Kupas Tuntas Hukum Takbiran Hari Raya Berdasarkan Dalil-dalil Shahih

Iklan Semua Halaman

Kupas Tuntas Hukum Takbiran Hari Raya Berdasarkan Dalil-dalil Shahih

Admin
Sabtu, 18 April 2020

Asianmuslim.com - Sudah menjadi tradisi umat islam diseluruh dunia khususnya Indonesia. Malam tanggal satu syawal seiring dengan berakhirnya puasa Ramadhan masyarakat biasa mengundangkan takbir di masjid-masjid. Anak-anak, remaja putra putri hingga orang tua bersama-sama mengundangkan takbir, tahmid dan tasbih semalam suntuk. Suara takbiran bertalu-talu dari menara-menara masjid menambah kegembiraan setelah sebulan berpuasa. Tradisi ini sudah turun temurun dari nenenk moyang kita samapi hari ini.

Lalu bagaimana hukum takbiran hari raya menurut dalil yang shahih dan berdasarkan penjelasan para ulama? Simak ulasan lengkap dibawah ini yang akan mengupas hukum takbiran ditinjau dari hukum syariat.

Untuk mengawali pembahasan ini simak ayat di bawah ini;

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185).

Ayat diatas merupakan dalil bolehnya takbiran, baik hari raya idul fitri maupun idul adha. Sisi pendalilan dari ayat di atas, dari kalimat “….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…”.
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rohimahullah (wafat : 310 H) :

يعني تعالى ذكره: ولتعظِّموا الله بالذكر له بما أنعم عليكم به

“Alloh Ta’ala memaksudkan dengan mengingat-Nya, artinya : hendaknya kalian mengagungkan Alloh dengan menyebut bagi-Nya apa yang telah Dia karuniakan kepada kalian….”. [Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an : 3/478].

Dan yang dimaksud dengan dzikir yang Alloh anjurkan di dalam ayat di atas, adalah kalimat takbir sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama’ salaf. Diantara mereka adalah :

Pertama, Zaid bin Aslam. Al-Imam Ath-Thabari rohimahullah berkata : Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Suwaid bin Nashr telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Ibnul Mubarak telah mengabarkan kepada kami, dari Dawud bin Qois, dia berkata : aku mendengar Zaid bin Aslam berkata :

ولتكبروا الله على ما هداكم"، قال: إذا رأى الهلال، فالتكبيرُ من حين يَرى الهلال حتى ينصرف الإمام، في الطريق والمسجد، إلا أنه إذا حضر الإمامُ كفّ فلا يكبرِّ إلا بتكبيره

“….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…” beliau berkata : Jika seorang melihat hilal, maka hendaknya dia bertakbir dimulai sejak dia melihat hilal sampai imam selesai di jalan, dan di masjid kecuali apabila imam telah datang, dia tahan jangan bertakbir kecuali dengan takbirnya”. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2901. Simak pula “Tafsir Ibnu Abi Hatim” : 1/314].

Kedua, Sufyan Ats-Tsauri –rohimahullah-. Al-Imam Ath-Thabari –rohimahullah- berkata : Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Suwaid telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Ibnul Mubarok telah mengabarkan kepada kami, dia berkata : Aku mendengar Sufyan (Ats-Tsauri) berkata:

ولتكبِّروا الله على ما هداكم"، قال: بلغنا أنه التكبير يوم الفطر

““….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…” , beliau berkata : Telah sampai kepada kami, sesungguhnya ia adalah ucapan takbir di hari raya Idul Fitri”. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2902].

Ketiga, Ibnu Abbas –rodhiallohu ‘anhu-. Al-Imam Ath-Thobari –rohimahullah- berkata : Yunus telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Zaid berkata : Ibnu Abbas pernah berkata :

حقٌّ على المسلمين إذا نظروا إلى هلال شوال أن يكبرِّوا الله حتى يفرغوا من عيدهم، لأن الله تعالى ذكره يقول:"ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم"

“Hak atas kaum muslimin apabila mereka telah melihat hilal (tanggal satu) bulan Syawwal untuk bertakbir (mengagungkan) Alloh sehingga selesai dari ‘Ied mereka. Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,.” - (QS. Al-Baqarah : 185) -. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2903].

Al-Imam Al-Qurthubi –rohimahullah- ( 671 H ) berkata :

قَوْلُهُ تَعَالَى:" وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ" عَطْفُ عَلَيْهِ، وَمَعْنَاهُ الْحَضُّ عَلَى التَّكْبِيرِ فِي آخِرِ رَمَضَانَ فِي قَوْلِ جُمْهُورِ أَهْلِ التَّأْوِيلِ

“Firman Alloh : “dan hendaklah kamu mengagungkan Allah”, penghubungan atasnya. Maknanya : Dorongan untuk bertakbir di akhir bulan Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama’ ahli takwil ( tafsir ).” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an : 2/306].

Al-Imam Abu Bakar Al-Jurjani –rohimahullah- (wafat : 471 H) berkata :

وقيل: تكبير يوم الفطر، وذلك سُنَّة أشار إليها القرآن من غير أمر بها

“(Firman Alloh : “dan hendaklah kamu mengagungkan Allah”) ,Ada yang berpendapat : takbir di hari raya. Dan hal itu merupakan sunnah yang telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an tanpa diperintahkan dengannya.” [Darju Durar : 1/349].

Al-Imam Abu Mudzoffar As-Sam’ani –rohimahullah- ( wafat : 489 H ) berkata :

أَي: لتعظموه على مَا أرشدكم إِلَى مَا رضى بِهِ من صَوْم رَمَضَان. قَالَ ابْن عَبَّاس: هُوَ تَكْبِيرَات لَيْلَة الْفطر وَهُوَ مَرْوِيّ عَن ابْن عمر، وَعَائِشَة رَضِي الله عَنْهُمَا. وَقَالَ: حق على كل مُسلم أَن يكبر لَيْلَة الْفطر إِلَى أَن يفرغ من صَلَاة الْعِيد

“Artinya : hendaknya kalian mengagungkan-Nya atas apa yang Dia telah memberi petunjuk kepada kalian kepada apa yang telah Dia ridhoi dari puasa bulan Ramadhan. Ibnu Abbas berkata : ia adalah takbir-takbir malam hari raya Idul Fithri. Dan hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, dan Aisyah –rodhiallohu ‘anhuma-. Dia berkata : hak atas setiap muslim untuk bertakbir di malam hari raya Idul Fitri sampai selesai dari sholat Ied.” [Tafsir Abu Mudzoffar : 1/185].

Dari beberapa keterangan para ulama’ ahli tafsir di atas dapat kita simpulkan, bahwa takbir ( pengagungan kepada Alloh dengan ucapan Allohu akbar ) di malam hari raya Idul Fitri sampai dimulainya sholat hari raya, merupakan perkara yang disyari’atkan.

Takbir di hari raya boleh dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah. Ini merupakan pendapat sekelompok para ulama’ salaf. Bahkan sebagian ulama’ ada yang menyatakan sebagai pendapat jumhur (mayoritas ulama’). 

Hal ini berdasarkan beberapa argument, diantaranya :

Pertama :

Perintah takbir dalam surat Al-Baqarah ayat : 185, sifatnya mutlak. Tidak dibatasi oleh sesuatupun. Dalam kaidah ushul fiqh, dalil yang mutlak diamalkan sesuai kemutlakannya, sampai ada dalil lain yang mentaqyidnya ( membatasinya ). Sehingga dibolehkan bertakbir secara sendiri-sendiri ataupun berjama’ah. Barang siapa yang mengeluarkan surat Al-Baqarah: 185 dari kemutlakannya, dan membatasi hanya takbir sendiri-sendiri, maka dituntut untuk mendatangkan dalil yang shohih dan jelas yang mengeluarkan dari makna asalnya.

Adapun pihak yang mengamalkan ayat di atas sesuai kemutlakannya, maka jangan ditanya dalil lagi. Karena mereka telah beramal di atas dalil. Yang perlu ditanya dalil, orang yang membatasi takbiran harus sendiri-sendiri.

Kedua :

Adapun dari hadits nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam-, diantaranya : Hadits Ummu Athiyyah –rodhiallohu ‘anha- beliau berkata :

«كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ العِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ البِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الحُيَّضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ اليَوْمِ وَطُهْرَتَهُ»

“Pada hari Raya Ied kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut." [HR. Al-Bukhari : 971].

Sisi pendalilan dari riwayat di atas, pada kalimat “( mereka para wanita ) mengucapkan takbir mengikuti takbir kaum laki-laki”. Makna yang dzohir ( tampak ) dari kalimat ini, takbir dilakukan secara bersama-sama ( jama’ah ).

Dalam kaidah ushul fiqh, suatu dalil yang memiliki makna dzohir, maka dipahami dan diamalkan sesuai dzohirnya. Tidak boleh bagi kita untuk keluar dari makna dzohirnya, sampai ada dalil yang mengeluarkannya dari makna asal kepada makna yang lain.

Telah diriwayatkan al-imam Al-Bukhari –rohimahullah- secara mu’allaq dari Abdullah bin Umar –rodhiallohu ‘anhu- :

«يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا»

“Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir, dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak ( maksudnya : gegap gempita ) dengan suara takbir.” [Shohih Al-Bukhari : 2/20].

Ibnu Hajar –rohimahullah- mengatakan :

وَصَلَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ رِوَايَةِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ السُّوقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَوَصَلَهُ أَبُو عُبَيْدٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ بِلَفْظِ التَّعْلِيقِ وَمِنْ طَرِيقِهِ الْبَيْهَقِيُّ

“Riwayat ini telah dimaushulkan ( disambung sanadnya ) oleh Sa’id bin Manshur dari riwayat ‘Ubaid bin ‘Umari dia berkata : “Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak ( maksudnya : gegap gempita ) dengan suara takbir.” Dan hal ini telah dimaushulkan oleh Abu ‘Ubaid dari sisi yang lain dengan lafadz ta’liq. Al-Baihaqi juga telah meriwayatkan dari jalurnya”. [ Fathul Bari : 2/462].

Saya ( penulis ) berkata : Ucapan Ibnu Hajar –rohimahullah- “Al-Baihaqi juga telah meriwayatkan dari jalurnya”, maksudnya Al-Baihaqi telah meriwayatkan atsar dari Umar di atas, dari jalur periwayatan Abu Ubaid. Sebagaimana beliau berkata dalam “Sunan Al-Baihaqi” : 3/312 : Abu Abdillah Al-Hafidz telah mengabarkan kepada kami, dia berkata : Abu Bakar bin Ishaq telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Ubaid berkata : Yahya bin Said telah menceritakan kepadaku, dari Ibnu Juraij dari Atho’ dari Ubaid bin Umair dari Umar……-kemudian beliau menyebutkan riwayat di atas .”

Kemudian beliau (Ibnu Hajar) –rohimahullah- berkata :

وَقَوْلُهُ تَرْتَجُّ بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رفع الْأَصْوَات

“Ucapannya “tartajju” dengan tatsqiil di huruf jim, artinya : goncang dan bergerak. Dan ini (maknanya) : menunjukkan berlebihan di dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengeraskan suara”. [Fathul Bari : 2/462].

Al-Imam Al-‘Aini –rohimahullah- ( wafat : 855 H ) berkata :

قَوْله: (حَتَّى ترتج) يُقَال: ارتج الْبَحْر، بتَشْديد الْجِيم إِذا اضْطربَ، والرج: التحريك. قَوْله: (منى) فَاعل: ترتج. قَوْله: (تَكْبِيرا) نصب على التَّعْلِيل، أَي: لأجل التَّكْبِير، وَهُوَ مُبَالغَة فِي إجتماع رفع الْأَصْوَات.

“ Ucapannya “sehingga tartajju”, dikatakan :: “Laut itu irtajja” dengan ditasydiid di huruf jim, (artinya) : Apabila bergelombang atau goncang atau bergerak. Ar-rajju artinya bergerak. Dan ucapannya “Mina”, sebagai fail (pelaku perbuatan) dari kata kerja tartajju. Ucapannya “takbiran”, dalam kondisi manshub sebagai ta’lil (sebab), artinya : karena takbir. Dan hal ini sebagai bentuk berlebihan/menyangatkan dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengangkat suara.” [Umdatul Qori’ : 2/292].

Al-Imam Asy-Syaukani –rohimahullah- berkata :

وَقَوْلُهُ: (تَرْتَجُّ) بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ: أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ، وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفَعَ الْأَصْوَاتِ.

“Ucapannya “Tartajju”, dengan tatsqiil di huruf jim, artinya : goncang dan bergerak. Dan ini menunjukkan akan bentuk berlebihan/menyangatkan dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengangkat suara.” [Nailul Author : 3/374].

Al-Imam Asy-Syafi’i –rohimahullah- berkata :

فاذاراواهلال شوال احببت ان يكبر الناس جماعة و فرادي في المسجدوالاسواق والطرق والمنازل و مسافرين ومقيمين في كل حال واين كانوا و ان يظهروا التكبير

“Maka apabila mereka melihat hilal bulan Syawwal, aku sangat menganjurkan agar manusia bertakbir secara BERJAMA'AH atau SENDIRI-SENDIRI di masjid, pasar-pasar, jalan-jalan, rumah-rumah, musafir dan muqim di seluruh keadaan dan di manapun mereka berada untuk menampakkan takbir”. [Al-Umm : 1/231].

Beliau rohimahullah juga berkata :

ويستحب الانفرادفي التكبير حالة المشي للمصلي و اما تكبير جماعة وهم جالسون في المصلي فهذا هوالذي استحسن

“Dianjurkan sendiri-sendiri dalam takbir dalam keadaan berjalan bagi orang yang akan sholat. Adapun takbir SECARA BERJAMA'AH DAN MEREKA DALAM KONDISI DUDUK DI MUSHALA, maka ini perkara yang baik”. [Bulghatus Salik : 1/304].

Demikian secara jelas dan tegas Al-Imam Asy-Syafi’i –rohimahullah- memperbolehkan untuk bertakbir secara berjama’ah. Oleh karena itu, menurut kami, adat takbiran baik sendiri atau berjama'ah di masjid-masjid atau takbir keliling yang sudah berjalan di negeri kita ini, merupakan suatu perkara yang baik. Karena sudah bersandar kepada dalil dan mengikuti fatwa seorang mujtahid mutlak sekelas imam Asy-Syafi'i.

Apakah kita akan berani menyatakan imam Asy-Syafi'i telah mengadakan bid'ah dalam agama ? Tentu tidak. Atau beliau tidak punya sandaran dalil ? Tentu tidak. Siapa kita sampai berani berkata demikian. Benar ucapan yang berbunyi "Semoga Allah merahmati seorang yang mengetahui kadar dirinya".

Jika anda ternyata punya pendapat lain, cukup bagi anda untuk berlapang dada dan menghormati mereka yang mengamalkannya. Jangan sampai masalah furuiyyah yang bersifat ijtihadiyyah menjadi sebab untuk saling mencela dan bermusuhan, apalagi menyesatkan. Dan inilah madzhab salaf. Walaupun bagi kami, mengikuti adat setempat yang telah berjalan merupakan perkara yang lebih baik sepanjang bukan termasuk pelanggaran agama. Ibnu Aqil Al Hambali berkata :

لا ينبغي الخروج من عادات الناس

"Tidak seyogyanya untuk keluar dari adat manusia" (selama tidak melanggar ketentuan syariat).
Penutup; Takbir di hari raya, baik Idul Fitri atau Idul Adha, merupakan salah satu syi’ar besar umat Islam yang dianjurkan kepada kaum muslimin untuk mengamalkannya. Semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum.

Oleh : Ust. Abdullah Al Jirani
Baca Juga