Siapa Wali Nikah Anak Perempuan Hasil Zina?

Iklan Semua Halaman

Siapa Wali Nikah Anak Perempuan Hasil Zina?

Admin
Kamis, 16 April 2020

Asianmuslim.com - Siapa wali nikah anak perempuan hasil zina? Pertama-tama harus kita fahami bahwa menurut pendapat yang terkuat mengenai nasabnya adalah anak zina tidak dinasabkan kepada bapak biologisnya, sekalipun setelah itu bapaknya menikahi ibunya secara resmi. Al-'Alamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :

"Adapun anak yang lahir dari perzinaan, maka ia adalah anak bagi ibunya, bukan anak bagi bapaknya, berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

الولد للفراش وللعاهر الحجر

"Anak itu bagi pemilik ranjang, sedangkan bagi pezina adalah batu."

"Al-'Aahir" adalah pezina yakni ia tidak punya, ini adalah makna hadits diatas, jika ia menikahi ibunya setelah bertaubat, maka anak yang lahir dari air pertama, bukanlah sebagai anaknya, ia tidak menerima warisan darinya yaitu anak hasil zina, sekalipun diklaim ia adalah anaknya, karena sebenarnya ia bukan anaknya secara syar'i." -selesai-.

Jika anak zina tidak ditetapkan memiliki nasab kepada bapak biologisnya, maka ia pun tidak memiliki 'ashobah (ahli waris) yaitu kerabat laki-laki dari sisi ayahnya. Penulis kitab "Asnaa al-Mathaalib" (dalam mazhab Syafi'i) (XIII/288) berkata :

ولا عصبة لولد الزنا لانقطاع نسبه من الأب

"Tidak ada 'Ashonah untuk anak zina, karena terputusnya nasab dari bapaknya." -selesai-.

Sebagian ulama mengatakan dalam masalah warisan ia punya 'ashobah (bagian) warisan dari sisi ibunya saja, tetapi untuk masalah wali pernikahan, ia tidak memiliki ashobah dari ibunya. Penulis kitab "al-Iqnaa`" (dalam mazhab Hanbali) (IV/505) berkata :

وعصبته [أي : ولد الزنا] عصبة أمه في إرث فقط ... فلا يثبت لهم ولاية التزويج ولا غيره

"Ashobahnya (yaitu bagi anak zina) adalah ashobah dari sisi ibunya dalam masalah warisan saja...., Tidak tetap baginya wali pernikahan dan selainnya." -selesai-.

Wali nikah itu adalah hanya terbatas pada ashobah (baca kerabat) laki-laki dari pihak Ayah. Imam bin Baz rahimahullah pernah berfatwa :

وإنما وليها في النكاح العصبة، أبوها إذا وجد، ثم ابنها إن كان لها بنون

"Hanyalah yang menjadi wali nikah itu adalah 'Ashobah (dari pihak bapak), yaitu bapak sang mempelai wanita jika ada, lalu anak laki-lakinya, jika ia punya anak .....".

Oleh sebab itu, berarti sang wanita hasil kesalahan orang tuanya yang berzina tidak punya wali, maka dalam kondisi seperti ini, walinya adalah wali hakim, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

السلطان ولي من لا ولي له

"Sulthan adalah wali bagi orang yang tidak punya wali." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani).

Imam bin Baz rahimahullah berkata :

فإذا كان ما لها أقارب عصبة فوليها الحاكم القاضي يزوجها لأنه نائب السلطان

"Jika sang wanita tidak punya kerabat ashobah, maka walinya adalah hakim, yang menikahkannya, karena ia adalah wakil sulthan."

Lantas bagaimana jika ia tinggal di negeri yang tidak punya hakim Muslim, maka asy-Syaikh Sholih al-Munajid hafizhahullah berkata :

فإن كانت في بلد ليس فيه حاكم مسلم فوليها مدير المركز الإسلامي في بلدها ، فإن لم يكن فإمام الجامع .

"Jika ia tinggal di negeri yang tidak ada hakim muslim, maka walinya adalah direktur markaz Islam di negerinya, jika tidak ada juga, maka Imam masjid Jaami'."

Penulis; Abu Sa'id Neno Triyono
Baca Juga