Hebatnya Rasulullah Meruntuhkan Perekonomian bangsa Yahudi

Iklan Semua Halaman

Hebatnya Rasulullah Meruntuhkan Perekonomian bangsa Yahudi

Admin
Selasa, 28 April 2020


Oleh: Dr. Tiar Anwar Bachtiar

Hijrah Rasulullah Saw. dari Mekah ke Madinah menandai awal baru sejarah dakwah Nabi Saw. Di Mekah selama 13 tahun ibarat kawah candradimuka yang menempanya bersama para sahabat dengan kegetiran dan kepahitan. Sepuluh tahun berikutnya di Madinah Rasulullah mulai menapaki kemenangan demi kemengangan dakwah hingga sampai pada kemenangan terindah Fathul Mekah pada tahun ke-8 dari hijrah.



Selain keimanan dan sebagai fondasi awal membangun Madinah, yaitu:
  • Membangun mesjid,
  • Mempersaudarakan kaum Muslim,
  • Melakukan perjanjian damai dengan berbagai komunitas yang ada di Madinah.



Ketiga hal ini menandakan bahwa dalam mengawali perjuangannya di Madinah, Rasulullah SAW.
  1. Mendahulukan membangun keimanan dan mentalitas masyarakat,
  2. Membangun persatuan di antara komunitas Muslim, dan
  3. Mengamankan komunitas Muslim dari kemungkinan-kemungkinan gangguan dari pihak luar dengan cara membangun harmoni sosial dengan komunitas manapun yang ada di Madinah saat itu.
Namun, ada satu hal yang mendesak yang dihadapi Rasulullah Saw., yaitu ekonomi Madinah saat itu dikuasai oleh orang-orang Yahudi.

Penduduk asli Madinah, suku Aus dan Khazraj, walaupun lebih lama tinggal di Madinah, tapi kehidupan ekonomi mereka berada di bawah kontrol orang-orang Yahudi.

Salah satu yang menyebabkan penguasaan Yahudi terhadap ekonomi Madinah adalah penguasaan mereka atas pasar.

Bahkan bukan hanya pasar, orang-orang Yahudi, di Madinah ini juga memiliki pusat-pusat pengolahan pertanian yang cukup besar di Madinah seperti di Khaibar. Hal ini semakin memperkuat dominasi Yahudi atas perekonomian Madinah saat itu, karena dari hulu produksi sampai distribusi kepada konsumen semuanya di bawah kendali mereka.

Menghadapi situasi ini, tentu saja Rasulullah SAW. harus mempersiapkan strategi yang tepat dan efektif untuk melemahkan dominasi Yahudi atas ekonomi Madinah.

Selain ketiga hal di atas sebagai pondasi dasar masyarakat Muslim Madinah, Rasulullah SAW. kemudian secara khusus membuat dua strategi penting yang satu sama lain saling berkaitan erat.

Pertama, meningkatkan etos kerja dan produktivitas kaum Muslim; dan kedua, menciptakan pasar baru untuk transaksi kaun Muslim.

Strategi pertama dilakukan Rasulullah SAW. dengan memerintahkan para sahabat untuk segera menggarap lahan-lahan pertanian Madinah yang banyak ditelantarkan oleh penduduk setempat.

Bisa jadi, kebutuhan masyarakat Madinah sudah byk dipenuhi dr kebun² yg dikembangkan orang Yahudi.

Orang² Madinah sendiri bs jadi lbh senang hanya bekerja untuk orang² Yahudi atau hanya menanam untuk kebutuhan sendiri sehingga masih banyak tanah yang tidak tergarap.

Rasulullah SAW menyeru ketika pertama kali menggulirkan program ini, “Siapa yang menghidupkan tanah yang mati; maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR Al-Bukhari).

Pribadi para sahabat yang sudah terbina baik dengan binaan ruhiyyah-islâmiyyah cara Rasulullah SAW tidak pernah berpikir pilihan lain ketika mendengar seruan Rasulullah SAW, kecuali menaatinya.

Ali ibn Abi Thalib menghidupkan tanah dekat mata air di Yanbu’. Zubair ibn Awwam mengambil sepetak tanah tak terurus lainnya di Madinah. Diikuti kemudian oleh sahabat² lainnya yang sangat bersemangat untuk dapat hidup mandiri & produktif.

Bila sebelumnya yang bertani adalah orang Madinah saja, maka karena dorongan perintah Rasulullah SAW banyak dari kabilah lain yang belajar bertani sehingga pada masa Rasulullah SAW di Madinah muncul kawasan² pertanian baru yg produktif seperti Wadi Al-Aqiq, Wadi Bathhan, Wadi Mahzuz, Wadi Qanah, Wadi Ranuna, Wadi Al-Qura, Wadi Waj, Wadi Laij, dsb. Padahal, sebelumnya kawasan² tersebut adalah kawasan telantar yang hanya ditumbuhi semak belukar.

Produksi adalah bagian paling dasar dalam siklus ekonomi.
Tidak akan ada pasar dan perdagangan tanpa ada barang² produksi. Rasulullah SAW memulainya dari wilayah ini untuk melemahkan dominasi Yahudi. Bila selama ini produk² yg digunakan masyarakat Madinah dimonopoli oleh Yahudi dari kawasan² pertanian mereka, maka Rasulullah SAW mulai menyainginya dari hasil² produksi lahan baru milik para sahabat. Paling tidak saat panen tiba, kebutuhan kaum Muslim tidak lagi harus bergantung kepada orang-orang Yahudi. Ketika kaum Muslim sudah dapat mandiri, maka posisi tawar kaum Muslim semakin kuat. Apalagi yang mandiri adalah pangan yang merupakan kebutuhan primer manusia.

Kendala yang dihadapi pasca produksi adalah pemasaran.

Di Madinah pasar² besar adalah milik bangsa Yahudi.
Salah satu pasar paling besar adalah Pasar Banu Qainuqa’ milik Yahudi. Rupanya kekuatan pokok mereka ada di sini.

Dengan cara² yg penuh tipuan (gharar dan jahâlah) disertai dengan praktik riba yang akut, kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang² produksi untuk masuk ke pasar mereka.

Masyarakat Madinah sebelum kedatangan Rasulullah SAW yg tdk terlalu mahir berdagang, tdk sanggup keluar dr lingkaran setan ekonomi ribawi yg dipraktikkan Yahudi di pasar² mereka. Bila tidak mengikuti skema Yahudi ini, para petani tidak dapat memasukkan produk mereka ke pasar.

Agar produk² yg sdh dihasilkan umat Islam tdk mnjdi makanan baru Yahudi,
maka Rasulullah SAW berinisiatif untuk membuat pasar baru, minimal bagi kebutuhan umat Islam sendiri.

Bersama Rasulullah SAW dari Mekah ada sahabat² yg mahir berdagang spt Usman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Abu Bakar, dan bbrp yg lainnya. Rasulullah SAW adalah pedagang sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Keahlian² semacam inilah yang memungkinkan Rasulullah SAW dapat menjalankan misinya membangun pasar baru.

Mula² Rasulullah SAW membangun semacam tenda di dekat pasar Bani Qainuqa’ khusus untuk jual beli kaum Muslim. Ka’ab Al-Asyraf pemimpin Yahudi sangat marah atas apa yang dilakukan Rasulullah SAW Ia kemudian menghancurkan tenda tersebut agar kaum Muslim kembali bertransaksi ke pasar Bani Qainuqa’.

Rasulullah SAW tidak terpancing oleh Ka’ab, tetapi ia kemudian berkata, “ Demi Allah, aku akan membangun pasar yang akan membuatnya lebih marah lagi.” Setelah Rasulullah SAW membangun pasar di tempat yang agak jauh dari pemukiman. Kawasan pasar ini kelak dikenal sebagai pasar Manakhah.

Pasar yang dibuat Rasulullah SAW ini unik dan sungguh² membuat Yahudi sangat marah atas keberadaannya, karena akhirnya pasar ini sanggup menggusur dominasi pasar orang² Yahudi di seantero Madinah.

Oleh Rasulullah SAW pasar ini dibuat sangat luas dan tidak dibuat bangunan permanen di sana; hanya berupa tanah lapang.

Rasulullah SAW melarang untuk memungut pajak dan kutipan apapun di pasar ini untuk menjaga harga tidak naik di tingkat konsumen.

Lebih unik lagi, Rasulullah SAW memperlakukannya seperti masjid. Siapa saja kaum Muslim bebas datang ke kawasan ini. Tidak boleh ada yang mengkavling-kavling tanah tersebut untuk sendiri.

Setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja sama seperti orang duduk di mesjid bebas di sudut mana saja.

Pengambilan tempat didasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk memilih tempat mana yang akan dipergunakan. Keunikan ini bertahan hingga masa Khulafaur-Rasyidin.

Tambahan lagi, yang menyebabkan pasar ini semakin diminati oleh banyak konsumen adalah karena pasar ini sangat ketat memperhatikan implementasi ajaran-ajaran muamalah Islam. Di pasar ini tidak boleh ada riba, gharar, dan perjudian.

Diharamkan pula ada yang melakukan kecurangan² seperti pengurangan timbangan dan penipuan lainnya. Untuk menjamin semua ini berjalan baik, maka Rasulullah SAW menunjuk Umar ibn Khathab sebagai pengawas pasar. Umar diberi kewenangan untuk menindak siapa saja yang melakukan kecurangan di pasar ini. Faktor inilah yang menyebabkan pasar ini menjadi lebih diminati bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga kaum kafir. Secara perlahan tapi pasti, pasar Rasulullah SAW berhasil menyingkirkan dominasi pasar Yahudi yang sangat merugikan konsumen.

Semoga Bermanfaat !!!
Baca Juga