Merealisasikan Makna Jihad Melawan Hawa Nafsu

Iklan Semua Halaman

Merealisasikan Makna Jihad Melawan Hawa Nafsu

Admin
Kamis, 02 April 2020

Asianmuslim.com - Hawa nafsu adalah musuh orang-orang beriman. Ia menjadi penghalang kebaikan. Perang melawan hawa nafsu harus direalisasikan dalam kehidupan. Pahalanya setara dengan juhad di medan perang.

Dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi, Rosulullah saw bersabda,

(الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ (رواه الترمذي

"Mujahid adalah orang yang berjihad melawan nafsunya di jalan Allah.” (Diriwayatkan Tirmidzi dari Fudhalah bin 'Ubaid)

Penilaian Terhadap Hadits

Hadits ini dishahihkan oleh As-Suyuthi dalam Al-jami ’ush Shaghir (9175) dan dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul jami'Ash Shaghir dan Shahihut Targhib 2/150.

Sekilas Penjelasan Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah saw. mengajak kita menengok diri kita sendiri, kemudian melakukan tindakan tepat terhadap nafsu dan diri kita. Karena seringkali pandangan kita hanya tertuju pada orang lain dan hal-hal di luar kita. Seringkali kita mengkambinghitamkan orang lain atau hal-hal di luar kita atas kemungkaran dan kehancuran nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Kita memaklumkan perang dan perlawanan terhadap semua itu, namun sama sekali tidak pernah menyatakan perang terhadap nafsu yang ada di antara tulang-tulang iganya. Padahal sesungguhnya jihad terhadap semua itu tidak akan berhasil apabila tidak diawali dengan jihadun nafsi. Karenanya, kita harus selalu ingat bahwa mujahid sejati adalah orang yang berjihad melawan nafsunya untuk taat dan istiqamah di ialan Allah.

Mengapa memerangi hawa nafsu disebut jihad?

Karena apa pun bentuk jihad di jalan Allah seperti jihad qitali, jihad da'awi, jihad iqtishadi, dan jihad Siyasi tidak akan dapat terealisasi dengan baik kecuali setelah menegakkan jihadun nafs atau perang terhadap nafsu diri sendiri. Sangat berat bagi seseorang untuk mengorbankan nyawa dan hartanya di jalan Allah kalau nafsunya masih didominasi cinta harta dan dunia. Mustahil bagi seseorang untuk memperjuangkan ekonomi Islam sedangkan hidupnya justru bergantung pada sistem ribawi. Sulit rasanya bagi seorang yang nafsunya masih menggandrungi keculasan, kelicikan, dan intrik-intrik kotor untuk diajak memperjuangkan sistem politik yang Islami. Jadi, sudah semestinya bila semua bentuk jihad untuk diawali dengan iihadun nafsi. Karena, seorang yang melakukan jihadun nafsi itulah mujahid sejati.

Ketika seseorang terjun dalam berbagai medan jihad, sedangkan jihadun nafs belum sepenuhnya ia lakukan, maka seringkali ia akan menyimpangkan arah jihad itu dari perjuangan membela Allah menuju perjuangan memuwujudkan keinginan nafsu dan ambisi pribadi. Ketika berperang, ia selalu berpikir bagaimana mendapat harta rampasan perang sebanyak-banyaknya, tawanan wanita yang sangat cantik, dan gelar kepahlawanan yang prestisius. Ketika melakukan jihad politik melalui partai Islam, ia selalu berpikir bagaimana ia meraih kursi di legislatif atau menduduki posisi strategis di eksekutif, agar bisa meraup kekayaan yang melimpah, dihormati serta disegani karena posisinya. Hanya orang-orang yang telah melakukan jihadun nafsi secara sempurna, yang dapat bertahan di jalan Allah dan tetap istiqamah memperjuangkan nilai-nilai agama meski membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Merekalah yang layak dikategorikan mujahid sejati.

Orang yang melawan nafsunya layak disebut mujahid sejati, karena nafsu manusia seringkali dijadikan oleh setan sebagai sarana dan alat untuk menyesatkan dan menjerumuskannya dalam kemaksiatan dan kekufuran. Sehingga bila seseorang telah berhasil merealisasikan taqwan nafs dalam dirinya, setelah sekian lama melakukan mujahadatun nafs, maka setan tidak akan berdaya menggoda dan menyesatkannya. Orang yang melawan nafsu layak disebut mujahid sejati, karena nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri yang sangat sulit diatasi. Seperti seorang yang mencuri barang saudaranya di rumah sendiri, tentu sangat merepotkan dan sulit untuk disiasati. Seorang penyair berkata,

Nafsuku selalu mengajakku berbuat yang membahayakan diriku, Memperbanyak penyakit dan memperparah penderitaanku. Bagaimana aku bisa menyiasati musuh, Apabila musuhku itu berada di antara tulang-tulang igaku. Hanya orang yang berhasil melawan nafsunya yang layak disebut mujahid sejati.

Orang yang melawan nafsunya disebut mujahid sejati, karena nafsu adalah musuh yang dicintai sekaligus dirindukan. Seseorang seringkali menganggap baik dan menyetujui ajakan-ajakan nafsu, bahkan hampir-hampir ia tidak bisa melihat aib dan kesalahannya. Seorang penyair berkata,

"Engkau tidak akan bisa melihat aib pada diri orang yang engkau cinta, Bahkan sedikit pun engkau tidak melihatnya bila engkau mencintainya. Mata yang senang menjadi buta terhadap semua aib, Tetapi mata yang benci akan menyingkap berbagai keburukan."

Oleh karena itulah orang yang melawan nafsunya pantas disebut mujahid sejati.

Orang yang melawan nafsunya layak disebut mujahid sejati,

Karena nafsu adalah musuh yang pantang mundur, ia terus maju sampai keinginannya terpenuhi. Ironisnya, yang seringkali diinginkan oleh nafsu adalah pemenuhan dengan cara-cara haram. Sehingga bila nafsu ini tidak ditundukkan, maka akan menjerumuskan seseorang ke dalam kemaksiatan dan kekufuran. Oleh karena itulah, mereka sukses melawan nafsunya berarti layak disebut mujahid sejati.

Peringkat-Peringkat jihadun Nafs di jalan Allah
Ibnul Qayyim berkata, Jihadun nafsi memiliki empat peringkat:

Pertama: Berjihad melawan nafsu agar mau mempelajari petunjuk agama dan kebenaran yang menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan keselamatan jiwa dalam kehidupan dunia dan akhirat. Apabila seseorang tidak melakukan jihadun nafs ini, maka ia akan celaka di dunia dan akhirat.

Kedua: Berjihad melawan nafsu agar mengamalkan apa yang telah dipelajari dan diketahuinya. Karena ilmu tanpa amal seringkali membahayakan keselamatan jiwa seseorang di dunia dan akhirat, atau jika tidak membahayakan, maka sama sekali tidak mendatangkan manfaat baginya.

Ketiga: Berjihad melawan nafsu agar mau mendakwahkan apa yang telah dipelajari dan diamalkannya serta mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui dan mengamalkannya. Apabila seseorang tidak melakukan jihad nafs ini, maka ia termasuk orang-orang yang menyembunyikan petunjuk dan ajaran agama yang diturunkan Allah, sehingga ilmunya sama sekali tidak bermanfaat baginya ,dan tidak mampu menyelamatkannya dari siksa api neraka.

Keempat: Berjihad melawan nafsu agar bersabar dalam memikul beban-beban dakwah kepada Allah dan menghadapi gangguan musuh-musuh dakwahnya. Ia harus menanggung semua itu demi meraih ridha dan pahala dari Allah. Apabila seorang muslim mampu merealisasikan keempat peringkat jihadun nafs ini, maka ia termasuk orang-orang Rabbani.

Para ulama salaf telah sepakat bahwa seorang yang alim tidak berhak menyandang gelar Rabbani sehingga ia mengetahui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya kepada orang lain. Barangsiapa memiliki ilmu dan mengamalkannya setia mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan dipanggli sebagai ”orang agung” di kerajaan langit. (Al-Bayan fi Madakhilsy-Syaithan /169-170)

Bentuk-Bentuk Jihadun Nafsi di jalan Allah
Ada beberapa bentuk jihadun nafs yang harus dilakukan seorang muslim agar masuk ke dalam jajaran mujahid sejati.

a. Jihadun nafsi terhadap hal-hal yang diinginkannya 

Hal-hal yang diinginkan nafsu sangat banyak, di antaranya adalah keselamatan, kesehatan, kekayaan, jabatan, banyaknya pengikut dan semua kesenangan duniawi. Seorang muslim harus melakukan jihadun nafsi terhadap semua ini, jangan sampai ia diperbudak dan terjerumus dalam perangkap syahwat. Sebab bila ia tidak memperhatikan hak-hak Allah, hal itu akan mengantarkannya kepada kesombongan, kesewenang-wenangan, dan berbagai tindakan yang melampaui batas.

Jihadun nafsi terhadap hal-hal di atas sangat sulit sekali. Sehingga banyak orang yang gagal. Abdurrahman bin 'Auf ra. berkata, ”Kami diuji dengan kesusahan, kami mampu bertahan. Dan kami diuji dengan kesenangan, namun kami tidak mampu bertahan."

b. Jihadun nafsi terhadap hal-hal yang dibencinya.

Ada beberapa bentuk jihadun nafs terhadap hal-hal yang dibenci nafsu:

1) Jihadun nafsi ’alath-thaa’aat. Berjihad melawan nafsu agar mau menunaikan ketaatan. Sebab, tabiat nafsu manusia senantiasa membenci ’ubudiyah, dan merasa berat memikul beban-beban taklif. Kebencian terhadap ibadah ini kadang disebabkan oleh kemalasan, seperti shalat; kadang disebabkan oleh kekikiran seperti zakat; kadang disebabkan oleh keduanya seperti haji dan jihad fi sabilillah.

2) Jihadun nafsi 'alath-thaa'aat hendaknya terus menerus dilakukan, baik sebelum ibadah dengan meluruskan dan mengikhlaskan niat; saat beribadah dengan berusaha agar jangan sampai melalaikan Allah dan bermalas-malasan dalam merealisasikan adab-adab dan sunah-sunah ibadah; setelah beribadah dengan berusaha agar ia tidak menyombongkan dan memamerkannya serta menggugurkan pahalanya dengan melakukan kezhaliman dan kemaksiatan.

3) Jihadun nafsi ’alaa tarkil ma'ashi Berjihad melawan nafsu agar meninggalkan maksiat. Jihad ini sangat berat, karena nafsu senantiasa merindukan dan menginginkan kemaksiatan, terutama kemaksiatan lisan yang sangat mudah dilakukan seperti menggunjing, berdusta, berdebat dan menghasut.

4) Jihadun nafsi 'alar ridha biqadarillah Berjihad melawan nafsu agar ridha dengan ketentuan dan taqdir Allah; yakni bersabar atas musibah yang menimpanya dan bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Termasuk di dalamnya bersabar atas gangguan orang lain dan berterimakasih atas kebaikan-kebaikannya.

Dalam hadits Qudsi, diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman, ”Barang siapa tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas musibah-Ku, hendaklah ia keluar dari kolong langit dan bumi ini, dan carilah tuhan selain Aku.” (Tahdzibul Akhlaq/84-85)

Dengan pemaparan di atas kita bisa mengetahui bahwa jihadun nafsi merupakan perjuangan yang sangat berat bagi seorang muslim. Oleh karena itu, kita harus memulainya sebelum nafsu didominasi oleh syahwat dan setan, yaitu ketika masih berupa bisikan dan gejolak jiwa yang sebenarnya lebih mudah diatasi.
Baca Juga