Apakah Sah Imam Shalat Anak Kecil yang Belum Baligh?

Iklan Semua Halaman

Apakah Sah Imam Shalat Anak Kecil yang Belum Baligh?

Admin
Sabtu, 25 April 2020

Asianmuslim.com - Mungkin kita pernah menyaksikan atau pernah bermakmum dengan anak kecil. Memang terdengar sedikit aneh, namun faktanya ada anak kecil dengan kemampuan hafalan Qur'annya lebih banyak dan lebih baik dari orang dewasa. Bagaimana hukumnya dari segi hukum fiqih islam apakah sah shalat bermakmum dengan anak kecil?

Pertama-tama perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud anak kecil disini adalah anak yang sudah mumayyiz yang sudah bisa memahami pembicaraan orang dewasa dan tahu tatacara sholat, namun belum mencapai usia baligh. Terkait dengan status keabsahannya menjadi Imam sholat, maka terjadi silang pendapat dikalangan para ulama kita.

Yang paling berbahagia dalam hal ini adalah mazhab Syafi'i dengan Imamnya yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahullah, karena mereka memiliki pegangan yang kuat sekalipun menyelisihi mayoritas ulama.

Asy-Syaikh Abu Maalik Kamaal hafizhahullah dalam kitabnya "Shahih Fiqh as-Sunnah" (I/252, cet. At-Taufiqiyyah) berkata :

وإلى صحة إمامة الصبي المميز ذهب الشافعي خلافًا للجمهور

"(Yang berpendapat sahnya keimaman anak kecil yang mumayyiz adalah Imam Asy-Syafi'i yang menyelisihi mayoritas ulama."

Na'am al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya "al-Umm" (I/193, cet. Daar Ma'rifah) dengan jelas mengatakan :

إذَا أَمَّ الْغُلَامُ الَّذِي لَمْ يَبْلُغْ الَّذِي يَعْقِلُ الصَّلَاةَ وَيَقْرَأُ، الرِّجَالَ الْبَالِغِينَ فَإِذَا أَقَامَ الصَّلَاةَ أَجْزَأَتْهُمْ إمَامَتُهُ

"Jika seorang anak kecil yang belum baligh yang sudah tahu sholat dan hapal Al Qur`an menjadi imam bagi orang dewasa yang sudah baligh, maka ketika dia mengimami sholat, sah sholat mereka dengan keimamamnnya."

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syairaziy (w. 476 H) Rahimahullah dari kalangan generasi ulama Syafi'iyyah pada zamannya dalam kitabnya "al-Muhadzdzab" (I/183, cet. DKI) menjelaskan agak rinci lagi pendapat Imamnya, kata beliau :

إذا بلغ الصبي حداً يعقل وهو من أهل الصلاة صحت إمامته .... وفي الجمعة قولان: قال في الأم: لا يجوز إمامته لأن صلاته نافلة وقال في الإملاء: يجوز لأنه يجوز أن يكون إماماً في غير الجمعة كالبالغ

"Jika anak kecil telah sampai pada taraf berakal (mumayyiz) yaitu termasuk ahli sholat, maka sah keimamannya....adapun untuk mengimami sholat Jum'at ada dua pendapat Imam asy-Syafi'i, dalam "al-Umm" beliau mengatakan tidak boleh si anak kecil tersebut mengimami, karena sholatnya shahabi kecil itu adalah sholat sunnah, adapun dalam "al-Imlaa`" beliau berkata membolehkannya, karena kebolehan si anak kecil tersebut mengimami sholat pada selain sholat Jum'at seperti orang yang sudah baligh juga."

Dalil mazhab Syafi'i adalah hadits shohabi jaliil 'Amr bin Salimah radhiyallahu anhu yang dalam shahih Bukhari lafazhnya :

....فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ، وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا. فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي ؛ ....فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ، أَوْ سَبْعِ سِنِينَ

"(Sabda Nabi) .... Jika telah masuk waktu sholat, hendaknya salah seorang diantara kalian mengumandangkan azan dan hendaknya yang mengimami kalian yang paling banyak hapalan Qur`annya. Kemudian mereka melihat dan tidak ada seorang pun yang paling banyak hapalan Qur`annya dibandingkan diriku...lalu mereka mendorongku menjadi Imam didepan mereka, pada waktu itu aku berumur 6 atau 7 tahun...". (HR. Bukhari).

Jumhur ulama menyanggah hadits tersebut bahwa barangkali ini dilakukan berdasarkan ijtihad sekelompok sahabat pada waktu itu, karena tidak dinukil secara sharih taqrir Nabi dalam kasus ini.

Namun ini disanggah bahwa kejadian tersebut adalah pada waktu zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidak turun wahyu yang merevisi hal tersebut jika memang itu keliru, karena memang Nabi tidak tahu yang ghaib tapi Allah Ta'aalaa mengetahui segala sesuatu, sehingga dengan diamnya Syaari' terhadap kasus ini, dimana wahyu masih belum terputus, menunjukkan atas persetujuan terhadapnya, ini mirip dengan kasus 'azl dimana para sahabat berkata : "kami melakukan azl, sedangkan wahyu masih turun." Maksudnya tidak ada larangan dari syariat terhadap perbuatan azl ini.

Imam Ibnu Hazm rahimahullah melakukan tambahan pembelaan bahwa dengan apa yang dilakukan oleh para sahabat ketika mengangkat 'Amr bin Salimah radhiyallahu anhu yang masih anak-anak sebagai Imam sholat mereka, maka ini menunjukkan ijmanya para sahabat, sekaligus juga menunjukkan bahwa Imam Ibnu Hazm yang mengusung mazhab zhahiri berada di barisan mazhab Syafi'i dalam permasalahan ini.

Senada dengan beliau adalah Imam mujaddid abad ini yaitu Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, beliau berkata :

ففي هذا رد لقول المصنف: ولم ينقل عن غيرهما من الصحابة خلافه! فهؤلاء جماعة من الصحابة اقتدوا بالغلام قبل الاحتلام

"Dalam hadits ini ada bantahan terhadap ucapan penulis (yang mengatakan tidak sahnya Imam anak kecil yang belum baligh), tidak dinukil dari selain kedua sahabat tersebut yang menyelisihinya, mereka semua adalah sekelompok sahabat yang bermakmum kepada anak kecil yang belum baligh."
(Jaami' at-Turatas li al-'Alamah al-Albani, V/422).

Namun yang menjadi keheranan saya adalah dalam kitab yang sering saya nukil terkait pendapat jumhur ulama dalam fiqih, yaitu "Maushuu'ah Masaa`il al-Jumhuur" karya Prof. DR. Muhammad Na'im hafizhahullah, pembahasan ini tidak dimasukkan dalam kitabnya, padahal masalah ini adalah masalah yang masyhur dibahas oleh para ulama fiqih, terutama yang mengusung fiqih perbandingan mazhab, sebut saya Bidaayah al-Mujathid Ibnu Rusydi, fiqh 'alaa Mazhaahib Arbaahnya Abdur Rahman al-Jazairiy, Nailul Authar karya Imam Syaukani dan beliau merajihkan pendapat Syafi'iyyah serta Subulus Salam karya ash-Shon'aniy yang juga pendapat pilihannya berada di barisan Syafi'iyyah.

Ini menunjukkan bahwa bahasan fiqih itu amat luas, maka yang mengklaim kitabnya dengan maushuu'ah yang maknanya ensiklopedia pun ternyata belum memasukkan semua permasalahan yang seharusnya masuk dalam kitabnya. Atau barangkali penulis memiliki pandangan sendiri yang tidak memasukkan masalah ini karena tidak termasuk kriteriannya. Wallahu A'lam.

Sekaligus hal ini menunjukkan bahwa hadits hujjah li nafsihi, sekalipun kebanyakan manusia tidak mengamalkannya, sebagaimana ini ditegaskan berulang-ulang oleh para ulama, khususnya Imam al-Albani yang saya tahu paling berpegang teguh dengan kaedah ini rahimahumullah.

Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga