Inilah 10 Adab Jiwa Saat Membaca Al-Quran menurut Imam Ghozali

Iklan Semua Halaman

Inilah 10 Adab Jiwa Saat Membaca Al-Quran menurut Imam Ghozali

Admin
Senin, 18 Mei 2020

Asianmuslim.com - Sebagai kalamullah, Alquran memiliki kedudukan yang mulia. Berisi firman Alloh yang Maha Mulia, diturunkan melalui perantara malaikat terbaik, Jibril alaihissalam, lalu diberikan kepada manusia dan rasul terbaik, Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur'an adalah Satu-satunya mukjizat yang tak lekang dimakan oleh waktu.

Maka dengan segala kemuliaan yang melekat padanya sudah sewajarnya bagi kita menjaga adab saat membacanya. Dan diantara adab terpenting membaca Qur'an adalah adab bathiniyah atau yang berkaitan dengan hati dan akal. Dan berikut ini 10 adab batin menurut hujjatul islam imam Ghazali rahimahullah.

1. Fahm ashl al-kalam


Apa itu fahm ashl al-kalam? Yaitu memahami akan keagungan kalamullah. Hendaknya kita memahami keagungan dan ketinggian kalam-Nya. Menyadari kasih sayang dan kelembutan-Nya atas hamba-hamba-Nya yang mana dengan hal itu Allah ta’ala menurunkan keagungan kalam-Nya kepada derajat yang dapat difahami oleh makhluk-Nya. Kalaulah bukan karena hakikat keagungan kalamullah tertutup pakaian huruf, tentulah Arsy ataupun bintang-bintang tak kuat mendengarnya, lebih dari itu tentulah keduanya akan hancur lebur bagai Gunung Thur Sina saat Musa alaihissalam hendak melihat-Nya.

2. At-ta’dhim lil mutakallim


At-ta'dhim lil mitakallim berarti mengagungkan Allah sebagai dzat yang berfirman. Seseorang yang membaca Al-Quran hendaknya semenjak awal menghadirkan keagungan Allah ta’ala sebagai dzat yang berfirman dalam hatinya. Menyadari bahwa apa yang sedang dibaca bukanlah perkataan manusia. Juga harus mengetahui adanya konsekwensi besar dalam membacanya karena Allah ta’ala berfirman:

لَا يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُون

“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS: Al-Waqi’ah : 79)

Maka sebagaimana sampul mushaf dan kertasnya yang tak boleh disentuh sembarang orang kecuali orang-orang yang bersuci maka kandungan maknanya pun tak dapat difahami kecuali oleh hati yang bersih dan bercahaya dengan cahaya pengagungan kepada-Nya. Maka tidak heran jika Ikrimah bin Abi Jahl pingsan ketika diberi mushaf dan berkata, “Ia kalam tuhanku, ia kalam tuhanku.”

Dan cara menghadirkan pengagungan terhadap kalamullah adalah dengan terlebih dulu menghadirkan pengagungan kepada pemilim kalam, yaitu Allah ta’ala. Dengan merenungi ciptaannya mulai dari Arsy, kursi, langit, bumi, jin, manusia, hewan, tumbuhan. Memahami bahwa Dzat yang kuasa menciptakannya Dialah yang memberi rizki seluruh makhluknya, melingkupi mereka semua dengan rahmat ataupun adzab. Nikmat-Nya murni karena pemberian-Nya sedangkan adzabnya murni karena keadilan-Nya. Dengan merenungi hal-hal tersebut akan tumbuh pengagungan kepada Allah ta’ala, selanjutnya akan tumbuh pengagungan terhadap kalamullah.

3. Hudhurul qolb wa tark hadits an-nafs


Yaitu Menghadirkan hati serta meninggalkan bisikan dalam diri. Allah ta’ala berfirman:

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

“Wahai Yahya, ambillah Kitab itu dengan kuat.”
Dikatakan bahwa tafsir makna kuat adalah dengan usaha yang kuat, bersungguh sungguh. Maka maksud mengambilnya dengan usaha yang kuat ialah dengan memfokuskan pikiran hanya padanya dan melepaskan diri dari segala hal selainnya. Dahulu sebagian salaf ketika membaca ayat Al-Quran dan merasa hatinya tidak hadir, mereka mengulangi lagi bacaannya.

4. Tadabbur


Apa itu tadabbur? Yaitu memahami makna bacaan. Disebabkan hal inilah disunnahkan bagi kita membaca Al-Quran dengan tartil sehingga dapat mentadabburi kandungannya. Ali bin Abi Thalib berkata:

لَا خَيْرَ فِي عِبَادَةٍ لاَ فِقْهَ فِيْهَا وَلاَ فِي قِرَاءَةٍ لاَ تَدَبُّرَ فِيهَا

“Tidak ada kebaikan pada ibadah yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan pula pada bacaan yang tidak ada tadabbur di dalamnya.”

5. Tafahhum


Diantara adab quran adalah tafahhum yakni menyelam-renungi kandungan ayat. Yaitu memahami secara jelas apa kandungan dari ayat yang dibaca. Dimana di dalamnya terkandung banyak hal, seperti penyebutan sifat-sifat dan af’al Allah ta’ala, penyebutan kisah para nabi, keadaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ta’ala dan bagaimana kehancuran mereka, tentang berbagai perintah dan larangan-Nya, tentang perkara Surga dan Neraka.

Sebagai misal, Allah menunjukkan sifat-Nya dalam ayat:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيم

“Tiada satupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. As-Syuro : 11)

Atau yang menjelaskan tentang af’al-Nya seperti ayat-ayat yang mengandung makna Allah ta’ala lah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dst. Dan seharusnya ketika kita mendengar ayat tentang penciptaan manusia dari setetes mani, kita tidak hanya merenungi air mani tapi juga merenungi bagaimana prosesnya hingga menjadi daging, tulang, urat nadi, otot. Dan bagaimana ia berproses menjadi bentuk-bentuk yang berbeda seperti kepala, tangan, kaki, jantung, hati, dst. Kemudian ia dapat memiliki kemampuan yang luar biasa seperti pendengaran, penglihatan, mempu berfikir, dst. Begitu juga dapat memiliki sifat buruk seperti syahwat, sombong, bodoh, ingkar, dst. Maka dengan merenungi keajaiban-demi keajaiban tersebut kita akan menyadari dan mengagungkan sifat Pencipta dari keajaiban itu yaitu Allah ta’ala.

Ketika mendengar ayat tentang kisah para nabi, bagaimana mereka didustakan, disiksa, bahkan sebagian dibunuh, kita memahami sifat-Nya yang sedikitpun tak membutuhkan makhluk. Ketika kita mendengar kisah pertolongan-Nya bagi nabi-Nya, kita memahami sifat Maha Kuasa Allah ta’ala dan bahwa Allah ta’ala pasti akan membela mereka yang benar.

Dan begitulah pula seharusnya kita merenungi ayat-ayat Allah ta’ala yang lain.

6. At-Takholli ‘an mawani’ al-fahm


Saat membaca Al quran bersihkan diri dari hal-hal yang menghalangi perenungan. Perkara-perkara yang menghalangi pemahaman ada empat;

Pertama, berlebihan dalam memfokuskan diri memastikan keluarnya huruf dari makhrojnya. Dimana sikap ini sampai pada derajat mengulang-ulang bacaan karena merasa belum menepati makhroj hurufnya. Hal demikian membuat tujuan membacanya hanya tertuju pada ketepatan makhroj saja, lantas bagaimana ia dapat menyelami kandungan bacaannya?

Kedua, mencukupkan diri untuk taklid madzhabnya padahal ia memiliki kemampuan dan perangkat-perangkat keilmuan syar’i untuk memahami makna Al-Quran.

Ketiga, terus-menerus bergelimang dosa, memiliki sifat sombong, dikuasai hawa nafsu, tunduk pada dunia. Hal ini adalah tirai terbesar yang menutupi hati seorang hamba dari makna Al-Quran. Karena hati bagaikan cermin, syahwat bagaikan noda dan makna Al-Quran bagaikan pantulan gambar yang ada dalam cermin. Maka semakin banyak dan menumpuknya noda di cermin semakin kabur pantulan gambar di dalamnya.

Keempat, telah membaca tafsir tertentu dan meyakini makna di dalamnya hanyalah sebagaimana apa yang tertulis di tafsir tersebut dan menutup kemungkinan memiliki makna selain itu.

7. At-takhshis


Apa itu takhshis? At-takhshis adalah merasa bahwa ayat-ayat tertuju pada dirinya. Ketika mendengar perintah atau larangan ia merasa dirinyalah yang diperintah dan dirinyalah yang dilarang. Begitu juga ketika mendengar ganjaran pahala dan adzab yang Allah ta’ala janjikan. Begitu juga ketika membaca kisah orang terdahulu atau para nabi, ia menyadari kisah itu bukan sekedar untuk diceritakan tapi untuk diambil pelajarannya. Muhammad bin Ka’ab berkata, “Barang siapa yang telah sampai kepadanya Al-Quran seakan-akan Tuhannya sedang berbicara kepadanya.”

8. At-taatstsur


At-taatsur atinya terpengaruh oleh ayat yang dibaca. Keterpengaruhan seorang hamba dengan ayat yang dibaca dilihat dari kesesuaian keadaannya dengan ayat yang sesang dibaca. Ketika membaca ayat tentang ancaman ia menunduk penuh ketakutan seakan hendak mati. Ketika membaca ayat tentang luasnya ampunan dan rahmat ia melayang bagai burung karena rasa bahagianya. Ketika membaca ayat tentang sifat dan nama Allah ta’ala ia merendahkan diri di hadapan keagungan-Nya dan menyadari keperkasaan-Nya. Ketika membaca ayat tentang perkataan keji orang-orang kafir terhadap Allah ta’ala, dengan perkataan: memiliki anak atau istri, ia melirihkan bacaannya karena malu mengucapkan kata tak pantas itu. Ketika membaca ayat tentang surga hatinya merekah rindu hendak memasukinya. Ketika membaca ayat tentang neraka dadanya berdegub kencang karena takut.

Maka daripada itu Yusuf bin Asbath berkata, “Sungguh aku bersedih karena membaca Al-Quran, ketika aku membaca apa yang ada di dalamnya aku takut akan murka-Nya. Maka aku mengganti bacaan Al-Quran ku dengan bertasbih dan beristighfar.”

Allah ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْن

“Mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya. Dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal.” (QS: Al-Anfal : 2)

9. Taraqqi


Apa itu taraqqi? Taraqi artinya merasa seakan mendengar ayat dari Allah ta’ala langsung, bukan dari lisannya. Berkata Ja’far bin Muhammad ash-Shodiq ketika ditanya apa yang membuatnya tak sadarkan diri di tengah-tengah sholat, “Saat itu aku terus mengulang-ngulang ayat dalam hatiku hingga aku seakan mendengarnya langsung dari tuhanku, hingga tubuhku tak mampu berdiri tegak karena menyaksikan ke-MahaKuasa-an-Nya.”

10. Tabarri


Setelah melakukan 9 adab diatas selanjutnya adalah berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya. Berlepas diri dari merasa benar dan merasa suci. Ketika membaca ayat tentang pujian dan ganjaran kepada orang-orang sholeh ia tidak merasa dirinya termasuk di dalamnya. Akan tetapi dia berharap disatukan Allah ta’ala ke dalam golongan mereka. Dan apabila membaca ayat tentang murka-Nya, celaan terhadap pelaku maksiat dan orang-orang yang lalai ia merasa dirinya termasuk ke dalam orang-orang yang sedang dibicarakan.

Maka dari itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku memohon ampun atas kedzolimanku dan kekufuranku.” Maka ada yang bertanya kepadanya, “Ini kedzoliman (aku tahu) lalu bagaimana dengan kekufuran?” Lantas Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan sebuah ayat,

إِنَّ الإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كُفَّارٌ

“Sungguh manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (kufur nikmat Allah).” (QS: Ibrahim : 34)

Suatu ketika Yusuf bin Asbath ditanya, “Ketika engkau membaca Al-Quran apa yanv engkau munajatkan?” Beliau menjawab, “Aku beristighfar atas kelalaianku tujuh puluh kali.

Demikian uraian dari kalam imam Al-Ghazali mengenai adab-adab membaca Al-Qur'an dari segi bathin yang berjumlah 10 point. Semoga kita dimudahkan oleh Alloh untuk mengamalkannya. Sehingga alquran memberikan pengaruh positif dalam kehidupan kita. Aamiin.

Source: Hidayatullah
Baca Juga