Buka Puasa dengan Yang Manis-manis atau Harus Kurma?

Iklan Semua Halaman

Buka Puasa dengan Yang Manis-manis atau Harus Kurma?

Admin
Minggu, 26 April 2020

Asianmuslim.com - Bagi para pelajar tentunya sudah terbiasa dengan pembahasan mengenai dasar hukum syariat selain dari Al Qur`an dan al-Hadits, disana ada juga qiyas dan selainnya bahkan para Aimah mazhab juga berdalil tidak hanya menggunakan fatwa sahabat tapi juga tabi'in, karena bagaimanapun juga para tabi'in masih berpegang dan berkomitmen dengan syariat dan terhitung sebagai generasi terbaik setelah para sahabat dari kalangan umat ini.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa salah satu adab pada saat hari raya Iedul Fitri adalah makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat Ied, kemudian para ulama hadits dengan sanadnya menukil kepada kita jenis makanan apa yang biasanya disantap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum berangkat sholat Ied, misalnya al-Imam Bukhari dalam "Shahihnya" (no. 953) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ.

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya tidak sarapan pada hari Iedul Fitri hingga makan beberapa kurma (terlebih dahulu)."

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam "Fathul Barinya" mencoba menyingkap hikmah mengapa Nabi memilih Kurma untuk sarapannya dibandingkan makanan lain, kata beliau :

والحكمة في استحباب التمر لما في الحلو من تقوية البصر الذي يضعفه الصوم، ولأن الحلو مما يوافق الإيمان ....، ومن ثم استحب بعض التابعين أنه يفطر على الحلو مطلقا كالعسل رواه ابن أبي شيبة عن معاوية بن قرة وابن سيرين وغيرهما

"Hikmah dianjurkannya makan Kurma adalah karena rasa manisnya yang dapat menguatkan badan yang sebelumnya lemah karena puasa dan manis itu sesuai dengan rasa keimanan...., Dari sinilah sebagian Tabi'in menganjurkan BERBUKA DENGAN YANG MANIS SECARA MUTLAK, seperti Madu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mu'awiyyah bin Qurrah dan Ibnu Siriin serta selain keduanya." -selesai-.

Lantas saya pun langsung membuka kitab al-Mushonaf Ibnu Abi Syaibah (cet. Maktabah ar-Rusydi) diriwayatkan disana bahwa Muawiyyah ketika ditanya rekannya makanan apa yang biasanya dimakan sebelum berangkat sholat Ied, beliau rahimahullah menjawab (no. 5585) :

لَعِقْتُ لَعْقَةً مِنْ عَسَلٍ

"aku ndulit (bs. Jawa) se-dulit-an Madu."

Sementara riwayat dari Ibnu Siriin rahimahullah dalam kitab diatas, dituturkan oleh Ibnu 'Aun yang berkata :

كَانَ ابْنُ سِيرِينَ، يُؤْتَى فِي الْعِيدَيْنِ بِفَالُوذَجٍ، فَكَانَ يَأْكُلُ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ

"biasanya Ibnu Sirin dihidangkan pada dua hari raya Faluudzaj, lalu beliau memakannya sebelum berangkat (sholat Ied)."

Maksud Al Hafizh diatas adalah bahwa para Tabi'in memahami bahwa kebiasaan Nabi makan Kurma sebelum berangkat sholat Iedul Fitri untuk menunjukkan Beliau berbuka pada hari raya adalah dengan sesuatu yang manis, oleh sebab itu sebagian Tabi'in tadi berbukanya pun dengan yang manis-manis seperti madu atau Faluudzaj yaitu kue yang biasa dibuat orang Arab yang salah satu komposisinya ada madunya juga, yang menunjukkan itu adalah kue manis.

Pun dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika berbuka puasa harian selama bulan Ramadhan, Beliau biasanya berbuka dengan Kurma. Sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

"Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka Beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, Beliau meminum seteguk air.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dikatakan hasan shahih oleh al-Albani).

Dari sini kita sudah menebak alasan yang sama anjuran makan Kurma pada buka harian dengan anjuran makan kurma pada penghujung bulan Ramadhan pada waktu hari raya Iedul Fitri ada hikmah yang sama yang bisa diqiyaskan dalam masalah ini.

Kemudian Khusnuzhon saya kepada para mubaligh yang menyampai berbuka dengan yang manis-manis pada waktu zaman kecilnya saya adalah Kurma pada waktu itu adalah barang mewah bagi penduduk kampung seperti umumnya masyarakat kami, kalaupun sempat makan kurma, maka kualitas kurmanya adalah yang level bawah, mungkin karena ekonomi dulu tidak sebaik sekarang atau kran impor dari Timur tengah untuk mendatangkan kurma masih kesulitan tidak seperti zaman sekarang - wallahu a'lam-. Kalau zaman sekarang, kurma dengan kualitas-kualitas premium mudah didapat dengan harga yang mungkin hampir sama persis di negara asalnya, karena mudahnya mengimpor dalam skala besar.

Karena sudah terframing untuk berbuka dengan yang manis-manis, maka "enyonge" sebagaimana kebiasaan masyarakat di kota kami buka puasanya dengan teh hangat manis, kalau ada rejeki ditambah kolak pisang atau singkong yang manis juga, sekalipun biasanya kurma tetap tersaji untuk ngalap berkahnya juga. Wallahu A'lam.

Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga