Hukum Membaca Qunut Shalat Witir Ramadhan maupun Selain Ramadhan

Iklan Semua Halaman

Hukum Membaca Qunut Shalat Witir Ramadhan maupun Selain Ramadhan

Admin
Kamis, 07 Mei 2020

Asianmuslim.com - Sebelum membahas inti dari tulisan ini terlebih dahulu kita awali dengan satu persoalan yang berkaitan dengan shalat witir, yaitu Apakah Disyaratkan Shalat Witir Didahului Dengan Shalat Genap?

Apakah seseorang yang melakukan shalat witir satu rakaat, tiga rakaat, atau rakaat lainnya, cukup baginya mengerjakan itu saja tanpa harus didahului shalat sunnah lainnya? Dalam hal ini ulama Malikiyah –dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Syafi'i– menyatakan bahwa witir satu rakaat tidak dikerjakan kecuali setelah melakukan shalat sunnah dengan rakaat genap. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini berdasarkan hadits:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan apabila khawatir datangnya Subuh - yang telah dekat - maka cukup mengerjakan shalat witir satu rakaat untuk mengakhiri shalat malamnya”

Ulama Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa shalat witir dengan satu rakaat dibolehkan, namun mereka mengatakan bahwa witir hanya dengan satu rakaat itu bertentangan dengan keutamaan, dan batas minimal witir yang sempurna adalah tiga rakaat.

Penulis Berkata: Pendapat yang membolehkan shalat witir tanpa didahului shalat sunnah sebelumnya, mungkin pendapat mereka berlandaskan atas hadits di bawah ini:

Hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ النَبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُوْمُ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوهُ , ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعنَاهُ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ ، فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ، فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ ، وَ صَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْل صَنِيْعهُ الأوَّلُ ، فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ

“Kami biasa menyediakan siwak bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau bersiwak dan berwudhu’ lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (tasyahud) melainkan pada rakaat yang ke delapan, lalu berdzikir kepada allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangun dengan tidak mengucap salam dan berdiri mengerjakan rakaat yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (tahiyat) seraya berdzikir kepada allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya. Kemudian beliau shalat dua rakaat seusai salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk. Dengan demikian beliau mengerjakan sebelas rakaat wahai anakku. Namun ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beranjak usia dan berat badan beliau pun bertambah, beliau hanya mengerjakan witir dengan tujuh rakaat, lalu melakukan shalat dua rakaat sebagaimana sebelumnya –aku jelaskan kepadamu– dengan demikian beliau mengerjakan sembilan rakaat wahai anakku.”

Apakah Disyaratkan Shalat Witir Didahului Dengan Shalat Genap?

Apakah seseorang yang melakukan shalat witir satu rakaat, tiga rakaat, atau rakaat lainnya, cukup baginya mengerjakan itu saja tanpa harus didahului shalat sunnah lainnya? Dalam hal ini ulama Malikiyah –dan juga salah satu pendapat dalam madzhab Syafi'i– menyatakan bahwa witir satu rakaat tidak dikerjakan kecuali setelah melakukan shalat sunnah dengan rakaat genap. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini berdasarkan hadits:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan apabila khawatir datangnya Subuh –yang telah dekat– maka cukup mengerjakan shalat witir satu rakaat untuk mengakhiri shalat malamnya”

Ulama Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa shalat witir dengan satu rakaat dibolehkan, namun mereka mengatakan bahwa witir hanya dengan satu rakaat itu bertentangan dengan keutamaan, dan batas minimal witir yang sempurna adalah tiga rakaat.

Penulis Berkata: Pendapat yang membolehkan shalat witir tanpa didahului shalat sunnah sebelumnya, mungkin pendapat mereka berlandaskan atas hadits di bawah ini:

Hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ النَبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةٌ عَلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْت

"Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam dan aku tidur melintang di atas kasur beliau. Dan saat Rasulullah hendak melaksanakan shalat witir, beliau membangunkanku lalu aku pun mengerjakan shalat witir.”

Secara jelas dalam hadits ini menerangkan bahwa Aisyah radhiallahu 'anha melaksanakan shalat witir tanpa didahului sebelumnya dengan shalat sunnah yang rakaatnya genap.

Hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha yang telah dipaparkan sebelumnya tentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang mengerjakan shalat witir tujuh dan sembilan rakaat, kemudian setelah itu beliau mengerjakan shalat malam dua rakaat dalam posisi duduk… (hadits). Yang dapat dipahami dalam hadits tersebut bahwa shalat witir dilakukan terlebih dahulu sebelum shalat malam, dengan demikian ini merupakan dalil bahwa shalat witir tidak disyaratkan dalam melaksanakannya untuk didahului dengan shalat sunnah yang memiliki rakaat genap. Wallahu A'lam.

Hukum Membaca Qunut Dalam Shalat Witir

Kata "Qunut" memiliki beberapa makna di antaranya; berdiri, diam, ibadah yang rutin, doa, tasbih dan kekhusyu'an. Sedangkan dalam istilah Fikih, kata "Qunut" adalah; sebutan untuk doa ketika shalat, dalam posisi tertentu saat berdiri.

Menurut jumhur ulama –yang berbeda dengan pendapat Imam Malik–, bahwa secara global membaca qunut ketika witir adalah hal yang dibenarkan secara syari'ah. Namun mereka kemudian berbeda pendapat mengenai status qunut tersebut apakah wajib atau dianjurkan, lalu apakah dibaca kapan saja atau hanya ketika Ramadan saja, dan apakah qunut dibaca sebelum ruku' atau sesudahnya, serta bacaan apa yang disunnahkan ketika membaca qunut?

Keterangan yang shahih adalah sebagai berikut:

1. Dianjurkan membaca qunut –sesekali– di setiap waktu (ketika Ramadhan maupun tidak)

Hal ini berlandaskan hadits riwayat Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhuma, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajariku doa-doa –qunut– yang dibaca ketika dalam witir:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، فإِنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

"Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menentukan atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engaku beri kekuasaan. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi").

Dan juga dalam riwayat Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika shalat witir kemudian beliau membaca doa qunut sebelum ruku'.”

Sedangkan apa yang kami katakan bahwa kadang dianjurkan membaca qunut ketika witir, karena para sahabat yang meriwayatkan hadits tentang shalat witir mereka tidak menyebutkan doa qunut di dalamnya. Sendainya saja Rasulullah melakukan qunut ketika witir secara terus-menerus, tentunya seluruh sahabat yang meriwayatkan hadits tentang witir turut menukilkan doa qunut di dalamnya. Benar, bahwa Ubay bin Ka'ab sendiri telah meriwayatkan hal tersebut (qunut ketika witir), namun dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kadang melakukannya –dan kadang meninggalkannya– dan menunjukkan juga bahwa hal tersebut tidaklah wajib, sebagaimana pendapat jumhur yang berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.

2. Membaca doa qunut dalam shalat witir lebih utama dilakukan sebelum ruku' dan setelah membaca –ayat Al-Qur`an–.

Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu saat melaksanakan shalat witir kemudian beliau membaca doa qunut sebelum ruku'.”

Diriwayatkan dari 'Ashim radhiallahu 'anhu ia berkata:

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنِ القُنُوتِ، فَقَالَ: "قَدْ كَانَ القُنُوتُ" قُلْتُ: قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ؟ قَالَ: "قَبْلَهُ"، قُلْتُ: فَإِنَّ فُلاَنًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَقَالَ: "كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا، أُرَاهُ كَانَ بَعَثَ قَوْمًا يُقَالُ لَهُمْ القُرَّاءُ، زُهَاءَ سَبْعِينَ رَجُلًا، إِلَى قَوْمٍ مِنَ المُشْرِكِينَ دُونَ أُولَئِكَ، وَكَانَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ، فَقَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ

"Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut. Lalu ia menjawab, "Sesungguhnya qunut itu ada," aku pun bertanya kembali, "Sebelum ruku’ atau setelahnya?". Ia menjawab, "Sebelumnya." Aku lalu berkata, "Sesungguhnya si Fulan telah mengabariku darimu, bahwa kamu mengatakan –jika qunut itu– sesudah ruku’. Anas menjawab, "Bohong!, hanyasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukan qunut sesudah ruku’ selama satu bulan, aku lihat beliau mengutus satu kaum bernama Al-Qurra' kira-kira sebanyak 70 orang kepada kaum musyrikin kemudian mereka membunuhnya, kaum musrikin tersebut ada perjanjian damai dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah selama sebulan membaca qunut dan berdoa agar ditimpakan laknat kepada mereka (kaum musyrikin yang mengingkari janji)."

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/569) berkata, "Kesimpulan dari apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan –antara ulama– jika qunut yang dikarenakan keperluan (qunut nazilah) dilakukan setelah ruku'. Sedangkan selain qunut nazilah, maka yang tepat adalah dilakukan sebelum ruku'. Namun terdapat perbedaan antara sahabat dalam penerapannya. Namun pada dasarnya, ini merupakan perbedaan yang dibolehkan".

Terdapat juga hikayat lainnya dari Abdurrahman bin Aswad dari ayahnya yang berkata, "Abdullah bin Mas'ud tidak pernah melakukan qunut ketika shalat apapun, kecuali di dalam shalat witir –yang dilakukan– sebelum ruku'"

3. Doa yang disunnahkan untuk dibaca ketika qunut

Disunnahkan untuk membaca doa –ketika qunut dalam shalat witir– dengan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yaitu "Allahummahdini Fiiman Hadait…". Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dan dibolehkan ketika qunut membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat. Seperti Ubay bin Ka'ab saat mengimami shlat jamaah di bulan Ramadhan. Juga seperti Abu Halimah yang mengimami Mu'adz al-Anshari, yaitu salah satu yang diperintahkan Umar bin Khattab untuk mengimami tarawih.

4. Tidak termasuk ajaran sunnah memanjangkan doa qunut.

Karena doa qunut ketika witir yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Hasan bin Ali radhiallahu 'anhuma singkat dan tidak panjang.

5. Bolehkah meliuk-liukkan suara ketika doa qunut?

Sepengetahuan penulis, tidak ada riwayat yang dinukil dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam maupun para sahabat yang meliuk-liukkan suara ketika membaca doa; baik qunut maupun yang lainnya. Maka penulis khawatir apa yang dianggap baik oleh para imam –masjid– di zaman ini merupakan sesuatu yang baru –dalam agama–

Ibnu Humam berkata, "… Saya tidak menemukan alasan yang membenarkan adanya nada yang berliuk ketika doa –sebagaimana yang dilakukan para qari di zaman ini– dari orang-orang yang paham hakikat doa dan memohon. Tidak lebih hal itu merupakan main-main. Hal ini jika kita rujuk ke dalam dunia nyata, seseorang yang meminta keperluan kepada orang yang punya, lalu dalam permintaannya tersebut ia menggunakan harmoni nada; dengan mengangkat suaranya, lalu menurunkannya, mendekatkan dan mengembalikan suaranya layaknya orang yang bernyanyi, maka itu akan dinilai sebagai bentuk penghinaan dan main-main. Karena seharusnya meminta itu dengan tunduk-khusyuk, bukan dengan bernyanyi.

6. Dianjurkan mengangkat kedua tangan saat melakukan doa qunut

Sebagaimana dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma saat menceritakan tentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang mendoakan korban meninggal dari kaum al-Qurra'. Anas berkata,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ

“Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam setiap kali shalat Subuh, beliau –membaca qunut– seraya mengangkat kedua tangan beliau mendoakan agar mereka ditimpakan laknat (yaitu para pembunuh Qurra' tersebut)”

Demikian juga riwayat Abu Rafi' ia berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّاب رَضِيَ اللَّهُ عَنْه فَقَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ ، وَجَهرَ بِالدُّعَاء

“Aku shalat di belakang Umar bin Khattab lalu dia membaca qunut setelah ruku' seraya mengangkat kedua tangannya dan melantangkan suaranya.”

Juga apa yang dilakukan Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa ia mengangkat kedua tanggannya ketika membaca qunut saat bulan Ramadhan.

7. Tidak disyariatkan mengusap wajah dan dada dengan kedua tangan selepas qunut

Karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Seperti apa yang dituturkan Imam Baihaqy dalam "sunan"nya (2/212) “adapun mengusapkan kedua tangan pada wajah setelah selesai membaca doa, maka aku tidak pernah menghafalnya dari seorang salafpun berkenaan dengan doa qunut.”

Penulis Berkata: demikian juga, tidak ada satu pun hadits shahih tentang mengusap wajah setelah berdoa diluar shalat. Syaikhul Islam berkata (12/519) "adapun mengusap wajah dengan kedua tangan, maka hal tersebut tidak terdapat hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melainkan satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan landasan dalil. Wallahu A'lam".

Membaca Tasbih Dan Doa Setelah Shalat Witir

Dianjurkan setelah usai mengerjakan witir untuk bertasbih. Sebagaimana dalam riwayat Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْرَأُ فِي الوِتْرِ بِـ [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى] ، وَ[قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ] ، وَ[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ] فَإِذَا سَلَّمَ ، قَالَ : سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat witir, beliau membaca surat [Sabbihisma Rabbika-l-A'la] lalu [Qul Ya Ayyuhal-Kafirun] dan [Qul Huwallahu Ahad]. Dan seusai salam beliau membaca, "Subhanal-Malikul-Quddus" sebanyak tiga kali.”

Dan juga hadits riwayat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seusai mengerjakan witir beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu –agar selamat– dari murka-Mu, dan dengan ampunan-Mu –agar terhindar– dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu sendiri.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (1427), At-Tirmidzi (3566), An-Nasa`i (1/252), dan Ibnu Majah (1179). Shahih]. Wallohu a'lam.

Demikian penjelasan seputar hukum qunut shalat witir ramadhan maupun di luar ramadhan. Semoga tulisan ini membantu anda yang sedang mencari referensi yang tepat dalam mengulas masalah qunut witir. Semoga bermanfaat.
Baca Juga