Hukum Menambahkan Mu'awidzatain Setelah Qulhu pada Shalat Witir

Iklan Semua Halaman

Hukum Menambahkan Mu'awidzatain Setelah Qulhu pada Shalat Witir

Admin
Jumat, 24 April 2020


Asianmuslim.com - Pada saat shalat witir kita sering mendapati imam membaca surat qulhu (al-ikhlas) pada rakaat ketiga. Sering pula kita jumpai ada tambahan muawidzatain atau surat al-falaq dan an-nas sehingga jumlahnya menjadi tiga surat dalam satu rakaat. Apa hukumnya menambah bacaan surat muawidzatain pada rakaat terakhir shalat witir? Berikut ini penjelasannya.

Imam Al Albani dalam kitab Sifat Sholat Nabi menyebutkan beberapa surat yang dibaca oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dalam sholat witirnya. Imam Al Albani berkata :

ﻛﺎﻥ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻌﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ :{ ﺳَﺒِّﺢِ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺍﻷَﻋْﻠَﻰ } ( :87 19 ‏
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ : {ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ } ‏( :109 6 ‏) ،
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ : {ﻗُﻞ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ } ‏( :112 4 )

"Adalah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam membaca rakaat pertama : QS. Al A’laa; pada rokaat kedua : QS. Al Kaafirun; dan pada rakaat ketiga : QS. Al Ikhlas".

Kemudian Imam Al Albani mentakhrij hadits ini dari 3 orang sahabat secara marfu’ kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yaitu dari : Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, Ubay bin Ka’ab dan Imroon bin Khusoin Rodhiyallahu ‘anhum. Dan berkesimpulan hadits dalam bab tersebut shahih. (lihat Ashlu Sifat Sholat Nabi 2/539-541-cet. Maktabatul Ma’aarif).

Kemudian Imam Al Albani mengatakan bahwa dalam riwayat lain terdapat tambahan pada rokaat ketiga selain membaca surat Al Ikhlas, ditambahkan membaca surat Al Falaq dan surat An Naas yang biasa disebut dengan al-Mu’awidzatain yakni 2 surat yang dijadikan bacaan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan kejelekan para makhluk-Nya.

Imam Al Albani dalam al-Ashlu (2/541-543) mentakhrij tambahan tersebut dari beberapa sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam secara marfu’ sebagai berikut :

1. Dari Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau ditanya oleh Abdul Aziz bin Juraij :

ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺃُﻡَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ، ﺑِﺄَﻱِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻮﺗِﺮُ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ، ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔِ ﺑِﻘُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ، ﻭَﺍﻟْﻤُﻌَﻮِّﺫَﺗَﻴْﻦِ

"aku bertanya kepada Aisyah Rodhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, surat apakah yang dibaca pada saat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat witir? Lalu disebutkan secara makna, Aisyah Rodhiyallahu ‘anha berkata : “Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada rokaat ketiga membaca Qul Huwaallahu Ahad dan al-Mu’awidzatain”.

Imam Al Albani dalam al-Ashlu mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Imam Al Hakim semuanya dari jalan Muhammad bin Maslamah dari Khushoif dari Abdul Aziz bin Juraij lalu seperti diatas.

Komentar para ulama terhadap hadits ini :

Imam Al Albani menyebutkan penilaian Aimah hadits terhadap hadits diatas, misalnya :

1. Imam Tirmidzi menilainya : “ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻏﺮﻳﺐ” (haditsnya Hasan Ghoriib (asing));

2. Imam Al Hakim menilainya : “ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ ” (sanadnya shahih).

Namun Imam Al Albani membantah penshahihan Imam Al Hakim atas sanad ini, menurut beliiau dalam sanadnya ada 2 kelemahan yaitu Khusoif dan Abdul Aziz dinilai layyin (lunak haditsnya) oleh Al Hafidz Ibnu Hajar.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan mutaba’ah (penguat) hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thohawi, Imam Daruquthni, Imam Al Hakim dan Imam Ibnu Hibban dari jalan Yahya bin Ayyub dari Yahya bin Sa’id al-Anshoriy dari ‘Amroh dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha.

Komentar para ulama terhadap sanad diatas :

Imam Al Albani menyebutkan penilaian Aimah hadits terhadap sanad ini, misalnya :

1. Imam Al Hakim menilainya : “ ﺻﺤﻴﺢ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻃﻬﻤﺎ ” (shahih atas syarat Bukhori-Muslim);

2. Imam adz-Dzahabi menyetujui penilaian Imam Al Hakim;

3. Imam al-‘Uqoiliy menilainya :

ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺎﻟﺢ، ﻭﻟﻜﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ – ﺑﺈﺳﻘﺎﻁ : ﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ – ﺃﺻﺢ

Sanadnya sholih, namun hadits Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhumaa menggugurkan al-Mu’awidzatain dan ini lebih shahih (daripada hadits dengan tambahan-pent.;

4. Imam Ibnul Jauzi menilainya :

ﺃﻧﻜﺮ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ ﺯﻳﺎﺩﺓ : ﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ . ﻭﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺴﻜَﻦ ﻓﻲ ” ﺻﺤﻴﺤﻪ ” ﻟﻪ ﺷﺎﻫﺪﺍً ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺳَﺮْﺟِﺲ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﻏﺮﻳﺐ .“ ﺍﻫـ .

"Ahmad dan Yahya bin Ma’in mengingkari tambahan al-Mu’awidzatain. Diriwayatkan oleh Ibnu Sakan dalam Shahihnya dan ini memiliki syahid (penguat) dari Abdullah bin Sarjis Rodhiyallahu ‘anhu dengan sanad ghoriib.

Imam Al Albani mengomentari bahwa syahid/penguat tersebut menyanggah penilaian mungkar terhadap hadits tambahan ini.

Kemudian kami mendapati asy-Syaikh Syu’aib Arnauth menemukan mutaba’ah lainnya untuk riwayat Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam al-Marwaziy dalam Qiyaamul Lail dan Imam al-Uqoiliy dalam adh-Dhu’afaa’ dari jalan Sulaimaan bin Hasaan al-Mishroy dari hayawah bin Syuroih dari ‘Iyaasy bin Abbas dari Yaziid bin Ruumaan dari Urwah dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha. Lalu Syaikh Syu’aib menyebutkan bahwa Sulaimaan bin Hasaan dinilai oleh Imam Abu Hatim dalam Jarh wa Ta’dil sebagai Sholihul Hadits, namun Imam Uqoily menilainya, tidak dimutaba’ahi haditsnya.

Namun kami memandang, justru sanad ini dapat dijadikan penguat dalam riwayat Aisyah Rodhiyallahu ‘anha diatas;

2. Dari Abdullah bin Sarjis Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Sebelumnya Imam Al Albani telah menyinggung hadits ini sebagai syahid (penguat) untuk hadits Aisyah Rodhiyallahu ‘anha dalam riwayat Ibnus Sakan. Lalu penulis mendapatkan sanad riwayat Abdullah bin Sarjis Rodhiyallahu ‘anhu yang disebutkan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Ibnu Majah dalam riwayat Imam Abu Nu’aim di "Hilyatul Aulia". Oleh karenanya, kami segera mengecek ke kitab tersebut dan didapatkan sanadnya sebagai berikut :

"Haddatsanaa Muhammad bin al-Mudhoffar, haddatsanaa Muhammad bin Ahmad bin Ya’quub bin ash-Sholti, haddatsanaa Laits bin al-Farji al-‘Absiy, haddatsanaa Abu ‘Aashim adh-Dhohaak bin Makhlad, haddatsanaa Syu’bah dari ‘Aashim dari Abdullah bin Sarjis Rodhiyallahu ‘anhu :

” ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻮﺗِﺮُ ﺑِﺜَﻠَﺎﺙٍ , ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺏِ ﺳَﺒِّﺢِ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔِ ﺏِ ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔِ : ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ , ﻭَﻗُﻞْ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺮَﺏِّ ﺍﻟْﻔَﻠَﻖِ , ﻭَﻗُﻞْ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺮَﺏِّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ”

"Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam witir sebanyak 3 rokaat, pada rokaat pertama membaca surat Al A’laa, pada rokaat kedua surat Al Kaafirun, dan pada rokaat ketiga membaca Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas".

Imam Abu Nu’aim setelah meriwayatkan hadits ini, mengomentarinya dengan perkataannya :

ﻏَﺮِﻳﺐٌ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺷُﻌْﺒَﺔَ , ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺻِﻢٍ، ﺗَﻔَﺮَّﺩَ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚُ , ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻋَﺎﺻِﻢٍ

"Ghoriib dari haditsnya Syu’bah dari ‘Aashim, al-Laits menyendiri dalam meriwayatkan dari Abi ‘Aashim";

3. Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, syahid (penguat) ini disebutkan oleh Syaikh Syu’aib dalam ta’liqnya yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Ausath. kami pun langsung melihat kitabnya dan didapatkan sanadnya sebagai berikut :

"Haddatsanaa Miqdaam, haddatsanaa pamanku Sa’id bin Isa, haddatsanaa Mufadhol bin Fadhoolah dari Abi Isa al-Khursiy dari al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu :

ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻌﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺏ ﺳﺒﺢ ﺍﺳﻢ ﺭﺑﻚ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻗﻞ ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ

"Dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa Beliau membaca pada rokaat pertama sholat witir surat Al A’laa, pada rokaat kedua surat al-Kaafirun dan pada rokaat ketiga membaca al-Ikhlas dan al-Mu’awidzatain".

Syaikh Syu’aib mengomentari bahwa riwayat ini lemah dengan sebab dhoifnya Miqdaam bin (Dawud) salah satu perowinya.

Kesimpulan dari takhirj hadits diatas adalah Imam Al Albani menilai hadits tambahan mu’awidzatain dalam baacaan rokaat ketiga sholat witir, haditsnya Shahih, sedangkan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth menilainya hasan lighorihi dengan gabungan jalan-jalannya, dan beliau rujuk setelah pada takhrij beliau terhadap Sunan Tirmidzi mendhoifkan hadits ini. Dan kami condong mendukung pendapatnya asy-Syakh Syu’aib Arnauth yang menilainya hasan lighorihi, mengingat masing-masing jalan sanad hadits-hadits yang membahas tambahan "mu'widzatain" setelah membaca "qulhu" di rakaat ketiga sholat witir, tidak terlepas dari kritikan. Wallahu a'lam.

Imam Al Albani dalam al-Ashlu menukil bahwa Syafi’iyyah, Imam Malik dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, mereka semuanya menganjurkan untuk membaca tambahan mu’awidzatain setelah surat Al Ikhlas pada rokaat ketiga sholat Witir.


Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga