Menggali Hikmah Dibalik Lantunan Suara Adzan

Iklan Semua Halaman

Menggali Hikmah Dibalik Lantunan Suara Adzan

Admin
Kamis, 02 April 2020

Asianmuslim.com - Pada periode awal Hijriyah, Rasul bersama para sahabat membangun mesjid di Madinah. Pelaksanaan shalat pada waktu itu tanpa panggilan adzan. Namun ketika kaum muslimin makin merebak, di samping area Madinah yang cukup luas, maka mencuat problem untuk memanggil kaum muslimin agar bersegera melaksanakan shalat berjama'ah pada waktunya.

Berkumpullah Rasulullah SAW bersama para sahabat untuk memecahkan problem tersebut. Diadakanlah public hearing. Sebagian sahabat menyampaikan gagasan agar mengibarkan bendera tinggi-tinggi. Namun, ide ini dibantah dengan alasan bahwa mengibarkan bendera tersebut tidak mampu untuk membangunkan orang yang tidur dan mengingatkan yang lalai.

Ada pula yang mengusulkan agar menyalakan api di puncak gunung. Tapi usulan ini terbantah juga karena bertolak belakang dengan aqidah Islam. Api merupakan simbol dan syiar agama Majusi. Yang lain mengusulkan penggunaan terompet. Inipun tertolak dengan alasan terompet adalah syiar Yahudi. Usulan untuk memukul lonceng pun ada, walau tak luput dari penolakan sebab merupakan ciri khas dari Nasrani.

Maka digalilah sebuah syiar Islam inovatif dan khas dengan mencerminkan fikrah islami. Lalu sebagian sahabat menugaskan salah seorang untuk memanggil jama'ah ketika waktu shalat tiba. Lafadz panggilan itulah yang kini dikenal sebagai adzan. Usulan inilah yang akhirnya disetujui karena telah mewujudkan tujuan asasi dalam memanggil ummat Islam.

Pada mulanya, usul tersebut didasarkan atas mimpi Abdullah bin Zaid bin Tsabit ra. Seseorang telah berkata kepadanya, “Maukah engkau aku ajari beberapa kalimat yang nanti harus kamu ucapkan ketika kamu memanggil kaum untuk shalat?” Kemudian orang tersebut mengajarkan lafadz adzan. Abdullah bin Zaid melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu beliau berkata, “Ajarkanlah kepada Bilal sebab dia suaranya lebih keras daripada kamu." (Ar Rasul Al ambi, h. 200).

Petikan keharuman sirah memuat setumpuk hikmah bagi kaum muslimin dan pergerakan da'wah masa kini, diantara hikmah pensyariatan adzan ;

Binaul Masajid (Membangun Masjid)

Ini merupakan langkah pertama yang diambil rasul tatkala membangun peradaban. Mesjid merupakan asset utama dan terpenting dalam takwinul ijtima'i (pembentukan masyarakat), Bangunan masyarakat muslim akan kokoh bila ditopang oleh komitmen terhadap manhaj, aqidah, dan tatanan Islam. Dan melalui masjid-lah proses takwinul ummah digelar secara manhaji. Langkah Rasulullah SAW ini sesuai dengan taujih Rabbani, “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar. Dan kepada Allah-lah kembalinya segala urusan.” (QS. al-Hajj: 41).

Manhaj Syura (Metode Musyawarah)

Sistem syura (musyawarah) adalah salah satu kaidah Islam dalam memecahkan problematika ummat. Syura dengan berlandaskan ketentuan Allah dan rasul-Nya ini mencerminkan keleluasaan tsaqafah Islamiyah (wawasan keislaman) sekaligus counter terhadap tuduhan kediktatoran dalam Islam. Ditegakkannya syura menunjukkan keterbukaan peradaban Islam untuk membangun nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Syura dalam Islam bukan berarti masyarakat menentukan segalanya seperti konsep demokrasi Barat. Melainkan syura hanya dapat dilakukan bila tidak ada nash yang mengaturnya. Sa'id Hawwa dalam bukunya Al Islam mengatakan, “Dan sesuatu yang sangat berhubungan dengan ummah Islam ialah mekanisme syura yang mesti difungsikan di kalangan individu. Dan Allah menjadikan syura sebagai sifat dasar ummah ini, sama kedudukannya dengan shalat dan zakat. Allah berfirman, “Dan bagi orang-orang yang mematuhi seruan Allah dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura di antara mereka; dan mereka menafqahkan sebagian rezeki mereka yang Kami berikankepada mereka.” (QS. asy-Syura: 38)

“Dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka.” (QS. Ali Imran: 59).

Syura sebagai kekhasan Islam telah banyak ditampilkan Rasul SAW beserta para sahabat. Dalam peperangan pun banyak inovasi seperti penguasaan mata air dalam ghazwu Badr, strategi parit dalam perang ahzaab.

Larangan Tasyabuh

Sebagai dienul syamil mukammil (agama yang sempurna) Islam mengharuskan pribadi dan masyarakat muslim untuk memiliki ciri khas yang bersih dari syiar dan penjiplakan agama lain, terlebih dalam manhaj da’wah. Rasulullah menegaskan, “Barangsiapa meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk (bagian) dari kaum tersebut.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Thabrani).

Larangan tasyabuh ini berlaku terhadap lambang, simbol, syiar, dan tradisi suatu kaum, yang bertentangan dengan aqidah dan syari'at Islam. Seperti kalung-kalung lambang kekufuran. Dan Islam terbuka dalam menerima apa saja selama berada dalam frame Islam. Di sinilah letak keluwesan dan keluasan Islam. “Hikmah itu milik mu'min yang hilang, dimanapun ditemukan, ia lebih berhak mendapatkannya.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah Sumber Syariat

Praktek adzan yang disepakati oleh komunitas masyarakat muslim menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki hak dalam menetapkan hukum syari'at yang belum ditetapkan dalam al-Qur'an. Hingga pada akhirnya Allah memberikan penegasan atas keputusan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Jumuah: 9).

Realisasi Amal Jama'i

Ditugaskannya Bilal sebagai mu’adzin menunjukkan pembagian tugas yang disesuaikan dengan kafa'ah dan kapabilitas yang dimiliki. Sebagai sebuah bangunan utuh, masyarakat muslim dibangun oleh berbagai karakter yang berbeda untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Ditegakkannya hak dan kewajiban dalam naungan Islam akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Inilah gambaran utuh sebuah masyarakat yang ditegakkan atas inilai-nilai Illahiyah.
Baca Juga