia telah menetapkan sendiri hukum syariat”.

Berikut beberapa sumber hukum islam yang tidak disepakati oleh para ulama :

 1. Istihsan.
Istihsan secara harfiah bermakna menganggap sesuatu sebagai kebaikan. Sedangkan secara istilah bermakna keadilan seorang mujtahid dalam mengambil hukum sebuah perkara dengan qiyas yang ringan (khafi) karena adanya suatu alasan yang memerlukan keadilan tersebut.

Madzhab yang menjadikan istihsan sebagai sumber hukum islam ialah : madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

 2. al-‘Urf
al-‘Urf ialah sesuatu yang sudah biasa terjadi bagi suatu masyarakat karena hal tersebut telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka, baik hal tersebut berupa perbuatan atau perkataan.

Madzhab yang menjadikan al-‘Urf sebagai sumber hukum islam ialah : Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’i.

 3. al-Mashalih al-Mursalah.
Secara bahasa al-Mashalih al-Mursalah dapat kita maknai sebagai manfaat atau juga bermakna suatu perbuatan yang bermanfaat. Namun, secara istilah dapat bermakna maslahat yang selaras dengan tujuan syariat islam dan tidak adanya dalil yang mengakuinya atau menolaknya.

Madzhab yang menjadikan al-‘Urf sebagai sumber hukum islam ialah : Madzhab Maliki.

 4. Syar’u Man Qablana.
Syar’u Man Qablana secara istilah bermakna hukum-hukum yang telah Allah SWT syariatkan kepada umat-umat terdahulu melalui para Nabi dan Rasul mereka, Seperti Syariat Nabi Ibrahim atau Syariat Nabi Musa.

Syar’u Man Qablana dapat berlaku untuk kita, selama ada dalil yang memerintahkannya, contohnya : puasa.

namun apabila ada dalil yang menghapusnya maka tidak berlaku lagi untuk kita, contohnya : ketika Allah SWT memerintahkan umat Nabi Musa AS untuk bertaubat dengan cara membunuh diri mereka sendiri sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah SWT.

Namun, apabila tiada nash yang memerintahkan untuk melakukan perkara yang terdapat di Syar’u Man Qablana ( Syariat Sebelum Syariat Nabi Muhammad SAW) maka para ulama dalam hal ini berbeda menjadi 2 pendapat, yaitu :

Pendapat pertama, Syar’u Man Qablana tidaklah menjadi syariat untuk umat islam.

Dan pendapat kedua Syar’u Man Qablana menjadi Syariat untuk umat islam selama tidak ada dalil yang menghapus syariat tersebut.

Tapi perlu diketahui dalil yang menjadi Syar’u Man Qablana yang akan menjadi sumber hukum islam haruslah juga berasal dari al-Quran dan al-Sunnah, dan tidak boleh dari kitab-kitabnya orang yahudi dan nashrani sekarang, karena dalam pandangan islam kitab-kitab tersebut sudah diubah dari masa Allah SWT menurunkannya dahulu.

 5. Qaul al-Shahabi.
Qaul al-Shahabi bermakna fatwa-fatwanya para sahabat Nabi SAW, namun fatwa disini lebih khusus yang bukan merupakan ijma’ (kesepakatan seluruh sahabat Nabi SAW)

Madzhab yang menjadikan Qaul al-Shahabi sebagai sumber hukum ialah : Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki, Madzhab Hambali.

 6.  Istishhab.
Istishhab ialah melanjutkan berlakunya hukum yang sudah ada dan sudah ditetapkan ketetapan hukumnya, sampai ada dalil nash yang mengubahnya. Istishhab ini dipakai oleh Madzhab al-Zhahiri sebagai sumber hukum islam.

Karena Madzhab al-Zhahiri berpendapat bahwa segala sesuatu itu aslinya dibolehkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Madzhab yang menjadikan Istishhab sebagai sumber hukum islam ialah : Madzhab al-Zhahiri, dan Madzhab Syafi’i dalam realitanya walaupun tidak disebutkan dalam kitab ushul fiqih beliau yaitu al-Umm.

 7. ‘Amalu Ahlu al-Madinah.
Secara bahasa ‘Amalu Ahlu al-Madinah bermakna amalan yang dilakukan oleh penduduk madinah. Dan ‘Amalu Ahlu al-Madinah dijadikan sebagai sumber hukum islam oleh Imam Malik dan Madzhab beliau.

Karena menurut Madzhab Maliki penduduk madinah ketika di zaman Imam Malik melakukan apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, karena belum terpaut jauh dari zaman Imam Malik ke zaman Nabi Muhammad SAW.

Madzhab yang menjadikan ‘Amalu Ahlu al-Madinah sebagai sumber hukum islam ialah : Madzhab Maliki.

 8. Saddu al-Dzarai’.
Saddu al-Dzarai’ bermakna mencegah dari yang suatu hal mengantarkan kepada hal-hal yang dilarang.

Madzhab yang menjadikan Saddu al-Dzarai’ sebagai sumber hukum islam ialah : Madzhab Maliki.

Sumber-Sumber hukum islam yang telah disebutkan diatas ialah sumber-sumber hukum islam yang dipakai oleh Madzhab-Madzhab Fiqih dalam dunia islam.

Walau sebenarnya Madzhab Fiqih tidak terbatas pada 4 Madzhab saja, melainkan terdapat belasan bahkan lebih dari Madzhab Fiqih yang pernah ada dalam dunia islam.

Tetapi banyak dari Madzhab Fiqih yang pernah ada dalam dunia islam namun tidak dapat kita temukan lagi sekarang, alasannya karena tidak ada murid-murid pendiri Madzhab yang melanjutkan ‘estafet keilmuan’ dalam Madzhab tersebut, dan juga salah satu alasannya lagi tidak ada yang mengikuti lagi Madzhab yang hilang tersebut di masa kini.

Cairo, 22 April 2020.

Muhammad Al Fatih Mubarok.
Baca Juga