Babak Baru Eskalasi Politik Turki - Arab Saudi.

Iklan Semua Halaman

Babak Baru Eskalasi Politik Turki - Arab Saudi.

Admin
Senin, 20 April 2020
Foto: Turkeyalaan

Asianmuslim.com
- Arab Babak baru Eskalasi Politik Turki-Arab Saudi. Saudi memblokir surat kabar dan media media turki di seluruh KSA pekan lalu. Termasuk yang diblokir saudi adalah Anadolu Agency, TRT World, Daily Sabah dll.

Ini karena Arab Saudi marah akibat langkah lanjutan Turki untuk mengadili dua pembunuh wartawan Jamal Khasoghi di konsulat Arab Saudi di turki 2 tahun lalu.

Ahmed Al Asiri dan Saud Al Qahthani, dua orang anak buah Ben Salman ini didakwa turki melakukan pembunuhan di wilayah turki atas perintah penguasa Majikannya.

Saudi menblokir semua media turki disana karena dalam survei Gallup yang berbasis di AS menyebutkan bahwa, Erdogan adalah sosok paling berpengaruh di seluruh benua arab dan dunia islam saat ini.

Pengaruh Erdogan melampaui jauh dari pamor Raja Saudi, Emir UEA dst. Di kawasan teluk, rakyat di benua arab aktif membicarakan Erdogan dan memuji erdogan. Saudi merasa kehilangan pamor dan justru mendapatkan kritik dari warganya sendiri.

Di Saudi, sosok Erdogan begitu di puji oleh rakyat tapi begitu dibenci oleh penguasa arab dan para buzzer mereka dibawah Ben Salman-Raja Salman.

Dalam banyak riset dan jajak pendapat, sosok Erdogan dan Emir Qatar Syeikh Tamim adalah dua sosok yang paling di sukai dunia islam.

Maka wajar, tahun lalu Saudi juga memblokir siaran berita Al Jazeera yang merupakan milik negara Qatar. Sekali lagi iri kalah pamor.

Turki tidak tinggal diam, Semalam Turki mengeluarkan maklumat bahwa semua siaran berita saudi dan emirat diblokir di seluruh turki.

Termasuk Sky News, Al Arabiya, News Of arab dst. Semua di banned dan sudah tidak bisa di akses lagi sejak semalam.

Hubungan Turki-Arab Saudi terus mengalami ketegangan karena saudi menginginkan memadamkan semangat arab spring 2011 yang saudi takuti menjalar ke negara mereka dan menumbangkan kerajaan keluarga al saud.

Hubungan Turki-Saudi juga mamanas saat 2017 lalu Saudi - Emirat memblokade Qatar dan mencoba mengkudeta Emir tamim lalu Erdogan tampil membela Qatar dan mensupport Tamim dalam segala hal include militer.

Hubungan Turki-Saudi juga memanas akibat saudi ketahuan terlibat dalam upaya kudeta berdarah terhadap Erdogan juli 2016 lalu. Saudi dan Emirat mendanai kudeta Erdogan 8M Dolar.

Saudi murka kepada Turki dan Qatar karena turki dan qatar aktif membantu para aktivis ikhwanul muslimin yang jadi buronan rezim mesir pasca kudeta presiden mesur Muhammad mursi yang juga di biayai Saudi dan Emirat 2013 lalu.

Turki membalas saudi dengan menutup semua saluran berita saudi di turki per tadi malam. Saudi yang mulai Turki hanya membalas.

Ben Salman bahkan ketahuan ingin membajak ponsel Erdogan dan emir tamim tapi gagal. Saudi juga awal tahun ini ketahuan menyadap ponsel orang kaya dunia pemilik Amazon Jeff Bezos. Untuk kasus ini Ben Salman sudah minta maaf dan bayar kompensasi ke bos amazon.

Sebab paling mendasar kenapa Saudi begitu ingin menghabisi turki-qatar karena sikap turki yang mendukung arab spring yang berhasil menumbangkan penguasa penguasa arab 2011 lalu.

Saudi bahkan memasukkan semua ulama islam yang pro turki, pro qatar dan pro arab spring kedalam daftar teroris versi riyadh termasuk ulama Salman audah dan Yusuf al Qardhawi.

Untuk melakukan konter terhadap ulama yang pro turki, pro ikhawan dan pro arab spring. Saudi lalu membeli ulama ulama saudi semisal aidh al qarni, as sudais dkk untuk menyerang ulama islam lain yang kontra kerajaan al saud.

Hal lain yang membuat saudi ngamuk sama turki adalah kekalahan mereka dalam perang di libya lawan Turki. Dimana Turki memback up pemerintahan sah libya di bawah presiden Al Sarraj sedangkan Saudi dkk mensupport Pemberontak Blok Khalifa Haftar yang saat ini terjepit di libya.

Di Libya saat ini, Turki mengalahkan 5 negara sekaligus yang mensupport pemberontak Haftar: Arab Saudi, Emirat, Mesir, Rusia dan Italia.

Drama perang di Libya ini akan saya bahas di tulisan yang lain insyaAllah di lain waktu.

Tengku Zulkifli Usman. (Analis Politik Dunia Islam IInternasiona)
Baca Juga