Apakah Mengkhatamkan 30 Juz Selama Tarawih Ramadhan Merupakan Sunnah? -->

Iklan Semua Halaman

Apakah Mengkhatamkan 30 Juz Selama Tarawih Ramadhan Merupakan Sunnah?

Admin
Selasa, 28 April 2020

Asianmuslim.com - Seolah menjadi tradisi di sebagian masyarakat khususnya kalangan pondok pesantren mengkhatamkan 30 juz selama ramadhan saat shalat tarawih. Apakah kebiasaan ini termasuk sunnah Nabi yang bersumber dari Rasulullah?

Untuk mengatakan sunnahnya sesuatu atau afdholnya sebuah ibadah tertentu, tentunya butuh kepada dalil, sehingga jika tidak ada dalil dalam syariat kita, maka tentunya tidak bisa dikatakan seperti itu.

Oleh sebab itu, al-Imam bin Baz rahimahullah ketika ditanya apakah yang afdhol menyelesaikan Al Qur`an penuh selama pelaksanaan sholat Tarawih sebulan, beliau rahimahullah menjawab :

الأمر في هذا واسع، ولا أعلم دليلاً يدل على أن الأفضل أن يكمل القراءة، إلا أن بعض أهل العلم قال: يستحب أن يسمعهم جميع القرآن حتى يحصل للجماعة سماع القرآن كله، ولكن هذا ليس بدليل واضح، فالمهم أن يخشع في قراءته، ويطمئن ويرتل ويفيد الناس ولو ما ختم

"Perkara dalam hal ini adalah luas, aku tidak mengetahui ada dalil yang menunjukkan atas keutamaan menyelesaikan bacaan Al Qur`an, melainkan sebagian ulama menganjurkan untuk memperdengarkan kepada jamaah sholat semua isi Al Qur`an, hingga jamaah dapat menyimak Al Qur`an seluruhnya, namun ini bukanlah dalil yang jelas, yang terpenting adalah kekhusyu'kan dalam bacaan, tenang, tartil dan bermanfaat bagi jamaah, sekalipun tidak sampai khatam."

Memang benar ulama 4 mazhab sepakat untuk menganjurkan tarawih Ramadhan sekurang-kurangnya dapat mengkhatamkan Al Qur`an satu kali. Misalnya apa yang disampaikan oleh penulis al-Maushuu'ah al-Fiqhiyyah al-Quwaitiyyah" (27/147) :

ذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ وَأَكْثَرُ الْمَشَايِخِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَهُوَ مَا رَوَاهُ الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ فِي صَلاَةِ التَّرَاوِيحِ لِيَسْمَعَ النَّاسُ جَمِيعَ الْقُرْآنِ فِي تِلْكَ الصَّلاَةِ. .... وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّهُ يُنْدَبُ لِلإِْمَامِ الْخَتْمُ لِجَمِيعِ الْقُرْآنِ فِي التَّرَاوِيحِ فِي الشَّهْرِ كُلِّهِ

"Hanabillah dan kebanyakan masyaikh Hanafiyyah dan ini diriwayatkan oleh al-Hasan dari Abu Hanifah berpendapat bahwa sunnah adalah mengkhatamkan Al Qur`an pada saat sholat Tarawih, untuk memperdengarkannya kepada jamaah seluruh Al Qur`an pada sholat tersebut....

Malikiyyah dan Syafi'iyyah juga menegaskan dianjurkannya bagi Imam mengkhatamkan seluruh Al Qur`an dalam sholat tarawih selama satu bulan." -selesai-.

Sependek penelaahan saya, belum ditemukan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam baik secara qoul maupun fi'il yang sharih menganjurkan khatam Al Qur`an dalam sholat Tarawih Ramadhan pun tidak juga dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Mungkin sanad tertinggi yang bisa saya temukan adalah dari para Tabi'it Tabi'in dan ada potensi juga dari Tabi'in, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Hanbal - murid al-Imam Ahmad - :

قال حنبل: سمعت أحمد يقول في ختم القرآن: إذا فرغت من قراءتك {قُل أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} فارفع يديك في الدعاء قبل الركوع.
قلت: إلى أي شيء تذهب في هذا؟
قال: رأيت أهل مكة يفعلونه، وكان سفيان بن عيينة يفعل معهم بمكة.

"aku mendengar Imam Ahmad berkata terkait khatam Al Qur`an, ketika bacaan (Tarawih) telah selesai sampai surat An Naas, maka ia mengangkat tangannya dalam doa sebelum ruku'.

Lantas aku bertanya : "apa dalilmu berpendapat seperti ini?",

Beliau menjawab : "aku melihat penduduk Mekkah melakukannya dan Sufyan bin Uyyainah biasa melakukannya bersama mereka di Mekkah."

(Jaami'u li uluum al-Imam Ahmad, VI/436). -selesai-.

Al-Imam Sufyan bin Uyyainah termasuk thabaqah Tabi'ut Tabi'in, kemudian tatkala beliau sholat bersama kaum Muslimin di Mekkah, maka ada potensi sebagian ulama yang masih terhitung generasi Tabi'in melakukannya juga.

Kemudian kita bisa menerapkan dalil yang memang masih diperselisihkan oleh sebagian ulama ushul fiqih atas kehujjahannya, yaitu menggunakan "Istihsan". Asy-Syaikh Abdul Wahab Kholaf rahimahullah ketika menyebutkan penerapan Istihasan pada sebagian Mujtahid salah satu aspeknya adalah pengecualian juz'iyyah (kasuistik) dari suatu hukum kulli (umum) dengan adanya suatu dalil.

Yakni ada dalil-dalil yang umum anjuran dan praktek salaf memperbanyak membaca Al Qur`an pada bulan Ramadhan, maka dalam kasus sholat tarawih dengan "Istihsan" dapat dijadikan sandaran atas diunggulkannya untuk dapat mengkhatamkan Al Qur`an selama pelaksanaan sholat tarawih.

Al-Imam bin Baz rahimahullah juga berfatwa :

فإن تيسر له أن يكمل القراءة فالحمد لله

"Jika mudah baginya mengkhatam Al Qur`an, maka Alhamdulillah."

Beliau juga berfatwa :

إن ختم فهو أفضل حتى يسمع الجماعة جميع القرآن، وحتى يفوز الجميع بالأجر العظيم، في هذا الشهر الكريم

"Jika khatam, maka ini lebih utama hingga semua jamaah sholat dapat menyimak seluruh bacaan Al Qur`an, sehingga seluruh jamaah sukses mendapatkan pahala yang besar pada bulan yang mulia ini."

Maka dari fatwa-fatwa beliau diatas, ada isyarat penggunaan dalil Istihsan dalam masalah mengkhatamkan Al Qur`an pada saat tarawih pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Wallahu Ta'aalaa A'lam.

Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga