Pesona Istri Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, Fatimah binti Abdul Malik

Iklan Semua Halaman

Pesona Istri Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, Fatimah binti Abdul Malik

Admin
Minggu, 19 April 2020

Asianmuslim.com - Saat itu Bagian tengah istana dipenuhi oleh para pemimpin dan pemuka. Tampak para amir, panglima besar, dan pejabat teras. Mereka duduk di pendopo istana. Wajah mereka menggambarkan penuh penantian, diliputi rasa takut, dan cemas. Penyebabnya, Amirul Mu‘minin Sulaiman bin Abdul Malik saat itu tengah ditimpa penyakit yang cukup keras. Beliau sudah berada di ambang kematian. Dan yang berada di sisinya hanya penasehatnya, yaitu Rajak Ibnu Haywah.

Di bagian lain, para istri Amir Bani Umayyah berkumpul menantikan berita. Tampak di depan majlis, istri Yazid, Hisyam, dan Maslamah serta yang lainnya. Mereka mengharap, berita gembira akan jatuh kepadanya dengan terpilihnya suaminya sebagai khalifah pengganti Sulaiman. Mereka menampakkan kesedihan dan kecemasan. Padahal, di balik itu mereka mencita-citakan kematian sang khalifah, agar tempatnya bisa diduduki oleh suami mereka.

Di sudut majlis, tampak seorang wanita. Kecantikannya sungguh mengagumkan dan cukup tersohor. Pakaiannya indah dan mahal, tak tertandingi. Namun demikian, ketenangan dan kewibawaan lekat pada dirinya.

Seolah ia tidak ikut serta bersama wanita lain, istri-istri para pemuka itu, dalam keinginan, ketakutan maupun harapan-harapan. Seakan ia sudah cukup puas dengan apa yang ia peroleh. Ia telah mendapatkan kecantikan, kemuliaan, pendidikan, suami yang baik dan kaya raya, juga kehidupan yang mewah dan bahagia. Ia juga lahir di atas dipan kerajaan di dalam istana amirul mu‘minin. Ia tumbuh di pusat kemuliaan bergelimang harta dan kenikmatan. Belum ada satu pun dari permintaannya yang tidak terkabulkan dan belum pernah ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Tak seorang pun yang mengenalnya kecuali langsung menyukainya dan menyayanginya. Siapa dia? Ialah Fatimah binti Abdul Malik, seorang putri raja dan saudara raja raja, serta istri Umar bin Abdul Aziz.

Di majlis itu, tampaknya Fatimah menjauhkan diri dari seluruh yang hadir. Tidak ada baginya angan-angan yang membebaninya. Tak akan ada pula penyesalan disebabkan hilangnya angan-angan yang kemudian membuatnya sedih. Namun, tiba-tiba ada dua suara yang memenuhi istana. Suara yang pertama cukup menyedihkan, yaitu berita duka atas wafatnya amirul mu‘minin. Dan suara yang kedua yaitu suara yang mengandung kekecewaan bagi sebagian, tapi juga merupakan suatu kegembiraan bagi yang lain. Suara yang mengejutkan itu adalah diumumkannya nama amirul mu'minin yang baru, Umar bin Abdul Aziz, suaminya.

Dalam sekejap, Fatimah sudah berpindah ke muka majlis. Sementara, istri-istri para amir mundur dengan tertib, memberikan tempat kepadanya. Fatimah yang semula terabaikan, kini menjadi pusat perhatian.

Sebelum memangku tugas kekhalifahan, Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang paling banyak memiliki sahaya. Mereka diberi makan dari harta kerajaan dan hidup dalam naungannya. Bila bepergian, beliau mengenakan pakaian yang harganya lebih dari lima belas ribu dirham. Sedangkan parfum yang dipakainya, khusus didatangkan dari India. Jika beliau berada di satu tempat, akan diketahui oleh siapapun, sekalipun tanpa melihatnya, karena semerbak harumnya.

Umar juga mempunyai keistimewaan dalam cara berjalan, orang-orang menamainya dengan Masyiah Umariyah (jalannya Umar) karena sangat bagus dan indah. Para orang kaya berusaha mempelajarinya dan menirukannya. Semasa mudanya, bila dibandingkan dengan pakaian para pemuda bangsawan lainnya, pakaian beliau adalah yang paling mewah. Dan bila bajunya terselip ke dalam sandal, beliau menariknya hingga robek. Lalu beliau tak hendak memperbaikinya walaupun baju itu bernilai ribuan dirham. Dan bila jatuh dari pundaknya, pakaian itu ia tinggalkan begitu saja dan tidak hendak mengangkatnya sampai ada yang mengambilnya.

Fatimah membayangkan itu semua. Ia mulai membayangkan segala kenikmatan yang dirasakan bersama. Terkumpullah di antara keduanya segala apa yang disukai.

Tapi kemudian, berita-berita aneh tentang khalifah mulai memasuki istana. Seorang pelayan mengabarkan bahwa khalifah menolak menaiki kendaraan kerajaan dan membatalkan arakiarakan yang biasa dilakukan. Bahkan, beliau naik binatang kendaraannya sendiri. Begitu juga yang datang dengan mengatakan bahwa khalifah mengumumkan tentang penghapusan pembai’atan dirinya yang diiringi dengan segala kebesaran dan kemegahan. Dan yang lain lagi bicara bahwa khalifah tidak mau mengulurkan tangannya ke dalam harta milik kerajaan.

Fatimah hampir tak percaya mendengar berita ini. Ia tahu benar suaminya adalah seorang yang hatinya terbuka untuk menerima kenikmatan dunia, larut dalam kesenangan, kenikmatan dan harta benda yang halal. Jadi, apa alasannya ia menolak dunia yang datang di hadapannya, menemuinya dengan segala keindahan dan kemegahan yang telah ada di bawah telapak kakinya.

Khalifah kembali ke istananya. Namun ia kembali sebagai laki-laki yang lain. Segala sesuatunya telah berubah. Dan mulai tampak kebahagiaan dirasakan oleh warga semenjak pembai'atannya. Tapi keluarganya memandang pembai'atannya adalah awal dari kesulitan.

Fatimah menemui suaminya setelah tiga hari kepergiannya. Dalam 3 hari itu suaminya telah melakukan “pekerjaan 3 abad”. Wajahnya terlihat pucat karena selalu begadang untuk memperbaiki urusan ummat. Tubuhnya tak terurus disebabkan banyaknya amanat dan takutnya kepada Allah. Hati Fatimah menjadi pecah karena sangat iba dan sayang kepadanya.

Suaminya berkata, “Hai Fatimah, urusan ini telah turun di pundakku. Aku merasakan ini adalah beban paling berat yang nantinya aku akan ditanya tentang orang-orang yang jauh maupun yang dekat dari ummat Muhammad SAW. Tugas penting ini tidak meninggalkan lagi bagian dari diriku maupun waktuku yang akanbisa aku berikan kepadamu sehingga, kewajiban atasku. Dan tidak ada lagi bagiku keinginan pada wanita namun aku tak ingin menceraikanmu, atau pun mencarikan pengganti untukmu. Padahal, aku tak hendak menzhalimimu. Yang aku khawatirkan, engkau tidak akan bersabar terhadap corak kehidupan yang telah kupilih untukku. Jika setuju, engkau boleh tinggal di rumah ayahmu.

“Apa yang akan engkau perbuat ?” tanya Fatimah.

“Sesungguhnya kekayaan yang berada dalam genggaman kita dan yang berada dalam kekuasaan saudaraosaudaramu serta kaum kerabatmu, dahulunya diambil dari kekayaan kaum muslimin. Dan kini aku bertekad untuk megembalikannya kepada orang-orang muslim. Akan kumulai dari diriku sendiri. Tidak akan aku tinggalkan bagiku kecuali sebidang tanah yang aku beli dari hasil usahaku dan aku akan hidup dari itu semata. Jika engkau tidak bersabar terhadap sempitnya hidup setelah lapang, maka bergabunglah ke rumah ayahmu!”

“Apa sebenarnya yang mendorongmu melakukan ini?’"

“Hai Fatimah! Tahukah engkau bahwa aku ini memiliki ambisi yang besar. Aku tak mau memperoleh sesuatu yang aku inginkan kecuali yang terbagus. Dahulu aku menginginkan jabatan amir. Setelah itu kuperoleh, aku menginginkan jabatan khilafah. Dan setelah aku pun memperolehnya, maka aku menginginkan khilafah yang terbagus dan terbaik yaitu surga."

Fatimah adalah putri raja. Juga istri raja. Di samping saudara dari empat orang raja, tiap seorang dari mereka pernah memerintah dua puluh negara. Namun, setelah tahu tujuan dan motivasi suaminya, ia berkata, “Perbuatlah apa yang menjadi pandanganmu, aku akan ikut bersamamu. Aku tidak akan menemanimu dalam kesenangan saja lalu meninggalkanmu dalam kesempitan. Sesungguhnya, aku ridha dengan apa yang engkau ridha."

Sejak itu, terputuslah mereka dari kesenangan dunia secara drastis, kehidupan yang hanya bisa dirasakan oleh sedikit sekali dari kalangan orang-orang kaya. Datanglah kehidupan sulit dan susah, seperti kehidupan orang-orang yang miskin papa. Itu semua bukan karena mereka pailit. Bukan pula karena bencana yang menimpanya. Tapi, karena keduanya mengutamakan kenikmatan yang lebih kekal abadi, yang tidak akan hilang selamanya. Sedangkan kenikmatan dunia, pada saatnya akan lenyap dan binasa.

Umar mulai membebaskan hamba sahayanya yang laki-laki maupun yang perempuan dan melepaskan pelayan-pelayannya. Umar dan istrinya meninggalkan istana. Mereka mengembalikan segala perlengkapan istana ke Baitul Maal. Sementara, mereka menempati rumah kecil di sebelah utara masjid. Dalam pemerintahan, beliau adalah hakim yang paling pandai, raja yang paling bijak, dan khalifah yang paling adil.

Pernah datang seorang wanita Mesir ingin bertemu khalifah. Ia bertanya dimana istananya. Kemudian orang-orang menunjuk rumah khalifah. Ketika sampai di sana, ia mendapati seorang wanita yang sedang induk di atas hamparan yang sudah ditambal-tambal dan berpakaian tua. Dekat dari situ, ada seorang laki-laki yang tangannya berlumuran tanah, sedang memperbaiki dinding rumahnya. Wanita itu terkejut ketika mengetahui bahwa wanita yang duduk itu adalah Fatimah binti Abdul Malik. Ia segan dan takut kepadanya. Fatimah menyambutnya dengan ramah sehingga wanita tua itu tenang dan suka kepadanya. Wanita itu berkata, “Wahai ibu, Kenapa engkau tidak berhijab dari tukang tanah ini?”

Fatimah tersenyum dan berkata, “Tukang tanah itu adalah amirul mu'minin."

Seorang penjual baju menawarkan dagangannya seharga delapan dirham kepada khalifah Umar. Umar berkata, “Sesungguhnya ini bagus kalau dipakai oleh orang yang layak memakainya.

"Aku pernah datang kepadamu dan engkau pada saat itu adalah amirnya kota yang berpakaian lima ribu dirham. Saat itu, engkau katakan kepadaku, “Sesungguhnya ini bagus seandainya tidak kasar.”

Satu kali Khalifah sakit. Ketika itu, gamis yang dipakainya kotor. Maslamah bin Abdul Malik mendatangi saudara perempuannya itu dan berkata, “Hai Fatimah, cucilah baju amirul mu'minin!”

“Ya,” jawab Fatimah.

Keesokan harinya, ia datang lagi. Tapi, baju itu belum dicuci juga. “Hai Fatimah cucilah baju amirul mu'minin karena orang-orang akan menjenguknya,” katanya.

‘Demi Allah, beliau tidak memiliki baju selain yang dipakainya itu,” ujar Fatimah.

Pelayan Umar bin Abdul Aziz sudah tak ada. Kecuali seorang anak laki-laki. Pada suatu hari, ketika Fatimah memberinya makan, anak itu mengeluh karena bosan. Ia berkata, “Lagi-lagi adas, setiap hari adas! Lalu Fatimah berkata, '“Hai anak. ini adalah makanan tuanmu, amirul mu‘minin."

Khalifah pemah menginginkan buah anggur. Katanya, “Hai Fatimah, apakah engkau memiliki uang untuk membeli anggur?

“Engkau adalah amirul mu'minin, tapi hanya untuk membeli anggur saja engkau tak mampu."

"Tidak ada lagi yang tersisa bagiku kecuali, sebidang tanah ini. Dan yang didapat dari padanya hampir tidak mencukupi kebutuhan kita. Namun bersabar terhadap ini lebih ringan daripada harus bersabar menahan api neraka," kata Umar lagi.

Tidak tersisa lagi bagi Fatimah dari kekayaan masa lalunya kecuali barang-barang permatanya. Pada suatu hari, suaminya berkata, "Hai Fatimah, engkau tahu bahwa barang-barang permata ini diambil ayahmu dari harta kaum muslimin, lalu menghadiahkannya kepadamu. Aku tidak suka benda ini ada bersamaku di rumahku. Maka pilihlah, apakah engkau kembalikan saja ke Baitul Maal atau engkau izinkan aku menceraikanmu."

“Demi Allah, tentu aku memilihmu, sekalipun barang-barang milikku itu bernilai beberapa kali lipat dari yang ada," jawab Fatirnah.

Suatu saat, datang menemui Umar seorang laki-laki shaleh di antara para pejabatnya. Umar berkata, “Aku tidak dapat tidur semalam karena memikirkan kubur dan kesunyiannya."

“Bagaimanakah pendapat tuan kalau sekiranya mau melihat mayit yang telah dimakamkan tiga hari yang lalu, cacing telah menutupi sekujur tubuhnya dan memakani dagingnya, padahal dahulu cantik rupanya semerbak baunya dan necis pakaiannya?" tanya laki-laki itu.

Maka menangislah Umar dan jatuh pingsan. Fatimah berkata kepada sahayanya Muzahim, “Celaka engkau hai Muzahim, suruh keluarlah orang itu.” Maka, keluarlah orang tersebut. Fatimah mendatangi Umar, lalu membasuh wajahnya dengan air sambil menangis sampai suaminya sadar. Ia melihat istrinya dalam keadaan menangis. Katanya, “Hai Fatimah apa yang menyebabkan engkau menangis?”

“Wahai Amirul Mu'minin, baru saja aku menyaksikan di hadapanku tidak berdayanya kamu. Aku jadi teringat tak berdayanya kamu nanti di hadapan Allah karena maut dan akan engkau tinggalkan dunia ini dan engkau berpisah darinya. Itulah yang menyebabkan aku menangis."

Semasa suaminya hidup, Fatimah sering menangis karena mengkhawatirkannya. Dan ketika Umar tiada, ia menangis karena berduka atas kepergiannya, sampai buta matanya. Saudara-saudara Fatimah, Maslamah dan Hisyam, datang menghibur dan menawarkan kekayaan dan apa saja yang ia inginkan. Fatimah menjawab, “Demi Allah. aku bukan menangis karena harta ataupun kesenangan. Melainkan karena aku melihat suatu pemandangan yang sampai saat ini tidak bisa kulupakan.”

Kemudian ia menangis lagi. Kedua saudaranya berkata, “Apa itu?”

Fatimah menjawab, “Aku melihatnya pada suatu malam beliau berdiri shalat, ia membaca:

“Pada hari itu manusia seperti anafanai yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan." (QS. 101: 4)

Lalu beliau menjerit sambil menangis, sampai-sampai aku menduga jiwanya sudah tidak ada. Ia tidak'kembali pulih sampai aku yang memanggilnya untuk shalat.

Ketika saudara Fatimah, Yazid, memangku kekhalifahan, sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, beliau kembalikan seluruh permata dari baitul maal kepada Fatimah. Namun Fatimah menolak, “Sekali-kali tidak. Aku tak mau mentaati beliau semasa hidupnya saja, lalu mendurhakainya setelah kematiannya."

Maka Yazid pun membagi-bagikan permata tersebut kepada keluarganya dan istriistrinya. Fatimah menyaksikannya ketika itu. Rahmat Allah atasnya dan orang-orang yang sepertinya.

[Disalin dari majalah ishlah no 47/Tahun III. 1995]
Baca Juga