Bolehkah Wanita Menjadi Imam Shalat bagi Laki-laki?

Iklan Semua Halaman

Bolehkah Wanita Menjadi Imam Shalat bagi Laki-laki?

Admin
Kamis, 30 April 2020

Asianmuslim.com - Telah disepakati sahnya imam wanita untuk makmum sesama wanita. Namun bagaimana dengan wanita menjadi imam bagi makmum laki-laki, apakah statusnya boleh dan sah?

Berangkat dari hadits Ummu Waraqah radhiyallahu anhaa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan selainnya :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا غَزَا بَدْرًا، قَالَتْ : قُلْتُ لَهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي فِي الْغَزْوِ مَعَكَ ؛ أُمَرِّضُ مَرْضَاكُمْ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي شَهَادَةً. قَالَ : " قَرِّي فِي بَيْتِكِ ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ ". قَالَ : فَكَانَتْ تُسَمَّى الشَّهِيدَةَ. قَالَ : وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتِ الْقُرْآنَ، فَاسْتَأْذَنَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَّخِذَ فِي دَارِهَا مُؤَذِّنًا، فَأَذِنَ لَهَا. قَالَ : وَكَانَتْ قَدْ دَبَّرَتْ غُلَامًا لَهَا وَجَارِيَةً، فَقَامَا إِلَيْهَا بِاللَّيْلِ، فَغَمَّاهَا بِقَطِيفَةٍ لَهَا حَتَّى مَاتَتْ، وَذَهَبَا، فَأَصْبَحَ عُمَرُ فَقَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ : مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ هَذَيْنِ عِلْمٌ أَوْ مَنْ رَآهُمَا فَلْيَجِئْ بِهِمَا. فَأَمَرَ بِهِمَا فَصُلِبَا، فَكَانَا أَوَّلَ مَصْلُوبٍ بِالْمَدِينَةِ.

"Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala hendak berangkat jihad Badar, beliau berkata kepada Nabi : "wahai Rasulullah!, Izinkan aku ikut perang bersamamu, aku akan merawat orang-orang yang terluka, mudah-mudahan Allah memberikan kepadaku kesyahidan."


Nabi menanggapi : "tetaplah di rumahmu, sungguh Allah akan memberikan untukmu kesyahidan."

Maka ia berjalan sebagai seorang syahidah.

Ummu Waraqah pandai membaca Al Qur`an, lalu ia minta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk dijadikan Imam di rumahnya dan memiliki muazin, maka Nabi mengizinkannya.

beliau radhiyallahu anhaa menjanjikan kemerdekaan setelah kematiannya kepada satu orang budak laki-laki dan satu orang budak perempuannya.

Suatu hari, kedua budak tersebut sholat malam bersamanya, lalu keduanya membekap Ummu Waraqah dengan kain beludru sampai beliau wafat, lalu keduanya kabur.

Keesokan harinya Umar bekhutbah dihadapan orang-orang : "siapa yang punya informasi dua budak ini atau yang melihatnya, maka hendaknya mendatangkan keduanya. Kemudian beliau memerintahkan keduanya agar disalib dan keduanya adalah orang pertama yang disalib di kota Madinah."

Imam Abu Dawud mendatangkan lafazh lainnya :

وكان رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يزورُها في بيتها، وجعلَ لها مُؤَذناً يُؤذّنُ لها، وأمرَها أن تَؤُمَّ أهلَ دارِها.
قال عبد الرحمن: فأنا رأيتُ مُؤَذّنَها شيخاً كبيراً

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya mengunjungi rumahnya, lalu ia menempatkan muazin yang berazan untuknya dan memerintahkan Ummu Waraqah untuk mengimami anggota keluarga rumahnya."

Abdur Rahman berkata : "aku menyaksikan muazinnya adalah seorang laki-laki yang sudah tua."

Status Hadits :

Terjadi perselisihan ulama terhadap status haditsnya, sebagian ulama mendhoifkannya, seperti yang dilakukan oleh asy-Syaikh Syu'aib Arnauth dan teamnya ketika mentahqiq hadits diatas, alasannya adalah :

إسناده ضعيف لجهالة عبد الرحمن بن خلاد وجدة الوليد بن عبد الله بن جميع، واسمها ليلى بنت مالك

"Sanadnya dhoif, karena majhulnya Abdur Rahman bin Khollaad dan neneknya al-Waliid bin Abdullah bin Jamii', yang namanya adalah Laila binti Maalik."

Adapun sebagian ulama lainnya menshahihkan atau menghasankan hadits ini. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitabnya "Shahih Sunan Abu Dawud" mengetahui bahwa kedua perawi yang dicacat diatas adalah majhul, namun untuk Abdur Rahman ada tautsiq dari Imam Ibnu Hibban, namun beliau ma'ruf dengan tasahulnya, sedangkan terkait dengan Laila binti Maalik, maka Imam al-Albani berkomentar :

ولكن أحدهما يقوي رواية الآخر؛ لا سيما وأن الذهبي قال في "فصل النسوة المجهولات ": "وما علمت في النساء من اتهمت ولا من تركوها".

"Masing-masing perawi menguatkan satu sama lainnya, terlebih lagi Imam Adz-Dzahabi berkomentar tentang keutamaan para wanita majhul : "aku tidak tahu ada perawi wanita yang tertuduh berdusta dan tidak ada ulama yang me-matruk-kannya."

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya "Bulughul Maram" membawakan hadits ini, lalu berkata :

وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

"Dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah."

Asy-Syaikh al-Albani memutuskan bahwa hadits yang kita bahas ini adalah statusnya HASAN, begitu juga penilaian asy-Syaikh Abdullah al-Basaam dalam kitabnya "Taudhiih al-Ahkaam."

Fiqih Hadits :

Bagi yang menganggap hadits ini dhoif, maka tidak ada nilai hujjah yang perlu diduskusikan, namun bagi yang menilai hadits ini sebagai hujjah karena statusnya yang shahih atau minimalnya hasan, maka ada pembahasan yang menarikan yang disebutkan oleh para ulama terkait judul tulisan diatas.

Dalam Al-Maushuu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (VI/204), penulisnya mengklaim :

يُشْتَرَطُ لإِِمَامَةِ الرِّجَال أَنْ يَكُونَ الإِْمَامُ ذَكَرًا، فَلاَ تَصِحُّ إِمَامَةُ الْمَرْأَةِ لِلرِّجَال، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ

"Dipersyaratkan untuk mengimami laki-laki itu Imamnya adalah laki-laki, tidak sah keimaman perempuan untuk laki-laki, ini adalah sesuatu YANG DISEPAKATI DIANTARA AHLI FIQIH...".
Namun klaim adanya ijma tidaklah tepat. DR. Muhammad Na'im dalam kitabnya "Maushuu'ah Masaa`il al-Jumhur" (I/204) berkata :

جماهير العلماء من السلف والخلف على عدم صحة إمامة المرأة للرجال، الفرض والنفل في ذلك سواء. وهو مذهب فقهاء المدينة السبعة التابعين، ومذهب مالك وأبي حنيفة والشافعي وسفيان وأحمد وداود. وقال أبو ثور والمزني وابن جرير: تصحُّ صلاة الرجال وراءها
"Mayoritas ulama dari kalangan salaf dan kholaf berpendapat tidak sahnya keimaman wanita untuk laki-laki, baik sholat wajib maupun sholat sunnah dalam hal ini sama saja. Ini adalah mazhabnya Fuqoha Madinah yang tujuh, Mazhabnya Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Sufyan, Ahmad dan Dawud.

Abu Tsaur, al-Muzani dan Ibnu Jariir (ath-Thabari) berpendapat sah sholatnya laki-laki dibelakang wanita." -selesai-.

Terkait mazhabnya Dawud azh-Zhahiri yang berada dikelompok jumhur, maka al-'Alamah Mahmuud as-Subkiy dalam "Syarah Sunan Abu Dawudnya" mengelompokkan Imam Dawud bin Ali azh-Zhahiri rahimahullah berada di barisan kontra dengan Jumhur ulama.

Sebelum DR. Muhammad Na'im, Imam Shon'aniy rahimahullah dalam kitabnya "Subulus Salam" ketika mensyarah hadits ini, beliau berkata dalam rangka mengeluarkan fiqih haditsnya :

"Hadits ini menunjukkan atas sahnya keimaman wanita bagi anggota keluarga rumahnya, sekalipun didalamnya ada laki-laki, karena Ummu Waraqah radhiyallahu anhaa memiliki muazin yang ia adalah laki-laki yang sudah sepuh, sebagaimana dalam riwayat dan zhahirnya beliau mengimami juga budak laki-lakinya dan budak perempuannya. Yang berpendapat atas sahnya hal tersebut adalah Abu Tsaur, al-Muzaniy dan ath-Thabari, sementara itu JUMHUR (Mayoritas) ulama menyelisihi (mereka bertiga)." -selesai-.

Dan sholat yang diimami oleh Ummu Waraqah adalah sholat fardhu, karena dalam riwayat al-Hakim dengan lafazh yang sharih :

فأمرها أن تؤم أهل دارها في الفرائض

"lalu Nabi memerintahkannya untuk mengimami anggota keluarga rumahnya pada sholat wajib."

Kemudian dalam hadits yang kita bahas diatas pun sudah cukup jelas menunjukkan bahwa itu adalah sholat wajib, karena ada muazin yang mengumandangkan azan, dimana telah maklum bahwa sholat sunnah itu tidak didahului dengan azan, sehingga sebagian orang yang membatasi itu adalah sholat Tarawih tidaklah tepat.

Mayoritas ulama tidak setuju menggunakan hadits ini sebagai dalil atas kebolehannya wanita mengimami laki-laki, karena dalam hadits Jaabir radhiyallahu anhu secara sharih (gamblang) Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَلَا لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا

"Ingatlah!, janganlah sekali-kali wanita itu mengimami laki-laki." (HR. Ibnu Majah).

Namun sekalipun sharih sayangnya statusnya tidak shahih, asy-Syaikh Syu'aib Arnauth dan teamnya ketika mentakhrij hadits ini dalam kerja tahqiq mereka terhadap Sunan Ibnu Majah berkata :

إسناده تالف، علي بن زيد بن جدعان ضعيف، وعبد الله بن محمَّد العدوي الراوي عنه متروك وقد اتهمه بعضهم، والوليد بن بكير لين الحديث.

"Sanadnya hancur, Ali bin Zaid bin Jud'an dhoif, Abdullah bin Muhammad al-'Adawiy yang meriwayatkan darinya matruk, sebagian ulama menuduhnya sebagai pendusta dan al-Waliid bin Bukair layyinul hadits."

Barangkali takwil yang terbaik agar hadits ini sesuai dengan pendapat jumhur sebagaimana yang disampaikan oleh al-'Alamah Mahmuud as-Subkiy rahimahullah adalah dengan mengacu pada lafazh lain dari hadits yang kita bahas ini :

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أذِن لها أن يُؤذَّنَ لها ويُقامَ ، وتؤمَّ نساءَ أهلِ دارِها

"Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan Ummu Waraqah memiliki muazin yang berazan untuknya, lalu ia mengimami para wanita anggota keluarga rumahnya."

Al-Imam Ibnu Qudamah dalam "al-Mughni" ketika mengomentari hadits ini berkata :

يرويه الوليد بن جميع وهو ضعيف.

"Al-Waliid bin Jamii' yang meriwayatkannya dan ia adalah perawi dhoif."

Kami katakan al-Waliid ini adalah perawi Sunan Abu Dawud diatas dipakai oleh Imam Muslim, ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma'in, dikatakan laisa bihi ba`sun oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Zur'ah, sedangkan Imam Abu Hatim menilainya sebagai sholihul hadits, sehingga barangkali jalan tengahnya adalah sebagaimana penilaian Al Hafizh Ibnu Hajar dalam "at-Taqriib" sebagai perawi shoduq yang artinya haditsnya minimalnya adalah hasan.

Dengan menerima lafazh ini, maka terkait dengan istidlal para Aimah yang kontra jumhur bahwa muazin laki-laki ikut menjadi makmum bersama budak laki-lakinya Ummu Waraqah, maka pada lafazh Abu Dawud tidak sharih (gamblang) menunjukkan akan hal itu, bisa jadi muazin tersebut setelah azan untuk Ummu Waraqah, lantas ia tetap pergi ke masjid untuk sholat berjamaah dengan yang lainnya, semata-mata ia berazan untuk menjalankan tugas di rumah Ummu Waraqah atas perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, begitu juga dengan budak laki-lakinya, bisa saja ia sholat di tempat lain, namun pada malam kejadian pembunuhan ia bersengkokol dengan budak wanita Ummu Waraqah untuk membunuhnya agar cepat mendapatkan kebebasan, karena Ummu Waraqah sudah men-tadbiir-nya, yaitu status budak mereka bebas, setelah kematiannya, sekaligus juga ini menunjukkan nubuwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Ummu Waraqah mati sebagai syahiid, yakni ia terbunuh dalam sholatnya, sebagaimana Umar bin Khothob radhiyallahu anhu yang syahid juga dalam sholatnya.

Berdasarkan mazhab jumhur, maka wanita yang mengimami anak kecil laki-laki yang sudah mumayyiz apalagi sudah baligh tidak sah. Al-Imam asy-Syafi'i dalam "al-Umm" berkata :

ولو صلَّت المرأة برِجال ونساءٍ وصبْيان ذكور، فصلاة النِّساء مُجْزية، وصلاة الرجال والصِّبيان غير مجزية

"Seandainya seorang wanita mengimami sholat laki-laki, wanita dan anak kecil laki-laki, maka sholatnya para wanita sah, namun untuk sholatnya laki-laki dan anak kecil laki-laki tidak sah."

Asy-Syaikh Kholid bin Abdul Mun'im yang menukil perkataan Imam Syafi'i diatas berkata :

أمَّا إمامة المرأة للصَّبيِّ في الصَّلاة، فيجوز إن كان صغيرًا غيرَ مميِّز، أمَّا إن كان مميِّزًا - كما هو الحال في السؤال - فلا يجوز؛ لأنَّه في حكم الرَّجُل.

"Adapun keimaman wanita untuk anak kecil dalam sholat, itu boleh jika anaknya masih kecil belum mumayyiz. Adapun jika sudah mumayyiz -sebagaimana dalam pertanyaan-, maka tidak boleh karena ia hukumnya adalah seperti hukum laki-laki (dewasa)." Wallahu Ta'aalaa A'lam.

Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga