Menolak Jenazah Covid-19 adalah Kejahatan Teologis dan Kemanusiaan

Iklan Semua Halaman

Menolak Jenazah Covid-19 adalah Kejahatan Teologis dan Kemanusiaan

Admin
Kamis, 16 April 2020

Asianmuslim.com - Sungguh miris apa yang kita lihat hari ini. Sebagian orang menolak pemakaman jenazah cocid-19 dengan alasan takut tertular. Tentu apapun alasan yang terlontak sangat tidak elok menolak jenazah korban covid-19 terlebih mereka yang notabene para tenaga medis yang telah berjuang menyelamatkan nyawa orang lain.

Bagaimana islam memandang masalah ini? Tulisan berikut ini akan menguraikan masalah diatas dilihat dari dua aspek, yaitu agama dan Kemanusiaan.

Pesan Kenabian :

والذي نَفْسِي بيَدِهِ لا تَذْهَبُ الدُّنْيا حتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ علَى القَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عليه، ويقولُ:يا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكانَ صاحِبِ هذا القَبْرِ، وليسَ به الدِّينُ إلَّا البَلاءُ

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di TanganNya!. Tidaklah dunia ini berlalu sehingga ada seseorang yang melewati sebuah kuburan dan merenung lama di dekatnya, seraya berkata, ‘Duhai seandainya saya adalah penghuni kuburan ini.” (Dia berangan-angan demikian) bukanlah karena faktor agama, melainkan dahsyatnya fitnah dan ujian dunia.” (HR. Muslim).

David Robson, penulis The Intelligence Trap, dalam catatannya bertajuk “Virus Corona dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Kita: Mulai Dari Rasisme Hingga Afiliasi Politik” (https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-52206206, 8 April 2020) berpendapat bahwa jarang sekali terdapat suatu ancaman penyakit yang begitu kuat menguasai isi kepala kita dalam masa waktu yang sangat panjang melebihi pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini. Semua media pemberitaan online maupun cetak tak jeda bersaing menurunkan berita ataupun cerita tentang virus ini, bahkan menempati ruang laporan utamanya.

Dalam jangka waktu tertentu, suasana gaduh semacam ini meninggalkan jejak perubahan psikologis yang serius pada diri manusia. Penilaian moral kita, disadari ataupun tidak, menjadi lebih keras, dan sikap sosial kita menjadi lebih konservatif dalam berinteraksi dengan persoalan-persoalan kehidupan. Terlebih dalam suasana penuh tekanan multi dimensi sebagai dampak kongkret dari pandemi ini. Afiliasi sosial politik, yang sejatinya tak terkait langsung dengan urusan virus menakutkan ini makin mengemuka, bahkan menjadi amunisi sebagian masyarakat dalam menunjukkan eksistensinya. Pada tataran berikutnya, perubahan psikologis semacam ini meningkatkan “xenopobhia” (perasaan benci, takut, atau waswas terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal; kebencian pada yang serba asing) dan “rasisme” di tengah-tengah masyarakat.

Dalam perspektif ini saya memahami bahwa sebagian masyarakat kita sedang mengalami perubahan psikologis ini. Lihatlah perdebatan politik tak berdasar, debat kusir sosial, sampai pada sikap saling merendahkan martabat diri. Tak hanya di kalangan awam; tapi juga menjangkiti kaum intelek-terpelajar, pejabat negeri, tokoh masyarakat, bahkan komunitas agamawan. Terselip perasaan dan sikap “phobia” terhadap apa saja yang dianggapnya mengancam jiwa (dan/atau kelompoknya) meskipun telah dijelaskan berulang-kali oleh para ahli yang otoritatif di bidangnya, baik agama maupun sains.

Uniknya, perilaku tak natural dan tak “insãni” tersebut bukan saja mengenai orang-orang sehat yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih daripada itu : terhadap jenazah Covid-19 sekalipun!. Seolah akal kita lumpuh seketika; nurani (cahaya qalbu) kita padam, menjelma “dhulmânĩ (gelap gulita); dan, organ ragawi kita kelu, tak lagi sanggup menyingkirkan penghalang jalanan yang merintangi sebuah mobil ambulan yang membawa para “syuhada” akherat itu menemui Rabb-nya. Fakta ini menjadi bukti nyata bahwa pandemi Covid-19 tak hanya menyerang fisik manusia, tapi telah jauh menerobos dan merobohkan benteng pertahanan kemanusiaan kita yang terdalam dan terkokoh, yakni akal dan qalbu kita. Padahal keduanya menjadi kata pemisah antara kita, manusia, dan binatang di planet bumi ini.

Tak kurang tokoh terkemuka dunia Islam Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Prof. DR Ahmad Al-Thayyeb hafizhahullãh menanggapi peristiwa tersebut melalui akun twitter pribadinya yang dirilis oleh Azhary Office, 13 April 2020. Menurutnya, penolakan pemakaman jenazah Covid-19 merupakan pemandangan yang sangat jauh dari akhlak, kemanusiaan & agama. Tentu sesuatu yang sangat berbahaya ketika rasa kemanusiaan itu lenyap dan egoisme melampaui batas; sehingga seseorang kelaparan sementara tetangganya kekenyangan, atau seseorang meninggal tanpa ada yang menguburkannya. Sesungguhnya kemanusiaan yang hakiki meniscayakan solidaritas kemanusiaan atas siapapun secara universal; dengan meniadakan penderitaan akibat suatu penyakit, menyantuni orang-orang yang terdampak suatu melapetaka, dan memuliakan penderita yang wafat dalam peristiwa tersebut dengan segera menguburkannya serta mendoakannya.

Dengan pandangan terbaca di atas, tidaklah berlebihan jika dinyatakan bahwa penolakan terhadap (pemakaman) jenazah Covid-19 merupakan “kejahatan” teologis dan kemanusiaan sekaligus dengan beberapa argumentasi berikut :

1) Manusia itu makhluk Allah Ta’ala yang dimuliakanNya.

Sebagai muslim yang baik kita meyakini bahwa setiap manusia dari sudut pandang penciptaannya (ontologis) memiliki kemuliaan (karâmah), apapun ras, warna kulit, suku, bangsa termasuk agamanya, sesuai dengan Kalãmullãh berikut :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan“ (Al-Isra’ : 70).

Maka hak kemuliaan sebagai manusia ciptaan Allah wajib untuk dilindungi dan dipelihara, kecuali dengan pelanggaran yang telah ditentukan dalam syariat Islam. Penghormatan terhadap prinsip kemuliaan manusia ini berlaku secara universal. Hal ini ditunjukkan dan dicontohkan oleh Rasulullah álaihissalam dalam riwayat berikut ini :

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى، قَالَ: كَانَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ، وقَيْسُ بْنُ سَعْدٍ قَاعِدَيْنِ بِالْقَادِسِيَّةِ فَمَرُّوا عَلَيْهِمَا بِجَنَازَةٍ فَقَامَا، فَقِيلَ لَهُمَا: إِنَّهَا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ أَيْ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ، فَقَالَا: " إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّتْ بِهِ جِنَازَةٌ فَقَامَ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهَا جِنَازَةُ يَهُودِيٍّ، فَقَالَ: أَلَيْسَتْ نَفْسًا "

Dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Lailaa, ia berkata : Sahl bin Hunaif dan Qaid bin Sa’d pernah bertugas di Qãdisiyyah. Lewatlah jenazah di hadapan mereka, lalu keduanya pun berdiri. Dikatakan kepada mereka berdua : “Sesungguhnya jenazah itu adalah orang dari kalangan ahlu al-dzimmah (non muslim). Mereka berkata : “Sesungguhnya seorang jenazah pernah diusung di hadapan Nabi shallalãhu ‘alaihi wa sallam lalu beliau berdiri. Dikatakan kepada baginda ‘alaihissalãm : ‘Sesungguhnya ia adalah jenazah orang Yahudi’. Beliau menjawab, “Bukankah ia juga manusia yang bernyawa?.” (HR. Bukhãrĩ dan Muslim)

2) Pemakaman jenazah Covid-19 adalah kemuliaan dan pelaksanaan Janji Allah Ta’ala

Kemuliaan yang disandang seorang anak Adam tidaklah berbatas hayat dikandung badan. Setelah kematian sekalipun, kemuliaan ini tak sirna sebab ia menyatu dalam eksistensi kemanusiaan seorang manusia yang pada saatnya “dikembalikan” kepada Allah Ta’ala. Dalam QS. Thâhâ/20 ayat 55 Allah Ta’ala befirman :

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain.”

Ayat terbaca di atas, menurut Prof. Dr. Syauqi Allam, Mufti Republik Arab Mesir, memberikan petunjuk mengenai karunia kemuliaan seorang jenazah dan keharusan memenuhi hak Allah. Hal ini selaras pula dengan panduan kenabian yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Abu Hurairah radliyallãhu ‘anh :

أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ ، وَإِنْ تَكُ غَيْرَ ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

Segerakanlah pengurusan jenazah. Jika dia orang baik, berarti kalian menyegerahkan dia untuk mendapat kebaikan. Jika dia bukan orang baik, berarti kalian segera melepaskan keburukan dari tanggung jawab kalian. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dalam riwayat Ibnu Umar radliyallãhu ‘anh terbaca di bawah ini :

إِذَا مَاتَ أَحَدكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْره

Apabila ada orang yang mati diantara kalian, maka jangan ditahan, dan segerakan dia ke makamnya. (HR. Thabrani; sanadnya dihasankan al-Hãfidz Ibnu Hajar).

3) Kematian dalam wabah/pandemi Covid-19 merupakan “kesyahidan” akherat.

Seseorang yang diwafatkan oleh Allah Ta’ala sebagai pasien Covid-19 dalam suasana perawatan medis menunjukkan kepasrahannya kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban berupaya dan berikhtiar. Pasien ini sejatinya sedang berada di atas ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta wujud praktis tawakkal dan sikap berbaik sangka kepadaNya. Sebabnya ia dikaruniai pahala seperti pahala orang yang mati syahid. Perhatikan petunjuk kenabian di bawah ini sesaat mewabahnya penyakit yang menular dan mematikan (al-thã’ũn) di masa hayat beliau.

عَنْ عَائِشَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ

Dari ‘Aisyah ra, istri Nabi saw, (ia berkata): Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang al-tha’un. Nabi lalu menjawab: Sesungguhnya wabah al-tha’un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi al-tha’un lalu tetap tinggal di sana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala disisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar bahwa tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid.” ( HR. Bukhārī).

Cukuplah ayat berikut ini sebagai gambaran komparatif betapa nikmatnya kehidupan ukhrawi pada syuhada’ itu:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka , bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ãlu ‘Imrãn: 169-171)

4) Pandemi Covid-19 merupakan skenario Ilahiah untuk memudahkan jalan menuju FirdausNya.

Kematian, yang saya yakini berdasarkan keterangan para Ulama mu’tabar, bukanlah “ketiadaan” atau “kehilangan”. Kematian tak lebih dari “perpindahan” (ruh) manusia; dari satu “kehidupan nyata” (dunia) menuju satu “kehidupan nyata” lainnya (permulaan akherat) di alam kubur, atau “alam pembatas” (hayãt al-barzakh). Karena kematian itu hakekatnya “kehidupan yang lain” maka Islam menggariskan adab berinteraksi dengan para ahli kubur dan kuburan itu sendiri. Perhatikan misalnya: niat yang benar untuk dzikrul maut dan mendoakan ahli kubur; sunnah mengucapkan salam; tidak mengucapkan kebathilan; anjuran menanggalkan sandal/alas kaki sesaat hendak masuk makam; larangan meratapi kematian; larangan duduk di atas makam dan menginjaknya.

Meskipun kematian sebagai “taqdir mubram” yang takkan menerima intervensi manusia, dan dirahasiakanNya, serta diyakini kejadiannya oleh umat manusia secara universal; namun tak satupun dari manusia yang mengetahui bagaimana “akhir” episode kehidupannya. Kapan, dan bagaimana ia akan mengalaminya. Semuanya masuk dalam ranah “ghaibiyãt”. Sebabnya, Nabi ‘alaihissalam mengajarkan umatnya untuk “berhusnudzann” dalam menyambut kematian ini. “Janganlah seseorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dia (dalam keadaan) berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim). Demikian pula ketika kita menyaksikan seseorang di antara kita yang diwafatkan Allah dalam suasana pandemi Covid-19. Bacalah secara seksama petunjuk Nabi ‘alaihissalam berikut ini :

إنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللهُ فيِ جَسَدِهِ أَوْ فيِ مَالِهِ أَوْ فيِ وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلىَ ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ مَنْزِلَتَهُ الَّتيِ سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Sesungguhnya seorang hamba apabila Allah telah menentukan sebuah tempat baginya (di surga kelak), akan tetapi amalannya tidak bisa mengantarnya mencapai tempat tersebut, maka Allah akan mengujinya pada fisiknya, atau hartanya, atau anaknya. Kemudian Allah jadikan dia sabar atas ujian tersebut." (HR. Abũ Dãwud, dan dishahihkan al-Albānĩ dalam Shahīh al-Targhīb wa al-Tarhīb)

5) Jenazah Covid-19 memiliki hak sosial dan konstitusional

Setinggi apapun jabatan dan kedudukan seorang manusia; harta kekayaan tak berbilang yang dimiliknya; sebanyak apapun pengikut dan pengagumnya: jika mati, ia takkan kuasa mengurusi dirinya sendiri. Sungguh tak terdengar dalam riwayat bahwa Fir’aun; Hãmãn; Qãrũn; Ãzar; Jãlũt; sampai Abrahah, Abu Jahal, dan Abu Lahab mengurus dirinya sendiri saat menemui ajal dan kematiannya. Pun pula kita semua di akhir zaman ini. Percayalah, takkan seorangpun di antara kita yang sanggup memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan dirinya sendiri. Lalu apa alasan anda menolak jenazah Covid-19 yang akan segera menemui Rabb-nya? Bahkan merintangi jalan umum sekedar untuk dilalui ambulan dan keranda jenazah tersebut? Ataukah anda sedang menyusun skenario bahwa anda akan menuju kubur tanpa diusung oleh siapapun? Ataukah sedang berimajinasi bahwa anda menjadi seorang mayit perkasa yang berjalan sendirian ke liang lahad?.

Jika anda khawatir terpapar virus-19 yang menakutkan ini; bukankah para ahli yang otoritatif di bidangnya telah menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Bahkan Gugus Tugas Covid-19 yang diberi mandat dan amanah oleh Negara bergandengan tangan dengan para Ulama demi menyusun sebuah protokol kesehatan dalam memperlakukan jenazah Covid-19, sekaligus memberikan garansi keamanan secara medis. Semua hal ini dari perspektif hukum positif dan konstitusi telah diatur oleh Negara. Jika anda masih ragu juga, bertanyalah kepada para ahli yang anda percaya. Al-Qur’an menuntun kita agar tak gagal paham, dan tak salah bertindak.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَاتَعْلَمُوْنَ

“Maka tanyakanlah oleh kalian kepada ahlu dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kalian tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiyã’: 7)

Sahabat mulia,

Dalam suasana pandemi Covid-19 ini semakin menguatkan ikatan dan mengokohkan struktur ukhuwah di antara sesama warga bangsa, terlebih lagi sesama umat Islam. Jangan pernah abaikan pesan kenabian ini :

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan struktur bangunan yang satu sama lain saling mengokohkan” (HR. Bukhārī dan Muslim )

Sungguh solidaritas kemanusiaan kita saat ini sedang diuji oleh Allah Ta’ala, dan tentu karena kondisi-kondisi obyektif perubahan psikologis dalam perilaku masyarakat kita yang terdampak secara langsung ataupun tidak, Allah akan melipatgandakan pahala bagi kita semua. Monggo bersama semakin meningkatkan ikhtiar dan do'a/munajat disertai peningkatan kualitas taqarrub kita kepada Allah Ta’ala yang ditunjukkan dengan sikap ridla, sabar, dan tawakkal. Juga menggalakkan semangat ta'awun dan ukhuwah, serta amal shaleh kemanusiaan lainnya.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَة وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

"Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Ta’ala akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang mengalami kesulitan, maka Allah Ta’ala akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Ta’ala selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut gemar menolong saudaranya”. (HR Muslim)

Sahabat mulia, ketika fitnah akhir zaman menghampiri kita dengan modus-modus yang sangat dahsyat, bahkan berjalan di luar nalar dan akal pikiran kita; barangkali ada saatnya kitapun berangan-angan untuk menjadi penghuni kuburan para syuhada’ akherat yang menemui Rabb-nya di saa Covid-19 melanda sebagian besar planet bumi ini, sebagaimana pesan kenabian yang saya nukil pada awal catatan ini. Wallãhu A’lamu bish-shawãb.



Penulis: Ust. Fathurahman Kamal
Baca Juga