Kisah Maria Sugiyarti, Calon Pendeta yang Dapat Hidayah Islam

Iklan Semua Halaman

Kisah Maria Sugiyarti, Calon Pendeta yang Dapat Hidayah Islam

Admin
Jumat, 24 April 2020

Asianmuslim.com - Di antara puluhan guru SMK Muhammadiyah 2 Surabaya, terselip nama Maria Sugiyarti. Dari namanya, mudah ditebak kalau ia berasal dari keluarga Kristiani. Ibu lima anak ini mengaku “tersesat” di jalan yang bbena

Maria kecil adalah gadis tomboy. Perilakunya seperti anak laki-laki. Suka naik pohon, dan naik gunung. Hobi berolahraga, dan bermain di kali. Seperti umumnya anak tomboy, ia tidak bisa  menyimpan rasa ingin tahu dan tidak suka diatur-atur, termasuk dalam soal ibadah

Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Kristiani, sejak kecil ia sudah dididik menjadi penganut Kristen fanatik. Lebih dari itu, orang tuanya menginginkan Maria jadi pendeta. Sehingga terus dilatih menghafal Injil.

Tapi lain keinginan orang tua, lain pula yang dipikirkan sang anak. Jalan hidup Maria seperti puisi Kahlil Gibran. “Anakmu bukanlah anakmu… mereka lahir darimu, tapi bukan milikmu…  pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu…  karena mereka memiliki fikiran sendiri ….”

*Bagi Maria, hubungan antara orangtua dan anak hanya sebatas memberikan arahan dan bimbingan. Bukan memaksakan keinginan dan pemikirannya. Karena anak semakin dipaksa, makin berontak. Ia misalnya, kerap mempersoalkan sistem keimanan Kristiani yang meyakini bahwa tuhan itu tiga, tapi ruhnya satu*

“Seperti segitiga sama sisi, yang memiliki tiga sisi tapi sejatinya satu,” kata dia, menirukan ilustrasi yang diberikan sang pendeta. Sayangnya setiap dia minta penjelasan lebih logis, tidak ada jawaban memuaskan, kecuali hanya doktrin bahwa beragama harus diimani, tidak boleh protes.

Perempuan kelahiran Wonogiri pada 1 Juni 1969, ini pun terus berontak dan tak henti melakukan pencarian. Apalagi dirinya punya pengalaman spiritual menarik semasa usia belia.

Ceritanya, waktu duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD), setiap ada pelajaran agama Islam, murid yang Kristen keluar. Dasar tomboy, ia tidak ikut bermain di luar, tapi justru duduk di jendela kelas, sambil melihat guru agama Islam mengajarkan agama. “Guru tersebut, Pak Marsam, cara mengajarkan agama tidak menggurui, tapi dengan cerita-cerita indah,” kenang Maria.

Di antara yang diingat, kisah mengenai sahabat Umar bin Khathab yang kelihatan keras, ternyata hatinya lembut. Juga Ali bin Abu Thalib yang tidak mau menggunakan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi. Termasuk ajaran tidak boleh membunuh semut. “Semut itu kecil. Kalau dibunuh, kita tidak ada bangganya,” kata dia mencontoh ucapan sang guru.

Ia tertegun, kagum atas keindahan ajaran Islam. Selanjutnya, ketika surat-surat pendek dibacakan, terasa ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk mendengarkan. “Demikian pula kalau terdengar kumandang adzan, saya mesti ingin menangis,” ungkapnya sembari menyeka airmata yang mengalir di pipinya.

*Kerinduannya pada agama yang dibawa Nabi Muhammad itu tak terbendung, sehingga ia pernah berpuasa secara diam-diam, tanpa diketahui keluarga. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, ia terus berjuang keras untuk mendapatkannya*

Namun ketertarikannya pada Islam terhadang oleh tembok besar bernama keluarga. Lingkungan keluarganya 99% Kristen. Nenek moyangnya, menjadi salah satu pelopor Gereja Kristen Jawa di Wonogiri bagian timur. Anggota keluarga yang lain, jadi pendeta di Jakarta. Di rumah orang tuanya, juga dipakai kebaktian, bahkan hingga sekarang.

*Tapi iman memang mutlak hidayah Illahi. Jika Allah menghendaki, tak seorang pun dapat menghalangi. Itulah yang dialami putri dari pasangan Karsoyadi Wikromo dan Suwartini ini. Ketertarikannya pada Islam yang sempat terhalang oleh lingkungan keluarga, tumbuh kembali saat kuliah di Surabaya*

Mulanya, ia sering mendengar radio kawan se-rumah kost, yang memutar ceramah Zainuddin MZ. Saat itu, antara lain menjelaskan Surat Ali Imron 138, yang artinya: Sesungguhnya al-Quran ini adalah penerang bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

“Saya tergelitik, sekaligus bingung. Karena tangan saya memegang Injil dan al-Quran. Saya juga masih aktif ke Gereja,” ungkapnya. Di tengah kebingungan, dia mendapatkan penjelasan dari surat al-Dhuha ayat 7, yang artinya: Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk…

“Saya semakin tidak bisa tidur, demam memikirkan hal itu. Mana yang harus saya yakini. Kemudian saya temukan Surat Ali Imron, ayat 139 yang melarang bersedih,” kisah dia mengenang pengembaraannya dalam mencari agama.

Perang batin terus berkecamuk dalam dirinya. “Kalau masuk Islam, saya akan dibilang anak durhaka dan dikucilkan keluarga. Tapi kalau tidak masuk Islam, saya pasti menyesal selamanya,” tukasnya.

*Setelah kian mantap dengan Islam, pada 1990, ia berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat, di masjid Al-Falah Surabaya. Boleh dibilang, ia mencari Islam sendirian, dibimbing kaset dan buku*

Di antara yang membuat dirinya yakin pada Islam, karena dalam al-Quran banyak sekali harapan dan cinta. Masalah apa pun dalam kehidupan ini, dari hal yang paling kecil sampai paling besar, semua ada dalam al-Quran. “Jadi, apa yang perlu diragukan,” tanyanya meyakinkan.

*Anak ketujuh, dari delapan bersaudara ini menjadi muslimah pertama, di lingkungan keluarga. Tentu tidak mudah menjadi muslimah sendirian di tengah mayoritas Nasrani. Ia sadar, orangtuanya yang begitu fanatik pasti sulit menerima kenyataan bahwa anaknya menjalani keyakinan lain. Karena itu ia tidak mengabarkan pada keluarga mengenai statusnya yang sudah mualaf*

*Nah, tabir mulai terbuka ketika kuliahnya memasuki semester tiga. Kakak dia yang menjadi kepala sekolah, hendak belanja buku ke Surabaya. Ia bersama istrinya mampir ke rumah kost. Ia kaget melihat di kamar ada sajadah. “Sajadah ini siapa yang punya, bukankah kamu sekamar sendirian?” tanyanya agak marah*

*“Ya, itu sajadah saya,” jawab Maria. Bagai tersambar petir. Kakaknya kaget, dan terlihat raut mukanya kecewa berat, meski masih ditutupi dengan jalan-jalan bersama, mencari makan di Surabaya*

Setelah tercium, dia diundang pulang untuk disidang oleh keluarga besar. Dia memahami betapa kecewa mereka. Karena keluarganya rata-rata “takmir” gereja, yang biasa melakukan pelayanan, mendatangi orang sakit dan mendoakan. Membantu mereka yang kurang biaya, dan sebagainya. “Maka bisa dibayangkan kekecewaan mereka,” tutur aktivis Komunitas FILMUDA itu penuh empati.

Dalam persidangan itu, ia ditanya tentang apa yang menjadikan dirinya tertarik pada Islam. “Kalau kamu masuk Islam, akan dipoligami,” ancam mereka. Tapi Maria menghadapinya dengan tersenyum, seraya menjawab: “Monggo al-Quran meniko dibuka,” jawab Maria dengan santun.

Mereka semua lantas terdiam. Dalam suasana campur aduk itu, sang ayah akhirnya terpaksa mengijinkan. “Kalau masuk Islam menjadikan kamu lebih baik, tidak apa-apa. Tapi jangan main-main,” titah ayahnya.

*Kendati sudah diijinkan, tidak berarti tanpa hukuman. “Saya didiamkan oleh keluarga besar, sampai anak pertama saya lahir,” kenangnya*

Diperlakukan seperti itu, toh dia tidak marah, apalagi dendam. Malah ingin membuktikan bahwa dengan menjadi muslimah, akhlaknya lebih baik. “Saya perlakukan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, saya pijati kakinya. Saya tunjukkan, setelah menjadi muslimah saya lebih santun dan sopan pada beliau, daripada yang dulu,” akunya.

Cibiran dan ejekan yang diterima bertubi-tubi dari sebagian keluarga tidak menjadikan dirinya menyesal masuk Islam. Kepada keluarga, dia bilang: Dunia ini, telah ditukar dengan Islam. Karena ia yakin, Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik.

“Karena saya menyembah Allah, bukan menyembah orang tua. Kalau kita menyembah Allah, semua itu mudah bagi Allah. Semua milik Allah, mau diambil kapan saja terserah. Janji Allah pasti akan mengganti,” ia meyakinkan dirinya.

Dengan prinsip hidup: dijalani dan syukuri, maka ia merasa banyak kemudahan diperoleh setelah masuk Islam. Selain ketentraman, kuliahnya lancar (lulus tepat waktu dan menjadi lulusan terbaik). Juga mendapatkan saudara baru yang lebih baik dalam Islam.

Ia mengaku beruntung, dapat semua yang diinginkan wanita. Lima anaknya: Ummi Azahra, Ghina Ramadhani, Omar Mochtar, Haidar Ali, dan Hisbullah Hasan Albana, yang merupakan penyejuk hatinya, kini mulai beranjak dewasa. Bahkan yang ketiga dan keempat, telah hafidz al-Quran.

Guru Bimbingan Konseling (BK) yang dikenal dekat dengan siswa itu tak henti-henti bersyukur, telah “tersesat” di jalan yang benar, berkat limpahan kasih sayang Allah Swt. Cita-citanya yang terus dikejar adalah menjadi trainer dan penulis. “Hidupku adalah kanvasku,” tulis dia dalam buku hariannya.

Semoga istiqomah dalam iman Islamnya ukhty.
Baca Juga