Rumah Di Surga Untuk Orang Tua Yang Ditinggal Mati Anak Perempuannya

Iklan Semua Halaman

Rumah Di Surga Untuk Orang Tua Yang Ditinggal Mati Anak Perempuannya

Admin
Rabu, 15 April 2020

Asianmuslim.com - Sungguh ajaib urusannya orang mukmin apabila ditimpa musibah ia sabar maka itu kebaikan baginya dan saat mendapat nikmat ia syukur maka itu juga kebaikan baginya. Demikian kurang lebih terjemah hadits Rasulullah tentang keistimewaan orang beriman.

Bagaimana halnya jika seorang mukmin diberi ujian dengan kematian anak putrinya? Maa syaa Alloh, Janji Alloh dan Rasul-Nya adalah benar. Bahwa orang tua yang ridho dengan kematian anak perempuan nya maka kelak akan dibangunkan baginya rumah di surga.

Al-Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 19725) dan al-Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 1021) meriwayatkan dengan jalannya yang bermuara sampai kepada :

عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ ، قَالَ : دَفَنْتُ ابْنِي سِنَانًا وَأَبُو طَلْحَةَ الْخَوْلَانِيُّ جَالِسٌ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ، فَلَمَّا أَرَدْتُ الْخُرُوجَ أَخَذَ بِيَدِي، فَقَالَ : أَلَا أُبَشِّرُكَ يَا أَبَا سِنَانٍ ؟ قُلْتُ : بَلَى. فَقَالَ : حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَرْزَبٍ ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ. فَيَقُولُ : قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ. فَيَقُولُ : مَاذَا قَالَ عَبْدِي ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

Dari Hammaad bin Salamah, dari Abi Sinaan ia berkata : “aku menguburkan anakku yang bernama Sinaan, sedangkan Abu Thalhah al-Khoulaaniy duduk di pinggiran kuburan, tatkala aku hendak keluar dari pemakaman, ia memegang tanganku, lalu berkata, “maukah engkau aku beri kabar gembira wahai Abi Sinaan?”, Kujawab, “tentu saja mau”. Lalu ia berkata, “telah menceritakan kepadaku adh-Dhohhaak bin Abdir Rahman bin ‘Arzab, dari Abu Musa al-Asy’ariy bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “jika seorang hamba ditinggal mati anaknya, maka Allah berfirman kepada MalaikatNya, “kalian telah mencabut nyawa anak hambaKu?”, Mereka berkata, “benar”, lanjut Allah, “kalian mencabut nyawa buah hatinya?”, Mereka menjawab, “benar”, Allah melanjutkan, “lalu apa yang dikatakan oleh hambaKu?”, Mereka menjawab, “ia memujiMu dan beristirja’ (mengucapkan Innaa lillahi wa innaaa ilaihi raaji’uun)”, maka Allah menitahkan : “bangunkanlah untuk hambaKu sebuah rumah di surga, dan namakanlah Baitul Hamdi (rumah pujian).”

Kedudukan sanad :

Al-Imam al-Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 1408) memberikan penilaian untuk sanad ini :

قلت: ورجاله ثقات غير ابن عرزب فهو مجهول

“Para perawinya tsiqot, selain Ibnu ‘Arzab maka ia adalah perawi majhuul.”

Akan tetapi jika kita merujuk kepada penilaian Al Hafizh Ibnu Hajar, justeru ibnu ‘Arzab yaitu adh-Dhohhaak bin Abdur Rahman bin ‘Arzab, beliau tsiqohkan dalam “at-Taqriib” dan tidak ada kritikan terhadapnya dari duo muhaqiqin handal abad ini yaitu DR. Basyaar ‘Awwaad dan Syu’aib Arnauth. Sependek informasi biografi terhadapnya yang saya dapatkan, Ibnu ‘Arzaab hanya ditsiqohkan oleh Imam al-Ijliy dan Ibnu Hibban rahimahumullah. Telah ma’ruf bagi pengkaji hadits terutama yang mengamati kajian takhrij al-Albani rahimahullah bahwa al-Ijliy dan Ibnu Hibban digolongkan sebagai orang-orang yang mutaasahil dalam tautsiq.

Kemudian malah Abu Sinaan yang nama aslinya Isa bin Sinaan dan Abu Thalhah al-Khoulaaniy ini yang bermasalah. Abu Sinaan dinilai “layyin” oleh Al Hafizh sedangan Abu Thalhah dinilai “maqbul” yang artinya juga hampir mirip dengan layyin. Barangkali asy-Syaikh al-Albani lebih melirik pentsiqohan Imam Yahya bin Ma’in terhadap Abu Sinaan. Adapun Abu Thalhah, maka saya belum bisa mendapatkan alasan tautsiq terhadapnya karena yang memberikan tautsiq -fiimaa na’lam- adalah hanya Imam Ibnu Hibban dan asy-Syaikh al-Albani sudah mengetahui kualitas tautsiqnya.

Alhasil sanad hadits ini dhoif, sekalipun kedhoifannya ringan.

Namun al-Imam al-Albani rahimahullah memiliki penguat yang dari kitab hadits yang banyak penuntut ilmu asing dengannya, yaitu dari kitab “ats-Tsaqofiyyaat” (2/15/3) karya al-Imam ats-Tsaqofiy melalui jalan :

عن عبد الحكم بن ميسرة الحارثي أبي يحيى حدثنا سفيان عن علقمة بن مرثد عن أبي بردة عن أبي موسى الأشعري مرفوعا

Kedudukan sanad :

Al-Imam al-Albani rahimahullah memberikan penilaian sanad ini :

ورجالها ثقات غير الحارثي أبي يحيى فهو ضعيف كما قال الدارقطني

“Para perawinya tsiqoh, selain al-Haaritsiy Abi Yahya, maka ia adalah perawi dhoif, sebagaimana disampaikan oleh ad-Daruquthni.”

Kemudian al-Imam al-Albani memberikan penilaian akhir untuk hadits yang kita bahas ini :

فالحديث بمجموع طرقه حسن على أقل الأحوال

“Hadits ini dengan penggabungan jalan-jalannya adalah hasan untuk kondisi minimalnya.”

Sebelum al-Imam Tirmidzi setelah membawakan hadits diatas, beliau juga memberikan penilaian Hasan Ghoriib, asy-Syaikh al-Albani berhusnuzhon kepada beliau bahwa hasan karena dikuatkan oleh riwayat ats-Tsaqofiy ini.

Berdasarkan kaedah penguatan hadits dengan penggabungan jalan-jalannya, maka tidak berlebihan jika hadits ini dinilai HASAN LIGHORIHI. Wallahu A’lam.

Abu Sa’id Neno Triyono
Baca Juga